ketika idealisme itu telah habis

Mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional ketika kuliah, belakangan kuketahui sebagai sebuah “kesalahan”. Berbeda dengan disiplin ilmu lain seperti Ekonomi, Bahasa, atau Teknik yang lebih “membumi” dan bisa diterapkan, HI adalah sebuah awan yang mengambang di langit. Belajar mengenai Sejarah Sosial dan Politik Indonesia, politik dan pemerintahan negara-negara di dunia, atau membandingkan sistem Demokrasi dengan Sosialisme, atau mempelajari sistem perekonomian internasional dan kapitalisme yang hampir tidak pernah lebih menguntungkan negara dunia ketiga. Semua masalah yang diakui oleh seorang dosenku, ini adalah persoalan post-perut. Maksudnya, orang (Indonesia) tidak perlu membicarakan demokrasi atau bagaimana para kapitalis itu mengeruk kekayaan alam Indonesia, selama mereka masih memikirkan bagaimana meletakkan makanan di atas meja setiap hari. Ilmu HI terlalu fancy dan secara tidak sadar menumbuhkan rasa idealisme pada diriku sebagai penduduk negara dunia ketiga.

Setelah bekerja, aku “mengkhianati” idealismeku sendiri dengan bekerja untuk perusahaan asing (aka kapitalis yang dulu kubenci itu). Aku membela diriku sendiri dengan mengatakan bahwa Indonesia akan sulit juga tanpa investasi asing, dan toh investasi membuka ribuan lapangan pekerjaan bagi penduduk Indonesia. Meskipun aku tahu bahwa gaji kami tak lebih uang jajan para expat itu, atau bahkan uang jajan anaknya yang sekolah di international school. Meskipun setelah berkunjung ke site, aku baru menyadari bahwa Indonesia benar-benar kaya, dengan emas hitam yang seakan tak pernah habis. Dan apa yang dulu kami diskusikan dengan seru di mata kuliah Ekonomi Politik Internasional benar-benar kulihat dengan mataku sendiri. Aku masih membela diri dengan, yah, bagaimanapun banyak penduduk Indonesia mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya karena bekerja disini. Pembelaan diri berakhir dengan kesimpulan idealisme tidak akan memberi kita makan.

Sedikit idealisme masih tersisa, karena aku berada di divisi yang (seharusnya) memberikan kontribusi kepada masyarakat. Posisi yang seharusnya berada di tengah-tengah, bahwa ini bukan sekedar bekerja mencari uang, tapi menjadi agen yang memberikan sedikit dari apa yang telah diperoleh perusahaan. Nyatanya, disini aku “belajar” banyak hal. Bahwa membuat Visi dan Misi dengan kata-kata yang sangat fancy  jauh lebih mudah daripada mengimplementasikannya. Bahwa kita seharusnya bertanggung jawab dengan slogan yang telah kita buat sendiri. Bahwa membuat perencanaan dengan berlembar-lembar kolom di excel penuh dengan warna-warni, terkadang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaannya. Atau lembar-lembar excel itu memang hanya dibuat saja. That’s the way it is.

Pada akhirnya, orang terlalu lelah untuk mengeluh, bahwa apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya, atau lebih jauh tidak sesuai dengan hati nuraninya. Karena kenyataannya, banyak orang yang tidak perlu sepusing itu. Tidak perlu punya keinginan atau tujuan, selama posisinya aman tak tergeser atau tergoyahkan. Toh keinginan dan idealisme tidak akan masuk kedalam penilaian. Buat saja penilaimu itu senang, tak perlu ambil pusing. Orang-orang yang tidak bisa menerima sistem itu, akan menyingkir. Sementara para pemain aman akan tetap berada disana karena idealismenya telah habis.

Kali ini aku seperti jatuh dari awan dan tersungkur ke tanah.  

telepon dan internet

Ternyata mengumpulkan semangat untuk menulis tidak mudah :( Sebenarnya ada banyak hal terjadi tetapi tidak yakin apakah cukup layak untuk ditampilkan di blog. Atau setidaknya apakah aku bisa mengemas cerita-cerita itu menjadi bacaan yang layak untuk dibaca :twisted:

Saat ini aku sudah tepat dua minggu kembali ke kantor Jakarta. Dan ada dua hal yang terjadi dengan fasilitas kantor yang kupakai. Pertama telepon. Mejaku terletak di pinggir jalan, dan tidak strategis. Jika ada orang lewat, mereka akan dengan mudah melihat ke layar notebook-ku yang memang menghadap jalan raya :( Sehingga, terlalu sering terlihat sedang browsing sangat tidak menguntungkanku. Aku pernah tertangkap basah sedang main game, dua menit sebelum jam satu siang. Jam satu adalah waktu istirahat habis. Sedang asyiknya bermain, sampai tidak sadar bahwa bapak Presdir yang gemuk itu sedang berdiri di belakangku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pas aku menoleh, hehe, aku hanya bisa tersenyum. BTW aku tidak merasa bersalah karena, toh aku tidak main game di jam kerja. Jam satu kurang dua menit, tetap saja belum jam satu :P

Kembali ke telepon. Di mejaku juga terdapat telepon yang juga menghadap jalan raya. Untungnya, berada di Dept. External Affairs membuatku mendapat akses telepon keluar secara tak terbatas. Sayangnya, selama aku berada di Sangatta, ada pihak-pihak yang memanfaatkan pesawat telepon itu untuk menelpon keluar semau mereka. Menurut rekan kerjaku, setiap hari tulisan “missed call” di layar telepon selalu hilang. Dan hal ini hanya bisa terjadi ketika ada orang yang memakai telepon itu. Kejadian itu berlangsung selama dua bulan, selama aku tak ada. Ketika dua minggu lalu aku datang, kulihat banyak nomor handphone tak ku kenal di “placed calls”.

Kemudian bosku memintaku untuk membuat untuk membuat PIN untuk teleponku untuk mencegah orang-orang memanfaatkannya. Meski beliau tidak menjelaskan apapun dibalik permintaan membuat PIN itu, tapi aku mengasumsikan bahwa sang Bapak telah diberitahu oleh Dept IT mengenai tagihan telepon dari nomor extention-ku selama dua bulan terakhir, mengingat bapak bosku bukan orang yang terlalu concern dengan masalah sejenis telpon ini. Saat ini nomor PIN telah jadi, dan hanya aku yang bisa memakainya untuk telepon keluar :D

Kedua, internet. Setelah diblokirnya akses terhadap web-web social network (friendster, facebook, multiply, flickr), video streaming (Youtube, download), chatting, job search (ya, akses ke Job Search pun di blok oleh IT), hari senin lalu Presdir yang baru mengeluarkan Memo yang intinya berisi; bahwa setelah ditelusuri aktivitas di internet terutama email di webmail (Yahoomail atau Gmail) mencapai angka yang cukup besar, menggunakan banyak bandwith, dan menghabiskan lebih dari US$ 55,000 pertahun untuk biaya akses internet. Keputusannya, mulai tanggal 1 Mei mendatang, semua akses internet akan dihapuskan :twisted: :twisted: Terkecuali untuk bos-bos besar, atau ada special request yang alasannya dapat diterima oleh Presdir untuk mendapatkan akses internet. Betapa kejamnya?? Lalu bagaimana dengan akses informasi? Apakah kami harus membongkar koran? Atau membuat kliping? Aneh sekali bukan? Foreign company without internet access.

Sepertinya mulai bulan depan, aku harus membayar sendiri akses internet dengan provider cellular. Sigh :twisted:

Posted in Work. 8 Comments »

leaving Sangatta, go to Jogja

After the seven weeks in Sangatta, i finally decided to see the Project Manager to give my report and have consultation about my progress of experiencing working with community. He responded well, and offered to give further assistance for my career development. He even offered me to be permanently in Sangatta if i think that working in Jakarta doesn’t give me so much opportunities and chances. I smiled when he said that.

 I was very enthusiastic of working in site and think that it would be much better than working in head office. After three visits accumulated to be 11 weeks, i decided NO for working in site. After consider many aspects of my life, i prefer working in Jakarta with all its limitation.

I consider access of information, my plan to search postgraduate scholarship with all the application process will be held in Jakarta, and access to see my family in central Java. Not only job consideration, but also the whole package of my life. If i have choices, i choose not to work in site for now.

Tomorrow i’ll be heading for my eight days field break. Leaving Sangatta, go to Jogja. I will take the last flight of Mandala from Balikpapan to Jogja. I need a break, i need a vacation. Good bye Sangatta, here i come Jogja :D

the seventh week

This is the seventh week i have been in Sangatta. A choice made by me, not by my boss or somebody else. Seventh week of working from 6 am until 5 pm (not to mention the time i have to wake up and sleep at night), six days a week. Anybody can tell me the effect of such rhythm of life to my health? Take a shower at 4.30 am in the morning, and get out in the dark? Tell me if you know. 

I found myself too ordinary, not different, and just the same as somebody else. But now, i don’t think so. The weeks teach me a lot. There are sleepless nights, exhaustion until felt that my body is getting falling apart, difficult people to deal with. Those things tell me that life needs efforts and obstacles keep coming in your life uninvited.

For some reasons, i have to stay here longer than i thought. We still have a critical problem with a community. My boss and the Project Manager have been arguing and they are on a different page to solve the problem. I can see that the condition (or maybe their relationship) getting awkward or love-hate relationship :D I’m who definitely nobody (not the decision maker) can only observe (or watch?) and wait for their decision.

I’m so envy seeing people happily facing their two weeks field break. I still have to wait for two weeks until have a rational reason to leave. I need to go home to keep my life and soul normal. I want to sleep eight hours or more uninterrupted. I need to go to a book store to keep update. I need to meet people whom i love and love me back.

Experiencing working in site increasing my obscurity for my career plan. I’m not sure what i want for my future career. My life goes nowhere. I still have no answers but i think the universe will answers my questions.

you’d better shut up!

if you had nothing good to say

you’d better shut up!

your scary attitude is contagious

leave me alone

and let me live in peace…..