leaving Sangatta, go to Jogja

After the seven weeks in Sangatta, i finally decided to see the Project Manager to give my report and have consultation about my progress of experiencing working with community. He responded well, and offered to give further assistance for my career development. He even offered me to be permanently in Sangatta if i think that working in Jakarta doesn’t give me so much opportunities and chances. I smiled when he said that.

 I was very enthusiastic of working in site and think that it would be much better than working in head office. After three visits accumulated to be 11 weeks, i decided NO for working in site. After consider many aspects of my life, i prefer working in Jakarta with all its limitation.

I consider access of information, my plan to search postgraduate scholarship with all the application process will be held in Jakarta, and access to see my family in central Java. Not only job consideration, but also the whole package of my life. If i have choices, i choose not to work in site for now.

Tomorrow i’ll be heading for my eight days field break. Leaving Sangatta, go to Jogja. I will take the last flight of Mandala from Balikpapan to Jogja. I need a break, i need a vacation. Good bye Sangatta, here i come Jogja :D

beberapa hal yang saya sukai di sangatta

Setelah tiga kali mengunjungi sangatta, aku menyimpulkan beberapa hal yang aku sukai di sangatta.

1. Tidak ada kemacetan,

Tinggal hampir dua tahun di Jakarta, dimana sampai saat ini masih misuh2 setiap kali terjebak kemacetan, tinggal di sangatta adalah sebuah relieved. Sangatta kota kabupaten yang ramai, meskipun demikian tidak sampai ada kemacetan. Selain itu, para pengendara, terutama yang bekerja di pertambangan merupakan pengendara yang baik. Saling memberi kesempatan, dan tidak ada ceritanya sopir seperti sopir metromini di ibukota.

 2. Lega.

Meski ramai, disini masih banyak ruang yang tersisa.  Ada sungai yang airnya mengalir deras, sudut penuh pepohonan yang sepi. Berbeda dengan Jkt yang di setiap sudut, dan mungkin kolong, ada manusianya. Sumpek, sempit.

3. Kabut dan udara segar

Karena berangkat kerja subuh-subuh, hampir setiap pagi kami bertemu dengan kabut dan udara dingin yang masih segar. Kecuali sudah sampai ke areal pertambangan yang sudah banyak kendaraan lalu lalang.

4. Burung-burung dan kupu-kupu yang beterbangan.

Indah sekali melihat burung-burung yang beterbangan seolah berkejaran. Kupu-kupu lalu lalang kemudian menghilang diantara rimbunnya daun-daun. Syukurlah masih ada tempat yang cukup nyaman untuk kalian :D

5. Ruang publik yang luas

Kalau di Jkt, jogging di pagi hari menjadi sesuatu yang mengerikan untukku. Membayangkan suitan laki-laki (yang entah apa maksudnya dan apa untungnya) sepanjang jalan. Harus jogging di treadmill? Harus masuk ke fitness center dan mbayar pula. Disini, jogging keliling kompleks di pagi hari menjadi sesuatu yg menyenangkan. Masih bisa menghirup udara segar, melihat tetesan embun di daun2 dan rumput, serta mendengar kicauan burung.

Ada juga beberapa lapangan sepakbola, taman bermain, dan tempat duduk-duduk yang bisa digunakan untuk umum secara gratis.

6. Tidak ada mall

Bukannya tidak butuh mall, tapi ketiadaan mall bisa berarti positif. Uang tidak akan cepat terkuras, dan para pelaku usaha kecil menengah akan memainkan peran pentingnya.

7. Murid-murid SD Kabo Jaya 003 yang pandai-pandai. Semoga keterbatasan fasilitas sekolah tidak menghalangi mereka untuk maju.

8. Ada warung Bakso Solo yang enak (bakso Solo Pak Dhe) , Cotto Makassar yang enak (di Warung Sulawesi), rumah makan seafood Idaman.

Ah, aku akan selalu ingat Sangatta :D

bontang trip

Rencana jalan-jalan ke Bontang yang sempat tertunda pada Desember lalu karena kelangkaan BBM di Kaltim, akhirnya bisa diwujudkan hari minggu kemarin, 10 Februari 2008. Tujuan utamanya ada dua, yaitu kawasan Bontang Kuala (pantai), dan perumahan Pupuk Kaltim yang hijau dan segar :D

bontang-004.jpg

bontang-021.jpg

dscn4285.jpg

dscn4286.jpg

dscn4296.jpg

dscn2356.jpg

dscn4309.jpg

dscn4313.jpg

dscn4315.jpg

dscn4331.jpg

memulai perjalanan lagi

Ternyata memang banyak cara untuk menjalani hidup ini. Tidak hanya berdiam diri di suatu tempat dan suatu pekerjaan dalam suatu kerangka waktu stagnan yang cukup lama. Hidup bisa juga dijalani dengan aktivitas berpindah-pindah dan menempuh banyak perjalanan. Semuanya karena pilihan. Bukan suatu kebetulan ketika seseorang “bersedia” untuk perpindah-pindah atau “bersedia” untuk berhubungan jarak jauh dengan seseorang yang disayangi. Semua itu karena, kondisi itulah yang terbaik yang bisa didapat untuk saat ini. Dan ini adalah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar di masa yang akan datang.

Aku belum mulai packing sama sekali untuk keberangkatanku ke Sangatta lagi besok. Aku hanya baru memastikan pakaian yang akan kubawa sudah bersih dan disetrika. Sudah membeli shampoo dan lipgloss baru karena yang lama tinggal beberapa tetes. Sudah memastikan buku apa saja yang akan kubawa. Sudah tahu buku apa yang akan kubaca ketika menunggu boarding dan didalam pesawat, karena perjalanan lebih dari satu jam hanya terbengong-bengong adalah membosankan sekali. Maklum, aku sangat jarang bisa tidur di perjalanan. Dan satu lagi, untuk orang pemalas yang sering menjadikan “capek sepulang kerja” sebagai alasan untuk tidak membaca buku, membaca di perjalanan berguna sekali. Ini sudah kubuktikan beberapa kali, membaca setengah buku Laskar Pelangi di perjalanan kereta Jogja-Jakarta. Setengah buku Five People You Meet in Heaven (Mitch Albom) di perjalanan Jakarta-Balikpapan minggu lalu. Serta beberapa buku di perjalanan sebelum-sebelumnya.

Read the rest of this entry »

lima undangan (makan) di hari raya

Ini adalah postingan yang tertunda, eh tidak tertunda, karena baru saja kutulis dan upload. Ingin menulisnya pada saat itu, tapi tidak terlaksana karena waktu itu aku tak sempat bersentuhan dengan internet. Aku memutuskan untuk merayakan Idul Adha di Sangatta, dan ini mengundang pertanyaan banyak orang mengenai mengapa aku tidak sekalian saja pulang sebelum hari raya dan merayakannya di “rumah”. Ya, aku memutuskan untuk pulang ke Jawa pada hari jum’at setelah Idul Adha. Kupikir tidak ada salahnya merayakan hari raya sesekali dengan cara yang berbeda, jauh dari rumah. Dan ternyata keputusanku ini tidak buruk sama sekali :D bagus sekali malah. Aku dan teman-teman menerima lima undangan (makan) di rumah lima orang rekan kerja yang memang bertempat tinggal di Sangatta bersama keluarganya.

Lima undangan dalam waktu 12 jam? Apa mungkin mendatangi semuanya? Memangnya kuat makan di setiap rumah yang kami kunjungi? Apalagi setiap istri dari bapak-bapak kolega kami dengan semangatnya mengundang “nanti mampir ke rumah ya, saya sudah masak banyak lho”. Dan akhirnya, kami benar2 memenuhi kelima undangan itu. Persiapannya, siapkan dan kosongkan perut. Kalau perlu berangkat dari camp tidak usah makan atau minum dulu. Sebenarnya ini sangat melanggar semangat diet yang sedang kucanangkan untuk diriku sendiri :mrgreen: tapi bagaimana, kami harus menghormati orang-orang yang mengundang dan tentu saja menikmati suguhannya :D Kata seorang teman yang pernah merayakan Idul Fitri di Sangatta, karena memang belum jadwal cutinya, lima undangan ini masih mending, kalau lebaran, bisa lebih parah lagi, sampai 10 undangan. Jadi begini kronologis kunjungannya :D

Read the rest of this entry »