Kung Fu Panda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kung Fu Panda adalah film yang berhasil membuatku terbahak-bahak setelah sekian lama. Po, sang Panda berhasil melakukan sesuatu yang berbeda tanpa harus menjadi orang lain, atau menjadi super hero. Po hanya perlu menjadi dirinya sendiri, mempercayai kemampuannya, berani bertindak, tetap maju meskipun ayahnya, teman-teman baru dan bahkan gurunya Master Shifu meng under estimate dirinya pada awalnya. Po mematahkan anggapan ayahnya bahwa dirinya telah ditakdirkan menjadi penjual mie, dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang lain, apalagi menjadi pendekar naga yang akan menyelamatkan seluruh kerajaan. Juga teman-teman barunya di perguruan yang telah berlatih Kung Fu selama bertahun-tahun, yang merasa mereka lebih pantas menjadi pendekar naga, dibanding Po, anak penjual mie yang tidak pernah mempelajari Kung Fu sama sekali. Po tidak ngambek, meskipun direndahkan oleh teman-temannya itu. Po menjadikan sesuatu yang sangat diinginkannya sebagai motivasi yaitu makanan :D Dan sesuatu yang disebut “rahasia” keberhasilan itu ternyata tidak ada. Hanya ada satu rahasianya, yaitu memiliki keyakinan bahwa Po mampu melakukan semuanya. Dan Po, mampu menguasai jurus “kunci dengan jari” dengan belajar sendiri tanpa diberitahu oleh Master Shifu.

Dan satu lagi, kalimat dari sesepuh Kerajaan yaitu Kura-kura tua Ooghart yang berkali-kali mengatakan “there is no accident”. Tidak ada yang namanya kebetulan…tidak ada yang namanya kebetulan…tidak ada yang namanya kebetulan. Kung Fu Panda memang bagus dan penuh makna :D

membentuk harapan yang baik

Terpengaruh oleh teman baikku Mya dengan semangat positifnya menerapkan hukum tarik menarik, aku tergugah untuk membuat harapan-harapan yang baik dalam hidupku. Pada usiaku yang 25 ini (ya, 25!!) aku sudah memiliki 2,5 thn pengalaman kerja setelah lulus kuliah. Termasuk kategori beruntung kurasa :)

Aku meyakinkan diri bahwa tak lama lagi kondisiku akan lebih baik. Mungkin beberapa bulan mendatang. Pada saat yang tepat itu, sebuah kesempatan bagus akan datang, dan aku akan segera menyambarnya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk meyakinkan mereka bahwa aku pantas untuk mendapat kesempatan itu. Tak begitu lama, aku akan sibuk dengan hal-hal dan pekerjaan yang memberiku kesempatan untuk mengembangkan diri. Pada saat itu, mungkin aku hanya memiliki sedikit waktu untuk browsing internet diluar urusan pekerjaan :D Sejalan dengan membaiknya kondisi, maka aku akan mendapatkan insentif yang lebih baik pula. Oya, untuk mendukung hal itu, saat ini aku harus lebih banyak membaca agar lebih memahami bidang yang aku geluti ini. Bahwa bidang ini seharusnya begini, dan apa yang ada saat ini belum sampai pada tujuannya. Tapi di kesempatan yang akan datang nanti, aku dan timku akan bergerak kearah sana. Meskipun aku tahu, tetap tidak akan sempurna dan banyak kritik yang akan datang terhadap tujuan kami. Namun, setidaknya kami telah memulai langkah dan tidak jalan di tempat.

Oh, dan bukan tidak mungkin nanti aku masih tetap sering bepergian, jadi koperku harus selalu siap membawa kebutuhanku kemana saja. Juga, sepatu nyaman Reebok yang baru saja diberikan oleh orang yang sangat kusayangi. Selain untuk olahraga, sepertinya cocok jika harus berlari-lari di airport :D

Meskipun butuh waktu untuk membuatku nyaman dan menyadari apa yang aku inginkan dalam hidupku, tapi kesempatan baru itu akan membantuku menjajaki dan menemukan apa yang kucari. Harapan-harapan yang sangat baik bukan? :D

ketika idealisme itu telah habis

Mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional ketika kuliah, belakangan kuketahui sebagai sebuah “kesalahan”. Berbeda dengan disiplin ilmu lain seperti Ekonomi, Bahasa, atau Teknik yang lebih “membumi” dan bisa diterapkan, HI adalah sebuah awan yang mengambang di langit. Belajar mengenai Sejarah Sosial dan Politik Indonesia, politik dan pemerintahan negara-negara di dunia, atau membandingkan sistem Demokrasi dengan Sosialisme, atau mempelajari sistem perekonomian internasional dan kapitalisme yang hampir tidak pernah lebih menguntungkan negara dunia ketiga. Semua masalah yang diakui oleh seorang dosenku, ini adalah persoalan post-perut. Maksudnya, orang (Indonesia) tidak perlu membicarakan demokrasi atau bagaimana para kapitalis itu mengeruk kekayaan alam Indonesia, selama mereka masih memikirkan bagaimana meletakkan makanan di atas meja setiap hari. Ilmu HI terlalu fancy dan secara tidak sadar menumbuhkan rasa idealisme pada diriku sebagai penduduk negara dunia ketiga.

Setelah bekerja, aku “mengkhianati” idealismeku sendiri dengan bekerja untuk perusahaan asing (aka kapitalis yang dulu kubenci itu). Aku membela diriku sendiri dengan mengatakan bahwa Indonesia akan sulit juga tanpa investasi asing, dan toh investasi membuka ribuan lapangan pekerjaan bagi penduduk Indonesia. Meskipun aku tahu bahwa gaji kami tak lebih uang jajan para expat itu, atau bahkan uang jajan anaknya yang sekolah di international school. Meskipun setelah berkunjung ke site, aku baru menyadari bahwa Indonesia benar-benar kaya, dengan emas hitam yang seakan tak pernah habis. Dan apa yang dulu kami diskusikan dengan seru di mata kuliah Ekonomi Politik Internasional benar-benar kulihat dengan mataku sendiri. Aku masih membela diri dengan, yah, bagaimanapun banyak penduduk Indonesia mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya karena bekerja disini. Pembelaan diri berakhir dengan kesimpulan idealisme tidak akan memberi kita makan.

Sedikit idealisme masih tersisa, karena aku berada di divisi yang (seharusnya) memberikan kontribusi kepada masyarakat. Posisi yang seharusnya berada di tengah-tengah, bahwa ini bukan sekedar bekerja mencari uang, tapi menjadi agen yang memberikan sedikit dari apa yang telah diperoleh perusahaan. Nyatanya, disini aku “belajar” banyak hal. Bahwa membuat Visi dan Misi dengan kata-kata yang sangat fancy  jauh lebih mudah daripada mengimplementasikannya. Bahwa kita seharusnya bertanggung jawab dengan slogan yang telah kita buat sendiri. Bahwa membuat perencanaan dengan berlembar-lembar kolom di excel penuh dengan warna-warni, terkadang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaannya. Atau lembar-lembar excel itu memang hanya dibuat saja. That’s the way it is.

Pada akhirnya, orang terlalu lelah untuk mengeluh, bahwa apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya, atau lebih jauh tidak sesuai dengan hati nuraninya. Karena kenyataannya, banyak orang yang tidak perlu sepusing itu. Tidak perlu punya keinginan atau tujuan, selama posisinya aman tak tergeser atau tergoyahkan. Toh keinginan dan idealisme tidak akan masuk kedalam penilaian. Buat saja penilaimu itu senang, tak perlu ambil pusing. Orang-orang yang tidak bisa menerima sistem itu, akan menyingkir. Sementara para pemain aman akan tetap berada disana karena idealismenya telah habis.

Kali ini aku seperti jatuh dari awan dan tersungkur ke tanah.  

daerah tertinggal, tanggung jawab siapa?

rscn4356.jpg

Ketertinggalan di daerah memang sebuah persoalan klasik di Indonesia. Ketertinggalan ini mungkin bisa dimaklumi jika terjadi di daerah yang gersang atau tidak memiliki kekayaan alam yang berarti. Ironisnya, ketertinggalan juga terjadi di daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Kekayaan alam yang ada tidak semerta-merta membuat masyarakat di sekitarnya menjadi makmur. Aku tidak bermaksud menyalahkan pihak tertentu atas masalah ini, mengingat aku sendiri bekerja di sektor pertambangan yang seharusnya “bertanggung jawab” kepada masyarakat.

Kekayaan alam memang harus dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup umat manusia. Termasuk sumber energi yang tersimpan didalam perut bumi. Manusia memerlukan sumber energi ini, untuk listrik, bahan bakar, dll. Yang perlu ditekankan adalah manajemen dari eksploitasi sumberdaya ini. Dan sayangnya, pengelolaan sumberdaya ini lebih berorientasi kepada pasar, bukan pada kebutuhan dalam negeri. Batu bara dan minyak lebih banyak diekspor daripada digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Itulah mengapa meskipun kalimantan timur memiliki kilang minyak di Balikpapan dan tambang batubara terbesar di Indonesia, listrik masih sering padam. Bahkan di Balikpapan listrik dari PLN dipadamkan secara bergilir di setiap lokasi.   

Read the rest of this entry »

beberapa hal yang saya sukai di sangatta

Setelah tiga kali mengunjungi sangatta, aku menyimpulkan beberapa hal yang aku sukai di sangatta.

1. Tidak ada kemacetan,

Tinggal hampir dua tahun di Jakarta, dimana sampai saat ini masih misuh2 setiap kali terjebak kemacetan, tinggal di sangatta adalah sebuah relieved. Sangatta kota kabupaten yang ramai, meskipun demikian tidak sampai ada kemacetan. Selain itu, para pengendara, terutama yang bekerja di pertambangan merupakan pengendara yang baik. Saling memberi kesempatan, dan tidak ada ceritanya sopir seperti sopir metromini di ibukota.

 2. Lega.

Meski ramai, disini masih banyak ruang yang tersisa.  Ada sungai yang airnya mengalir deras, sudut penuh pepohonan yang sepi. Berbeda dengan Jkt yang di setiap sudut, dan mungkin kolong, ada manusianya. Sumpek, sempit.

3. Kabut dan udara segar

Karena berangkat kerja subuh-subuh, hampir setiap pagi kami bertemu dengan kabut dan udara dingin yang masih segar. Kecuali sudah sampai ke areal pertambangan yang sudah banyak kendaraan lalu lalang.

4. Burung-burung dan kupu-kupu yang beterbangan.

Indah sekali melihat burung-burung yang beterbangan seolah berkejaran. Kupu-kupu lalu lalang kemudian menghilang diantara rimbunnya daun-daun. Syukurlah masih ada tempat yang cukup nyaman untuk kalian :D

5. Ruang publik yang luas

Kalau di Jkt, jogging di pagi hari menjadi sesuatu yang mengerikan untukku. Membayangkan suitan laki-laki (yang entah apa maksudnya dan apa untungnya) sepanjang jalan. Harus jogging di treadmill? Harus masuk ke fitness center dan mbayar pula. Disini, jogging keliling kompleks di pagi hari menjadi sesuatu yg menyenangkan. Masih bisa menghirup udara segar, melihat tetesan embun di daun2 dan rumput, serta mendengar kicauan burung.

Ada juga beberapa lapangan sepakbola, taman bermain, dan tempat duduk-duduk yang bisa digunakan untuk umum secara gratis.

6. Tidak ada mall

Bukannya tidak butuh mall, tapi ketiadaan mall bisa berarti positif. Uang tidak akan cepat terkuras, dan para pelaku usaha kecil menengah akan memainkan peran pentingnya.

7. Murid-murid SD Kabo Jaya 003 yang pandai-pandai. Semoga keterbatasan fasilitas sekolah tidak menghalangi mereka untuk maju.

8. Ada warung Bakso Solo yang enak (bakso Solo Pak Dhe) , Cotto Makassar yang enak (di Warung Sulawesi), rumah makan seafood Idaman.

Ah, aku akan selalu ingat Sangatta :D