Ketagihan Kiwi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu kebiasaanku selain tidur adalah mudah ketagihan. Ketika mencoba sesuatu dan menyukainya, aku bisa memakannya berkali-kali berturut-turut sampai benar-benar bosan baru berhenti :mrgreen: Makanya bisa kacau jika hal ini diimplementasikan pada hal-hal yang tidak baik :twisted:

Dua minggu lalu, aku mendatangi supermarket khusus sayur dan buah di dekat tempat tinggalku. Menyadari setiap hari berhadapan dengan lingkungan yang tidak sehat; polusi udara, makanan tidak sehat dan kurang higienis, aku menyadari bahwa harus berusaha menjaga body dengan mengkonsumsi sayur dan buah semaksimal mungkin. Nah, bosan dengan apel, pear, jeruk, melon, dan jambu, aku pun bermaksud mencari alternatif lain. Dan disanalah kutemui tumpukan buah Kiwi yang katanya diimpor dari New Zealand.

Ada dua jenis Kiwi dengan merk yang sama Zespri, yaitu jenis besar (lebih mahal) dan jenis kecil (lebih murah). Merasa tak ingin tanggung aku pun memilih membeli yang besar, sebanyak 1kg. Harganya memang lumayan mahal dibanding buah yang umum seperti jeruk atau apel. Tapi ternyata memang sebanding, rasanya sangat manis, segar, dan hampir tidak ada rasa asam sama sekali. Satu kilo pun habis dalam 4 hari :P Minggu ini aku membeli Kiwi lagi di supermarket lain, namun memilih yang jenis kecil karena harganya lebih murah. Memang sedikit asam dibanding dengan yang besar. Tapi sama segarnya. Aku memakannya dengan cara membelahnya horizonal menjadi dua, mengambil isi buahnya dengan sendok kecil, dan memakannya seperti dari “mangkok” kulitnya. Nyummy :P

Kung Fu Panda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kung Fu Panda adalah film yang berhasil membuatku terbahak-bahak setelah sekian lama. Po, sang Panda berhasil melakukan sesuatu yang berbeda tanpa harus menjadi orang lain, atau menjadi super hero. Po hanya perlu menjadi dirinya sendiri, mempercayai kemampuannya, berani bertindak, tetap maju meskipun ayahnya, teman-teman baru dan bahkan gurunya Master Shifu meng under estimate dirinya pada awalnya. Po mematahkan anggapan ayahnya bahwa dirinya telah ditakdirkan menjadi penjual mie, dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang lain, apalagi menjadi pendekar naga yang akan menyelamatkan seluruh kerajaan. Juga teman-teman barunya di perguruan yang telah berlatih Kung Fu selama bertahun-tahun, yang merasa mereka lebih pantas menjadi pendekar naga, dibanding Po, anak penjual mie yang tidak pernah mempelajari Kung Fu sama sekali. Po tidak ngambek, meskipun direndahkan oleh teman-temannya itu. Po menjadikan sesuatu yang sangat diinginkannya sebagai motivasi yaitu makanan :D Dan sesuatu yang disebut “rahasia” keberhasilan itu ternyata tidak ada. Hanya ada satu rahasianya, yaitu memiliki keyakinan bahwa Po mampu melakukan semuanya. Dan Po, mampu menguasai jurus “kunci dengan jari” dengan belajar sendiri tanpa diberitahu oleh Master Shifu.

Dan satu lagi, kalimat dari sesepuh Kerajaan yaitu Kura-kura tua Ooghart yang berkali-kali mengatakan “there is no accident”. Tidak ada yang namanya kebetulan…tidak ada yang namanya kebetulan…tidak ada yang namanya kebetulan. Kung Fu Panda memang bagus dan penuh makna :D

daerah tertinggal, tanggung jawab siapa?

rscn4356.jpg

Ketertinggalan di daerah memang sebuah persoalan klasik di Indonesia. Ketertinggalan ini mungkin bisa dimaklumi jika terjadi di daerah yang gersang atau tidak memiliki kekayaan alam yang berarti. Ironisnya, ketertinggalan juga terjadi di daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Kekayaan alam yang ada tidak semerta-merta membuat masyarakat di sekitarnya menjadi makmur. Aku tidak bermaksud menyalahkan pihak tertentu atas masalah ini, mengingat aku sendiri bekerja di sektor pertambangan yang seharusnya “bertanggung jawab” kepada masyarakat.

Kekayaan alam memang harus dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup umat manusia. Termasuk sumber energi yang tersimpan didalam perut bumi. Manusia memerlukan sumber energi ini, untuk listrik, bahan bakar, dll. Yang perlu ditekankan adalah manajemen dari eksploitasi sumberdaya ini. Dan sayangnya, pengelolaan sumberdaya ini lebih berorientasi kepada pasar, bukan pada kebutuhan dalam negeri. Batu bara dan minyak lebih banyak diekspor daripada digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Itulah mengapa meskipun kalimantan timur memiliki kilang minyak di Balikpapan dan tambang batubara terbesar di Indonesia, listrik masih sering padam. Bahkan di Balikpapan listrik dari PLN dipadamkan secara bergilir di setiap lokasi.   

Read the rest of this entry »

the beautiful Patrick Dempsey

Seandainya perasaan manusia itu bisa disetting seperti mesin. Seperti orang sering menulis; *tenang mode on*, atau *sabar mode on*, atau *cuekin aja mode on*. Kenyataanya memang tidak bisa seperti itu. Perasaan seringkali aneh, tidak bisa dijelaskan, tidak sedih, tidak juga gembira, hanya perasaan “overwhelming” dan hati yang terasa “meloncat/ tersentak” ketika menghadapi atau pasca menghadapi sesuatu. Akhir liburan hari raya yang cukup lama (aku mengambil cuti 7 hari ditambah hari raya 2 hari menjadi 9 hari) meninggalkanku dengan setumpuk perasaan. Sisa-sisa pulang kampung meninggalkan banyak pemikiran, opini, dan pertanyaan dalam benak. Senang bertemu orang2 yang lama tidak ditemui. Ingin beropini mengenai sebuah keadaan (seandainya orang2 itu mau mendengar opiniku). Banyak sekali pertanyaan (seandainya ada yang bisa menjawab pertanyaan itu). Dan keinginan untuk melihat sesuatu berubah namun kenyataannya kita tidak memiliki kunci dari perubahan itu, karena kuncinya ada pada orang lain). Itulah yang tertinggal dan kubawa hingga akhir liburan dan memulai kembali rutinitas aktivitas dan kewajibanku sebagai seorang yang seharusnya sudah dewasa. Earn living, responsibility, and pay rent.

Lalu apa hubungannya dengan si tampan Patrick Dempsey? Read the rest of this entry »

responsibility, it really does suck

Sekarang ini aku sedang menonton serial Grey’s Anatomy, drama komedi (sekaligus romantis ;) ) tentang beberapa dokter bedah yang masih intern (baru lulus) beserta konflik dan masalahnya. Sebenarnya serial ini tidak jauh berbeda dengan ER (Emergency Room) cuma menurutku Grey’s Anatomy lebih berani dengan menunjukkan lebih detail ketika para dokter itu membedah pasien2nya. Yikes, pertamanya sih jijik, tapi setelah menontonnya satu episode, lama2 aku jadi “terbiasa” melihat darah, dan organ2 tubuh yang di otak-atik, di potong dan dijahit :evil: Sebenarnya bukan itu inti dari postinganku kali ini. Ada sebuah inti cerita yang sangat menarik dan bisa sangat kumengerti pada episode ke-lima season pertama. Ketika sang tokoh utama Meredith Grey harus menandatangani/ menerima asset warisan milik ibunya yang terkena Alzheimer.

Read the rest of this entry »