dikejar-kejar waktu
Semalam aku mendapatkan ajakan yang aneh dari seorang teman melalui YM. Dia mengajakku untuk sama-sama berburu cowok/ pacar. Ternyata, alasannya adalah bahwa teman baikku ini sudah mulai khawatir dikejar-kejar umur (emang bisa ngejar gitu?) karena sampai sekarang belum punya calon pendamping hidup. Padahal dia setahun lebih muda dari aku. Dia merasa dikejar-kejar karena teman-teman mulai menikah satu persatu, dan sudah pasti temanku ini (dan aku juga mungkin) sering ditanya mengenai kapan menikah. Sebenarnya ini adalah isu klasik dan membosankan untuk dibahas. Itulah mengapa, seingatku ketika bertemu dengan teman lama maupun baru, tidak pernah kutanyakan “kapan menikah?”. Toh kalau orang sudah mau menikah, atau sudah menikah mereka akan bilang sendiri.
Kukatakan padanya, bahwa ini adalah hidup kita. Kita yang paling tahu hidup kita seperti apa dan mau dibawa kemana. Kita tidak perlu pusing memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu dan membuat seolah-olah waktu kita akan segera habis. Kita memutuskan menikah karena sudah menemukan orang yang kita yakini akan tepat mendampingi kita seumur hidup. Bukan karena supaya tidak ditanya-tanya lagi atau kelihatan sudah “laku”. Anehnya, kenapa sepertinya hanya perempuan saja yang mengalami hal ini ya? Laki-laki lebih dimaklumi jika sampai akhir 20an atau awal 30an baru menikah. Aku pernah membicarakan hal ini dengan beberapa orang asing di kantorku dulu. Beberapa rekan kerja perempuan berusia 26-27 tahun sempat sharing bahwa mereka khawatir karena sampai usia segitu belum punya calon pendamping yang pasti (kalau pacar atau gebetan sih mungkin ada). Waktu itu kukatakan, kekhawatiran itu karena tuntutan budaya Indonesia. Bahwa pada usia itu, sebaiknya perempuan itu sudah menikah, biar tidak terlalu tua saat memiliki anak. Sesuatu yang bagi kultur barat adalah sangat konyol dan tidak sesuai dengan nilai liberal yang mereka anut.
Aku memiliki pandangan berbeda dengan temanku ini, meskipun kami sama-sama perempuan. Menurutku, daripada pusing merasa dikejar-kejar waktu, lebih baik kita berfokus pada hal-hal yang membuat kita maju. Tekuni pekerjaan yang kita punya, lakukan terbaik disana, dan sebagai implikasinya tentu penghasilan yang semakin besar dan posisi yang semakin naik. Dan tentu saja, tetap tak lupa untuk tetap mencari pendamping hidup yang tepat. Satu lagi, karena aku berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki harusnya memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai bidang, sangat tidak bijak bagi perempuan begitu selesai kuliah, langsung dipusingkan dengan mencari jodoh. Tidak adil untuk kemampuan dan otak yang (mungkin) cukup lumayan jika tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kalau lebih vulgar lagi, bisa dianalogikan begini, apakah setelah sekolah sekian lama dan selesai S1 lalu kita hanya duduk terpaku menanti pria yang akan melamar. Tidak kan?
Kalau soal laki-laki yang merasa “terancam” dengan perempuan yang memiliki prospek karir yang cemerlang, itu adalah permasalahan para pria itu sendiri. Sorry to say, menurut saya, tipe laki-laki seperti ini adalah mereka yang tidak mau berdampingan dengan perempuan hebat atau bahkan lebih hebat dari dirinya. Itu lebih kepada ego laki-laki, tidak ingin berada dibawah perempuan. Banyak tipe laki-laki seperti ini yang pernah aku temui di sekitarku. Pernah suatu kali, aku mengobrol via YM (lagi) dengan seorang teman lama (cowok) yang sudah tidak pernah bertemu denganku mungkin selama hampir 4 tahun lamanya. Obrolan yang awalnya saling bertanya kabar itu, lama-lama menyerempet ke masalah “perjodohan, pernikahan, dan segala tetek bengeknya”. Dari pembicaraan kami, dengan jelas kutangkap bahwa dia tidak akan menyukai/ memilih perempuan seperti aku. Itu karena aku bekerja, menyukai pekerjaanku (di perusahaan tambang dan di bidang comdev), dan terlihat bahwa aku memiliki ekspektasi dan optimisme untuk meningkatkan posisiku di masa yang akan datang. Dalam hati sempat kukatakan, well what do you expect? kalau begitu cari saja perempuan yang nganggur dan nunggu dilamar sana! Sebenarnya ini ungkapanku ini lebih kepada laki-laki secara umum yang memiliki perspektif seperti itu.
Menganggap perempuan bekerja dan sukses dalam pekerjaannya adalah ancaman dan bukan pilihan, adalah kesalahan pandangan laki-laki (sori, terus terang banget). Satu rahasia untuk para pria, sebagian besar wanita karir sangat mengerti kodratnya dan kewajibannya sebagai perempuan, istri dan ibu. Jadi, semua tergantung bagaimana para pria ini meyakinkan pasangannya bahwa keluarga adalah prioritas yang utama dan meyakinkan bahwa keadaan (finansial) akan tetap stabil meskipun sang perempuan tidak bekerja. Kalau sejak awal saja sudah tidak bisa memilih perempuan yang bekerja, itu berarti dia bukan orang yang tepat. Mungkin lebih tepat kalau dia ke laut saja
Mungkin ini sudah saatnya bagi kita untuk memulai perubahan, mulailah dari diri sendiri, untuk tidak menanyakan “kapan menikah?”. Biarkan orang2 memberitahu kita mengenai tanggal pernikahannya. Ini untuk menghindari kekhawatiran para perempuan, seperti temanku tadi. Terimakasih kalau Anda sudah setuju dengan ku.




Betul bu, menikah adalah keputusan kita sendiri. Tidak ada yang bisa memastikan semakin cepat semakin baik, atau sebaliknya. Semua itu adalah keputusan yang kita tahu akibatnya dan kita harus sudah mempersiapkan pernikahan baik secara mental maupun materinya.
Jadi bukan karena faktor tuntutan orang2 di sekitar atau tuntutan usia, melainkan tuntutan kita sendiri yang membutuhkan pendamping yang berada di sisi kita seumur hidup.
Semangat bu, aq mendukungmu…..!!! (panjang juga kan commentnya, he..2)
Kalo yang sering aku lihat dan alami sendiri, biasanya pandangan seseorang tentang perempuan bekerja bersumber dari keluarga. Dari nilai-nilai yang dianut dan dipuja dalam keluarganya. Banyak temanku (cowok dan termasuk pintar) yang ibunya adalah full-time mother sangat yakin bahwa ibu bekerja tidak akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Sebaliknya dengan aku yang punya ibu bekerja dan merasa ibuku seorang multitasker yang luar biasa (menyeimbangkan karir dan keluarga, plus masih bisa aktif di berbagai kegiatan sosial) jelas percaya bahwa hal itu mungkin juga kucapai di masa depan.
Kemungkinan lain adalah, cowok semacam itu simply insecure dan takut kalau pasangannya di masa depan mungkin akan lebih pintar, kaya, terkenal, atau sukses
Ide yang bagus di paragraf terakhir
I’ll do it.
Mya: Benar sekali. Latar belakang kehidupan seorang pria itu sangat menentukan pilihan dan pandangan dia mengenai perempuan calon pendampingnya. Kalau cowok yang insecure itu, ya biar mereka mencari target yang sesuai, karena banyak juga kan cewek yang “bersedia” untuk mengalah untuk pasangannya.
Mari kita terapkan ideku kalau begitu…
Odus: Hmm, saya sependapat dengan Pak Odus. Terimakasih atas dukungannya. Oya, kadang2 menikah dengan cinta itu tidak ada hubungannya ya…hahhaha ironic but true
Beuh…sepakat, say. Masalah menikah dan kapannya adalah pilihan. Seringkali kita terlalu memikirkan apa kata orang terhadap hidup yang sedang kita jalani.
Kalo mendengarkan tuntutan sosial, tidak akan ada habisnya. Masih kuliah, dikejar-kejar untuk selesai. Kuliah selesai, rasanya malu kalo nganggur. Dapat pekerjaan, ditanyain kapan nikah. Udah nikah, ditanya kapan punya anak. Gitu terus. Cape dee…
Menurutku sih, selama kita tahu bahwa we’re on the right track, just do what have to be done whether you like it or not.
Tentang cowok yang cukup minder dengan kecemerlangan karir ceweknya, that’s his problem. Kupikir lebih banyak kok cowok yang menganggap bahwa cewek dinamis itu seksi.
Aku lagi baca buku bagus tentang pandangan baru peran ganda wanita bekerja, yang nulis Susan Chira. Dia adalah pemimpin redaksi New York Times. Ntar kalo udah beres, pasti ku-share di blog. Bukunya sih cetakan 10 tahun yang lalu, mungkin sudah agak susah dapetnya di toko buku.
Sanggita: Wah, thanks banget untuk pandangan optimisnya Bu. Tadinya kupikir susah cari pendamping yang bisa mendukung istrinya untuk bekerja, atau mencapai cita-citanya. Mudah2an aku bisa dapat salah satu pria berpandangan seperti itu ya. Coba di share ya isi bukunya, biar yang lain bisa tau, dan ga usah baca bukunya haha