kelas bisnis
Mungkin tulisan ini tidak penting sama sekali, tapi mungkin ini bagus sebagai “appetizer” untuk bersemangat menulis lagi. Padahal banyak sekali kejadian yang sebenarnya ingin kutuliskan
Biasalah, malas.
Seumur-umur, baru satu kali aku naik pesawat dengan kelas bisnis. Dari sejak pertama kali naik pesawat, yaitu pada semester enam kuliah, dari Jogja ke Jakarta dengan Batavia. Itu pun gratis, karena dibayarin perusahaan tempat aku mau magang. Setelah kerja, memang setiap traveling selalu pakai maskapai Garuda. Kecuali untuk rute-rute tertentu yang Garuda tidak punya penerbangan kesana. Maklum lah, namanya juga ke lokasi tambang. Kadang kita mesti pergi ke daerah antah-berantah. Dan di setiap penerbangan itu, aku selalu duduk di kelas ekonomi. Bahkan ketika sekali-kalinya dulu naik Korean Airlines, kursiku benar-benar mentok di belakang, di ekor pesawat. Hahahha
Nah, dua minggu yang lalu itulah, pertama kalinya seumur-umur duduk di kelas bisnis Garuda. Penerbangan dari Jakarta ke Manado, yang akan connect ke Sorong, Papua. Di tempat kerja baru-ku ini memang ada kebijakan, untuk penerbangan lebih dari dua jam, wajib menggunakan kelas bisnis. Ini untuk mencegah kelelahan, karena harus bekerja begitu tiba di lokasi. Jadilah aku bak orang kaya waktu itu
Saking bersyukurnya, tak hentinya aku “wondering” dan bertanya pada Tuhan, Oh my God, benarkah ini? Kelihatan norak sekali bukan
Tak usah heran, kenapa orang-orang kaya itu kadang sombong sekali. Aku yang memegang tiket kelas bisnis-pun tiba-tiba memiliki aura yang berbeda
Meskipun sadar, sok itu tidak baik, dan akan membuat Tuhan marah, dan mencabut semua nikmat yang telah diberikannya untuk kita. Hmm, ga mau kan ya?
Sejak check in, petugas terlihat lebih ramah daripada biasanya (atau perasaanku aja ya?), dan tagging untuk bagasiku jadi banyak sekali, selain nomor ada beberapa tagging lagi yang bertuliskan “executive class”, “priority”, dan “doorside”. Dan penumpang kelas bisnis Garuda, punya hak untuk menikmati executive lounge tanpa harus memiliki kartu kredit. Maklum, sampai sekarang aku belum punya kartu kredit. Ndesit kah? Biarin. Kalau biasanya aku duduk-duduk di luar, sambil baca atau memandangi orang-orang yang berlarian mau masuk gate. Pagi itu, aku bisa sarapan teh hangat dan lontong sayur! Selera ndeso-nya belum hilang, meskipun disana ada pancake, sereal, atau roti
Ada perasaan tak enak begitu duduk di barisan kursi depan, ya kelas bisnis itu. Ga enak, karena rasanya orang-orang yang akan menuju kursi di belakang (kelas ekonomi) melihat ke arah kami. Hahaha, mungkin itu yang aku lakukan juga ketika melewati kelas bisnis
Selama perjalanan 2,5 jam, aku merasa bak raja. Pertama duduk ditawari minum jus, disodorkan koran dan majalah (dan boleh ambil lebih dari satu). Aku menghabiskan satu edisi Femina terbaru di penerbangan itu. Baguslah, tak perlu beli. Dan sang pramugari menyapa kita dengan menyebut nama; mbak Evi mau minum apa? Hahahahha. Tapi sebenarnya makanan diatas pesawat itu sama saja, plain. Cuma di kelas bisnis penyajiannya saja yang berbeda, menggunakan piring keramik, gelas keramik, dan wadah garam dan lada keramik pula. Bukan kertas atau sterofoam seperti biasanya.
Pengalaman yang menyenangkan, karena itu pertama kali pula aku ke Manado. Ternyata kata orang-orang itu benar. Penduduk Manado memiliki ras yang bagus (dalam arti kulit putih, mata cenderung sipit, dan wajah yang cantik/ tampan), karena nenek moyang mereka masih keturunan Portugis dan Belanda. Uniknya lagi, orang Manado sangat menyadari kelebihan fisik mereka ini. Sehingga mereka (khususnya perempuan) tidak segan untuk memamerkan kulitnya dengan mengenakan rok mini, dan baju you can see. Dan ini berlaku untuk hampir semua perempuan Manado. Mereka juga terlihat sangat percaya diri, tak kalah pede dengan orang-orang Jakarta kurasa.
Oya, meskipun Manado itu kota yang “cantik”, tetaplah berhati-hati layaknya bepergian kemanapun. Jangan makan di rumah makan sembarangan. Setidaknya lihatlah tempatnya, bersih atau tidak, ramai atau tidak. Kalau perlu mintalah rekomendari dari orang-orang setempat. Kalau tidak, akan mengalami hal yang sama denganku, yaitu terkena diare parah hingga dehidrasi karena makan di rumah makan di pinggir jalan…ugh…




mbak sekarang kerja dimana???…kok jarang posting lagi…
sibuk ya…:)
Hai Mbak Yanti, iya udah pindah kerja. Di tempat baru sibuk banget plus kecapekan klo mau nulis
Weleh…nggaya tenan ki
Mungkin di kelas bisnis penyajian makanan pake piring keramik karena yang duduk di sana udah pada makmur. Jadi nggak bakal tergiur untuk membawanya pulang sbg kenang-kenangan…hahaha…
Cerita travellingnya dong mbak. Ini sih pantesnya masuk tag ‘flight’
Mya: Iya kali. Tapi semakin kesini emang semakin malu kalau mau ngembat apa2 yang jadi fasilitas umum
Duh cerita emang banyak banget, ntar ya… (janji lagi
) Haruskah kutambah tag lagi??
Oalah, vi..vi..kamu lucu…
Btw, siapa bilang ga pake credit card itu ketinggalan zaman? Selama cuma dipakai untuk konsumsi dan gaya2an, kita malah dibodohi lho. Seolah2 duitnya banyak. Selama bisa di-cover dengan cash, ngapain kredit?! Be smart, honey
Sanggita: Wah ibu ni emang hebat banget. Selalu bisa menemukan “celah” dari setiap tulisanku
Pada situasi tertentu punya CC bisa membantu loh, terutama kalau sering travelling, apalagi kluar negeri. Kan bisa jadi kita ga pegang cukup uang cash. Sometimes it helps. Aku ga segitu antipatinya kok sama CC. Yang jelas, aku bakal belajar terus, biar SMART seperti dirimu Bu. Aku pasti maju terus