ketika idealisme itu telah habis
May 13, 2008 — eviciplukMengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional ketika kuliah, belakangan kuketahui sebagai sebuah “kesalahan”. Berbeda dengan disiplin ilmu lain seperti Ekonomi, Bahasa, atau Teknik yang lebih “membumi” dan bisa diterapkan, HI adalah sebuah awan yang mengambang di langit. Belajar mengenai Sejarah Sosial dan Politik Indonesia, politik dan pemerintahan negara-negara di dunia, atau membandingkan sistem Demokrasi dengan Sosialisme, atau mempelajari sistem perekonomian internasional dan kapitalisme yang hampir tidak pernah lebih menguntungkan negara dunia ketiga. Semua masalah yang diakui oleh seorang dosenku, ini adalah persoalan post-perut. Maksudnya, orang (Indonesia) tidak perlu membicarakan demokrasi atau bagaimana para kapitalis itu mengeruk kekayaan alam Indonesia, selama mereka masih memikirkan bagaimana meletakkan makanan di atas meja setiap hari. Ilmu HI terlalu fancy dan secara tidak sadar menumbuhkan rasa idealisme pada diriku sebagai penduduk negara dunia ketiga.
Setelah bekerja, aku “mengkhianati” idealismeku sendiri dengan bekerja untuk perusahaan asing (aka kapitalis yang dulu kubenci itu). Aku membela diriku sendiri dengan mengatakan bahwa Indonesia akan sulit juga tanpa investasi asing, dan toh investasi membuka ribuan lapangan pekerjaan bagi penduduk Indonesia. Meskipun aku tahu bahwa gaji kami tak lebih uang jajan para expat itu, atau bahkan uang jajan anaknya yang sekolah di international school. Meskipun setelah berkunjung ke site, aku baru menyadari bahwa Indonesia benar-benar kaya, dengan emas hitam yang seakan tak pernah habis. Dan apa yang dulu kami diskusikan dengan seru di mata kuliah Ekonomi Politik Internasional benar-benar kulihat dengan mataku sendiri. Aku masih membela diri dengan, yah, bagaimanapun banyak penduduk Indonesia mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya karena bekerja disini. Pembelaan diri berakhir dengan kesimpulan idealisme tidak akan memberi kita makan.
Sedikit idealisme masih tersisa, karena aku berada di divisi yang (seharusnya) memberikan kontribusi kepada masyarakat. Posisi yang seharusnya berada di tengah-tengah, bahwa ini bukan sekedar bekerja mencari uang, tapi menjadi agen yang memberikan sedikit dari apa yang telah diperoleh perusahaan. Nyatanya, disini aku “belajar” banyak hal. Bahwa membuat Visi dan Misi dengan kata-kata yang sangat fancy jauh lebih mudah daripada mengimplementasikannya. Bahwa kita seharusnya bertanggung jawab dengan slogan yang telah kita buat sendiri. Bahwa membuat perencanaan dengan berlembar-lembar kolom di excel penuh dengan warna-warni, terkadang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaannya. Atau lembar-lembar excel itu memang hanya dibuat saja. That’s the way it is.
Pada akhirnya, orang terlalu lelah untuk mengeluh, bahwa apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya, atau lebih jauh tidak sesuai dengan hati nuraninya. Karena kenyataannya, banyak orang yang tidak perlu sepusing itu. Tidak perlu punya keinginan atau tujuan, selama posisinya aman tak tergeser atau tergoyahkan. Toh keinginan dan idealisme tidak akan masuk kedalam penilaian. Buat saja penilaimu itu senang, tak perlu ambil pusing. Orang-orang yang tidak bisa menerima sistem itu, akan menyingkir. Sementara para pemain aman akan tetap berada disana karena idealismenya telah habis.
Kali ini aku seperti jatuh dari awan dan tersungkur ke tanah.
May 13, 2008 at 3:44 pm
“Meskipun aku tahu bahwa gaji kami tak lebih uang jajan para expat itu, atau bahkan uang jajan anaknya yang sekolah di international school.” Abhuessss… sakit hati deh tiap kali harus memandangi laporan expense claim mereka. Hiks
Suka tak suka apa daya saat ini masih harus jadi “budak” di negara sendiri…
PS. Salam buat jeung Lulu
May 14, 2008 at 1:52 am
Sheilla: Ya begitulah, inilah namanya realita. makanya idealisme itu semakin habis, karena sesuatu yang ideal itu juga hampir tidak ada.
Kalau ketemu lagi sama jeng Lulu ya…hehe
May 19, 2008 at 4:48 am
dalam situasi seperti apapun, kita selalu punya hak istimewa untuk memilih. itu saja….
May 19, 2008 at 4:31 pm
imho ya… klo hidup aman realistis saja sudah tidak menyenangkan, hidup dalam idealisme pasti jauh lebih menyakitkan
May 21, 2008 at 1:38 am
Mya: setuju Mya, itu menunjukkan bahwa kita tidak memilih jalan itu.
Kenji: Itu tergantung konteknya juga Kenji. Berani menggambil resiko untuk kebaikan yang lebih besar, atau menjadi penjilat demi kebaikan sendiri..hahahha
May 21, 2008 at 7:43 am
ah..
sudahlah..
*berlalu. kembali macul*
May 21, 2008 at 8:51 am
Zam: Aku mengerti
June 26, 2008 at 9:06 am
well, tulisan yg sangat jujur dan menarik. Terima kasih telah menjadi inspirasi buat saya.
salam kenal
June 27, 2008 at 2:08 am
henry: benar, terlalu jujur dan ga ditutup-tutupi
June 28, 2008 at 5:20 am
vie… curahan hati banget yaaa..
aku ngerti saiki vie.. gmana divisi mu…
tapi masih mending daripada divisiku…
engga ada orang…. pssssttttt… di lantai 3 tinggal aku dan mas gandhi..
June 28, 2008 at 8:16 am
tiasatna: hmmm…. nggak ada orang klo kerjanya efektif bagus Mbak, malah peranan tiap personelnya bisa maksimal