brief unimportant update

Grey’s Anatomy series is definitely awesome. Imagine the cool doctors in operations room trying to save patients lives. However, it is not awesome at all when you lay down there as the patient. Having the first surgery in my life made me really nervous. Even though this was just a minor surgery that will not affect my vital organs. Long story short, i had two birthmarks that happened growing constantly in the past few years. Got worrying of severe disease such cancer of tumor, i decided to see a doctor to get my birthmarks examined.

I went to a private hospital that famous for its good services. At first, i made an appointment with skin specialist doctor who later refered me to surgery clinic. To send me from her clinic (skin) to surgery clinic, i have to pay the doctor almost two hundred thousand rupiahs :( I’m sure the profession as doctors is very prospective. They earn money easily. 

At the surgery dept, the surgeon instantly offered me to remove (is remove a proper word for that ? :(  ) the birthmarks. After making sure about the fee, considering my available cash, i agreed to have the minor surgery. I got local anaesthesia on my cheek and my chest before the surgeon and a nurse working to cut out the growing tissue. Quite chiller to hear the surgeon said “the scissor please”, or “the blade please” to the nurse. They did suture to the wound with a dark blue string. Cool isn’t it? Even the nurse showed me the string after finishing the surgery process.

Finished the surgery, i had to face another terrify thing, payment for the surgery. Yay, i had to spend almost a half of my deposit in ATM. Health is definitely expensive, moreover, priceless. Can’t wait to reimburse the spending to my office to get my money back :D Now, i have to protect the suture bandage from water, and it’s a little bit difficult since i cannot take a normal shower as usual. I really wait to get the suture opened and recovered.

membentuk harapan yang baik

Terpengaruh oleh teman baikku Mya dengan semangat positifnya menerapkan hukum tarik menarik, aku tergugah untuk membuat harapan-harapan yang baik dalam hidupku. Pada usiaku yang 25 ini (ya, 25!!) aku sudah memiliki 2,5 thn pengalaman kerja setelah lulus kuliah. Termasuk kategori beruntung kurasa :)

Aku meyakinkan diri bahwa tak lama lagi kondisiku akan lebih baik. Mungkin beberapa bulan mendatang. Pada saat yang tepat itu, sebuah kesempatan bagus akan datang, dan aku akan segera menyambarnya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk meyakinkan mereka bahwa aku pantas untuk mendapat kesempatan itu. Tak begitu lama, aku akan sibuk dengan hal-hal dan pekerjaan yang memberiku kesempatan untuk mengembangkan diri. Pada saat itu, mungkin aku hanya memiliki sedikit waktu untuk browsing internet diluar urusan pekerjaan :D Sejalan dengan membaiknya kondisi, maka aku akan mendapatkan insentif yang lebih baik pula. Oya, untuk mendukung hal itu, saat ini aku harus lebih banyak membaca agar lebih memahami bidang yang aku geluti ini. Bahwa bidang ini seharusnya begini, dan apa yang ada saat ini belum sampai pada tujuannya. Tapi di kesempatan yang akan datang nanti, aku dan timku akan bergerak kearah sana. Meskipun aku tahu, tetap tidak akan sempurna dan banyak kritik yang akan datang terhadap tujuan kami. Namun, setidaknya kami telah memulai langkah dan tidak jalan di tempat.

Oh, dan bukan tidak mungkin nanti aku masih tetap sering bepergian, jadi koperku harus selalu siap membawa kebutuhanku kemana saja. Juga, sepatu nyaman Reebok yang baru saja diberikan oleh orang yang sangat kusayangi. Selain untuk olahraga, sepertinya cocok jika harus berlari-lari di airport :D

Meskipun butuh waktu untuk membuatku nyaman dan menyadari apa yang aku inginkan dalam hidupku, tapi kesempatan baru itu akan membantuku menjajaki dan menemukan apa yang kucari. Harapan-harapan yang sangat baik bukan? :D

ketika idealisme itu telah habis

Mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional ketika kuliah, belakangan kuketahui sebagai sebuah “kesalahan”. Berbeda dengan disiplin ilmu lain seperti Ekonomi, Bahasa, atau Teknik yang lebih “membumi” dan bisa diterapkan, HI adalah sebuah awan yang mengambang di langit. Belajar mengenai Sejarah Sosial dan Politik Indonesia, politik dan pemerintahan negara-negara di dunia, atau membandingkan sistem Demokrasi dengan Sosialisme, atau mempelajari sistem perekonomian internasional dan kapitalisme yang hampir tidak pernah lebih menguntungkan negara dunia ketiga. Semua masalah yang diakui oleh seorang dosenku, ini adalah persoalan post-perut. Maksudnya, orang (Indonesia) tidak perlu membicarakan demokrasi atau bagaimana para kapitalis itu mengeruk kekayaan alam Indonesia, selama mereka masih memikirkan bagaimana meletakkan makanan di atas meja setiap hari. Ilmu HI terlalu fancy dan secara tidak sadar menumbuhkan rasa idealisme pada diriku sebagai penduduk negara dunia ketiga.

Setelah bekerja, aku “mengkhianati” idealismeku sendiri dengan bekerja untuk perusahaan asing (aka kapitalis yang dulu kubenci itu). Aku membela diriku sendiri dengan mengatakan bahwa Indonesia akan sulit juga tanpa investasi asing, dan toh investasi membuka ribuan lapangan pekerjaan bagi penduduk Indonesia. Meskipun aku tahu bahwa gaji kami tak lebih uang jajan para expat itu, atau bahkan uang jajan anaknya yang sekolah di international school. Meskipun setelah berkunjung ke site, aku baru menyadari bahwa Indonesia benar-benar kaya, dengan emas hitam yang seakan tak pernah habis. Dan apa yang dulu kami diskusikan dengan seru di mata kuliah Ekonomi Politik Internasional benar-benar kulihat dengan mataku sendiri. Aku masih membela diri dengan, yah, bagaimanapun banyak penduduk Indonesia mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya karena bekerja disini. Pembelaan diri berakhir dengan kesimpulan idealisme tidak akan memberi kita makan.

Sedikit idealisme masih tersisa, karena aku berada di divisi yang (seharusnya) memberikan kontribusi kepada masyarakat. Posisi yang seharusnya berada di tengah-tengah, bahwa ini bukan sekedar bekerja mencari uang, tapi menjadi agen yang memberikan sedikit dari apa yang telah diperoleh perusahaan. Nyatanya, disini aku “belajar” banyak hal. Bahwa membuat Visi dan Misi dengan kata-kata yang sangat fancy  jauh lebih mudah daripada mengimplementasikannya. Bahwa kita seharusnya bertanggung jawab dengan slogan yang telah kita buat sendiri. Bahwa membuat perencanaan dengan berlembar-lembar kolom di excel penuh dengan warna-warni, terkadang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaannya. Atau lembar-lembar excel itu memang hanya dibuat saja. That’s the way it is.

Pada akhirnya, orang terlalu lelah untuk mengeluh, bahwa apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya, atau lebih jauh tidak sesuai dengan hati nuraninya. Karena kenyataannya, banyak orang yang tidak perlu sepusing itu. Tidak perlu punya keinginan atau tujuan, selama posisinya aman tak tergeser atau tergoyahkan. Toh keinginan dan idealisme tidak akan masuk kedalam penilaian. Buat saja penilaimu itu senang, tak perlu ambil pusing. Orang-orang yang tidak bisa menerima sistem itu, akan menyingkir. Sementara para pemain aman akan tetap berada disana karena idealismenya telah habis.

Kali ini aku seperti jatuh dari awan dan tersungkur ke tanah.  

Do it anyway

Many people posted this poem on their blog. However, i cannot resist myself to post this on my own page. This is for me and for anybody who currently feels that everything goes wrong and the time keeps pass you by.

DO IT ANYWAY

People are often unreasonable, illogical, And self-centered;
Forgive them anyway.

If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives;
Be kind anyway.

If you are successful, you will win some false friends and some true enemies;
Succeed anyway.

If you are honest and frank; people may cheat you;
Be honest and frank anyway.

What you spend years building, someone could destroy overnight;
Build anyway.

If you find serenity and happiness, they may be jealous;
Be happy anyway.

The good you do today, people will often forget tomorrow;
Do good anyway.

Give the world the best you have, and it may never be enough;

Give the world the best you’ve got anyway.

You see, in the final analysis  it is between you and God 

It was never between you and them anyway. 

-mother Theresa-

 

 

relax

I’m demonstrating a new theme. check..check