telepon dan internet

Ternyata mengumpulkan semangat untuk menulis tidak mudah :( Sebenarnya ada banyak hal terjadi tetapi tidak yakin apakah cukup layak untuk ditampilkan di blog. Atau setidaknya apakah aku bisa mengemas cerita-cerita itu menjadi bacaan yang layak untuk dibaca :twisted:

Saat ini aku sudah tepat dua minggu kembali ke kantor Jakarta. Dan ada dua hal yang terjadi dengan fasilitas kantor yang kupakai. Pertama telepon. Mejaku terletak di pinggir jalan, dan tidak strategis. Jika ada orang lewat, mereka akan dengan mudah melihat ke layar notebook-ku yang memang menghadap jalan raya :( Sehingga, terlalu sering terlihat sedang browsing sangat tidak menguntungkanku. Aku pernah tertangkap basah sedang main game, dua menit sebelum jam satu siang. Jam satu adalah waktu istirahat habis. Sedang asyiknya bermain, sampai tidak sadar bahwa bapak Presdir yang gemuk itu sedang berdiri di belakangku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pas aku menoleh, hehe, aku hanya bisa tersenyum. BTW aku tidak merasa bersalah karena, toh aku tidak main game di jam kerja. Jam satu kurang dua menit, tetap saja belum jam satu :P

Kembali ke telepon. Di mejaku juga terdapat telepon yang juga menghadap jalan raya. Untungnya, berada di Dept. External Affairs membuatku mendapat akses telepon keluar secara tak terbatas. Sayangnya, selama aku berada di Sangatta, ada pihak-pihak yang memanfaatkan pesawat telepon itu untuk menelpon keluar semau mereka. Menurut rekan kerjaku, setiap hari tulisan “missed call” di layar telepon selalu hilang. Dan hal ini hanya bisa terjadi ketika ada orang yang memakai telepon itu. Kejadian itu berlangsung selama dua bulan, selama aku tak ada. Ketika dua minggu lalu aku datang, kulihat banyak nomor handphone tak ku kenal di “placed calls”.

Kemudian bosku memintaku untuk membuat untuk membuat PIN untuk teleponku untuk mencegah orang-orang memanfaatkannya. Meski beliau tidak menjelaskan apapun dibalik permintaan membuat PIN itu, tapi aku mengasumsikan bahwa sang Bapak telah diberitahu oleh Dept IT mengenai tagihan telepon dari nomor extention-ku selama dua bulan terakhir, mengingat bapak bosku bukan orang yang terlalu concern dengan masalah sejenis telpon ini. Saat ini nomor PIN telah jadi, dan hanya aku yang bisa memakainya untuk telepon keluar :D

Kedua, internet. Setelah diblokirnya akses terhadap web-web social network (friendster, facebook, multiply, flickr), video streaming (Youtube, download), chatting, job search (ya, akses ke Job Search pun di blok oleh IT), hari senin lalu Presdir yang baru mengeluarkan Memo yang intinya berisi; bahwa setelah ditelusuri aktivitas di internet terutama email di webmail (Yahoomail atau Gmail) mencapai angka yang cukup besar, menggunakan banyak bandwith, dan menghabiskan lebih dari US$ 55,000 pertahun untuk biaya akses internet. Keputusannya, mulai tanggal 1 Mei mendatang, semua akses internet akan dihapuskan :twisted: :twisted: Terkecuali untuk bos-bos besar, atau ada special request yang alasannya dapat diterima oleh Presdir untuk mendapatkan akses internet. Betapa kejamnya?? Lalu bagaimana dengan akses informasi? Apakah kami harus membongkar koran? Atau membuat kliping? Aneh sekali bukan? Foreign company without internet access.

Sepertinya mulai bulan depan, aku harus membayar sendiri akses internet dengan provider cellular. Sigh :twisted:

Posted in Work. 8 Comments »