akhir pekan yang terlalu cepat, hujan dan bus

Hari ini sudah senin lagi. Libur satu hari di hari minggu berakhir tak berasa. Kemarin aku bisa bangun setengah delapan pagi, lalu ke mess hall untuk minum teh hangat dan makan telur ceplok untuk sarapan. Pergi ke mini market dan warung sulawesi untuk makan coto makassar pada siang harinya. Membaca dan menonton film di Cinemax, tanpa terasa hari sudah malam. Aaaaarrghhh, hari minggu sudah berakhir :twisted:

Tuan rumahku selama di project, orang yang selalu kutumpangi mobilnya untuk naik ke kantor (kantornya di perbukitan yang ditambang), hari senin ini harus medical check up. Dia baru bisa naik setelah waktu makan siang. Itu artinya aku harus berusaha untuk naik ke kantor sendiri. Dengan cara apa terserah, asal aman tentunya. Tadinya berniat untuk “menodong” orang yang memegang mobil untuk ikut menumpang. Kenyataannya, sepanjang hari minggu aku tidak menemukan orang yang potensial untuk kuminta tumpangan. Minta pada orang tak dikenal? Tak enak dan malu rasanya. Apalagi mereka laki-laki. Sebenarnya tidak ada masalah dengan gender ini, justru kadang lebih nyaman karena laki-laki lebih rasional dan fair. Tidak seperti perempuan yang penuh rasa curiga, iri dan tersaingi. Hah, kadang-kadang aku tak suka dengan perempuan :(

Akhirnya, karena tak dapat tumpangan, aku-pun harus naik bus jemputan. Resiko-nya harus siap2 menunggu di halte depan camp lebih pagi. Dan jelas, aku tak bisa keluar dari kamar jam setengah enam pagi seperti biasanya. Bakal ketinggalan bus :( Meskipun baru tidur jam setengah 12, aku tak mengalami masalah ketika harus bangun setengah lima, dan tanpa bermalas2an harus langsung mandi. Mungkin setelah tiga minggu ini, badanku sudah menyesuaikan diri dengan ritme bekerja sejak subuh. Masalah muncul ketika hujan tiba2 turun. Kenapa hujan harus turun di jam segini, ketika kami harus bersiap-siap untuk berangkat? Kenapa tidak tadi sore atau malam saja? :mrgreen:

Jam lima tepat aku sudah meluncur ke mess hall setelah menerobos hujan dengan tutup kepala sweater. Sambil menunggu bus datang jam 05.15, aku sempat membuat teh dan memanggang roti untuk kubungkus. Biasanya, aku tak pernah sempat memanggang roti apalagi minum teh. Roti dengan selai strawberry kubungkus di kertas minyak, lalu dengan beberapa teman langsung menuju halte. Di luar, hujan semakin deras, dan menggigil-lah aku di halte. What the hell am i doing here right now? At 5.15 am in the morning, in the middle of freaking rain!! :twisted:

Read the rest of this entry »

daerah tertinggal, tanggung jawab siapa?

rscn4356.jpg

Ketertinggalan di daerah memang sebuah persoalan klasik di Indonesia. Ketertinggalan ini mungkin bisa dimaklumi jika terjadi di daerah yang gersang atau tidak memiliki kekayaan alam yang berarti. Ironisnya, ketertinggalan juga terjadi di daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Kekayaan alam yang ada tidak semerta-merta membuat masyarakat di sekitarnya menjadi makmur. Aku tidak bermaksud menyalahkan pihak tertentu atas masalah ini, mengingat aku sendiri bekerja di sektor pertambangan yang seharusnya “bertanggung jawab” kepada masyarakat.

Kekayaan alam memang harus dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup umat manusia. Termasuk sumber energi yang tersimpan didalam perut bumi. Manusia memerlukan sumber energi ini, untuk listrik, bahan bakar, dll. Yang perlu ditekankan adalah manajemen dari eksploitasi sumberdaya ini. Dan sayangnya, pengelolaan sumberdaya ini lebih berorientasi kepada pasar, bukan pada kebutuhan dalam negeri. Batu bara dan minyak lebih banyak diekspor daripada digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Itulah mengapa meskipun kalimantan timur memiliki kilang minyak di Balikpapan dan tambang batubara terbesar di Indonesia, listrik masih sering padam. Bahkan di Balikpapan listrik dari PLN dipadamkan secara bergilir di setiap lokasi.   

Read the rest of this entry »

beberapa hal yang saya sukai di sangatta

Setelah tiga kali mengunjungi sangatta, aku menyimpulkan beberapa hal yang aku sukai di sangatta.

1. Tidak ada kemacetan,

Tinggal hampir dua tahun di Jakarta, dimana sampai saat ini masih misuh2 setiap kali terjebak kemacetan, tinggal di sangatta adalah sebuah relieved. Sangatta kota kabupaten yang ramai, meskipun demikian tidak sampai ada kemacetan. Selain itu, para pengendara, terutama yang bekerja di pertambangan merupakan pengendara yang baik. Saling memberi kesempatan, dan tidak ada ceritanya sopir seperti sopir metromini di ibukota.

 2. Lega.

Meski ramai, disini masih banyak ruang yang tersisa.  Ada sungai yang airnya mengalir deras, sudut penuh pepohonan yang sepi. Berbeda dengan Jkt yang di setiap sudut, dan mungkin kolong, ada manusianya. Sumpek, sempit.

3. Kabut dan udara segar

Karena berangkat kerja subuh-subuh, hampir setiap pagi kami bertemu dengan kabut dan udara dingin yang masih segar. Kecuali sudah sampai ke areal pertambangan yang sudah banyak kendaraan lalu lalang.

4. Burung-burung dan kupu-kupu yang beterbangan.

Indah sekali melihat burung-burung yang beterbangan seolah berkejaran. Kupu-kupu lalu lalang kemudian menghilang diantara rimbunnya daun-daun. Syukurlah masih ada tempat yang cukup nyaman untuk kalian :D

5. Ruang publik yang luas

Kalau di Jkt, jogging di pagi hari menjadi sesuatu yang mengerikan untukku. Membayangkan suitan laki-laki (yang entah apa maksudnya dan apa untungnya) sepanjang jalan. Harus jogging di treadmill? Harus masuk ke fitness center dan mbayar pula. Disini, jogging keliling kompleks di pagi hari menjadi sesuatu yg menyenangkan. Masih bisa menghirup udara segar, melihat tetesan embun di daun2 dan rumput, serta mendengar kicauan burung.

Ada juga beberapa lapangan sepakbola, taman bermain, dan tempat duduk-duduk yang bisa digunakan untuk umum secara gratis.

6. Tidak ada mall

Bukannya tidak butuh mall, tapi ketiadaan mall bisa berarti positif. Uang tidak akan cepat terkuras, dan para pelaku usaha kecil menengah akan memainkan peran pentingnya.

7. Murid-murid SD Kabo Jaya 003 yang pandai-pandai. Semoga keterbatasan fasilitas sekolah tidak menghalangi mereka untuk maju.

8. Ada warung Bakso Solo yang enak (bakso Solo Pak Dhe) , Cotto Makassar yang enak (di Warung Sulawesi), rumah makan seafood Idaman.

Ah, aku akan selalu ingat Sangatta :D

bontang trip

Rencana jalan-jalan ke Bontang yang sempat tertunda pada Desember lalu karena kelangkaan BBM di Kaltim, akhirnya bisa diwujudkan hari minggu kemarin, 10 Februari 2008. Tujuan utamanya ada dua, yaitu kawasan Bontang Kuala (pantai), dan perumahan Pupuk Kaltim yang hijau dan segar :D

bontang-004.jpg

bontang-021.jpg

dscn4285.jpg

dscn4286.jpg

dscn4296.jpg

dscn2356.jpg

dscn4309.jpg

dscn4313.jpg

dscn4315.jpg

dscn4331.jpg

i love you grandma

thankful.jpg 

Monday night, while reading Harry Potter and the Deathly Hallows, i got an sms from my little brother tell me that our grandmother passed away while ago. I got shock and suddenly lost my desire to continue the Harry Potter adventure to defeat the Prince of Darkness Lord Voldemort. I closed the book and replied my brother that i couldn’t go home since i still in a project in remote Kalimantan. I tried to call my another brother in Jogja but he didn’t pick up my calls. Finally, i sent an sms to him and ask him to go home to Tegal. His position in Jogja still very possible and reachable by less than a day trip. I got distracted for a while didn’t know what to do.

This grandma was the one whom i knew most. Other three grandparents passed away when i was very little to understand what happened. Maybe this thing is common, i mean, yes off course my grandmother is very old, seventy something person (she didn’t has a birth certificate). She was special for me since she was the only grandma i knew. Recently, i just realized that she had passed so many hard things in her life. Even in her very last of life. She was the mother of my mother, gave birth for 15 children (yes 15!) but there are 10 children remaining because some of them passed away on their childhood. She raised in a farmer family who didn’t consider education important for their children. I could say that my grandma’s family was not too poor to send her to the school. Poor grandma, she only went to elementary school (sekolah rakyat) and after that got married with my grandpa. Another common story of old generation family in Indonesia.

Read the rest of this entry »