memulai perjalanan lagi

Ternyata memang banyak cara untuk menjalani hidup ini. Tidak hanya berdiam diri di suatu tempat dan suatu pekerjaan dalam suatu kerangka waktu stagnan yang cukup lama. Hidup bisa juga dijalani dengan aktivitas berpindah-pindah dan menempuh banyak perjalanan. Semuanya karena pilihan. Bukan suatu kebetulan ketika seseorang “bersedia” untuk perpindah-pindah atau “bersedia” untuk berhubungan jarak jauh dengan seseorang yang disayangi. Semua itu karena, kondisi itulah yang terbaik yang bisa didapat untuk saat ini. Dan ini adalah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar di masa yang akan datang.

Aku belum mulai packing sama sekali untuk keberangkatanku ke Sangatta lagi besok. Aku hanya baru memastikan pakaian yang akan kubawa sudah bersih dan disetrika. Sudah membeli shampoo dan lipgloss baru karena yang lama tinggal beberapa tetes. Sudah memastikan buku apa saja yang akan kubawa. Sudah tahu buku apa yang akan kubaca ketika menunggu boarding dan didalam pesawat, karena perjalanan lebih dari satu jam hanya terbengong-bengong adalah membosankan sekali. Maklum, aku sangat jarang bisa tidur di perjalanan. Dan satu lagi, untuk orang pemalas yang sering menjadikan “capek sepulang kerja” sebagai alasan untuk tidak membaca buku, membaca di perjalanan berguna sekali. Ini sudah kubuktikan beberapa kali, membaca setengah buku Laskar Pelangi di perjalanan kereta Jogja-Jakarta. Setengah buku Five People You Meet in Heaven (Mitch Albom) di perjalanan Jakarta-Balikpapan minggu lalu. Serta beberapa buku di perjalanan sebelum-sebelumnya.

Read the rest of this entry »

lima undangan (makan) di hari raya

Ini adalah postingan yang tertunda, eh tidak tertunda, karena baru saja kutulis dan upload. Ingin menulisnya pada saat itu, tapi tidak terlaksana karena waktu itu aku tak sempat bersentuhan dengan internet. Aku memutuskan untuk merayakan Idul Adha di Sangatta, dan ini mengundang pertanyaan banyak orang mengenai mengapa aku tidak sekalian saja pulang sebelum hari raya dan merayakannya di “rumah”. Ya, aku memutuskan untuk pulang ke Jawa pada hari jum’at setelah Idul Adha. Kupikir tidak ada salahnya merayakan hari raya sesekali dengan cara yang berbeda, jauh dari rumah. Dan ternyata keputusanku ini tidak buruk sama sekali :D bagus sekali malah. Aku dan teman-teman menerima lima undangan (makan) di rumah lima orang rekan kerja yang memang bertempat tinggal di Sangatta bersama keluarganya.

Lima undangan dalam waktu 12 jam? Apa mungkin mendatangi semuanya? Memangnya kuat makan di setiap rumah yang kami kunjungi? Apalagi setiap istri dari bapak-bapak kolega kami dengan semangatnya mengundang “nanti mampir ke rumah ya, saya sudah masak banyak lho”. Dan akhirnya, kami benar2 memenuhi kelima undangan itu. Persiapannya, siapkan dan kosongkan perut. Kalau perlu berangkat dari camp tidak usah makan atau minum dulu. Sebenarnya ini sangat melanggar semangat diet yang sedang kucanangkan untuk diriku sendiri :mrgreen: tapi bagaimana, kami harus menghormati orang-orang yang mengundang dan tentu saja menikmati suguhannya :D Kata seorang teman yang pernah merayakan Idul Fitri di Sangatta, karena memang belum jadwal cutinya, lima undangan ini masih mending, kalau lebaran, bisa lebih parah lagi, sampai 10 undangan. Jadi begini kronologis kunjungannya :D

Read the rest of this entry »