masih tentang sangatta

2007 December 15
by evicipluk

blue-sky.jpg 

 * Langit yang selalu biru di Sangatta

 Ini kesekian kalinya aku menulis mengenai Sangatta. Menulis memang benar “menyembuhkan”. Seperti curhat kepada seseorang yang akan setia mendengarkan dan tidak akan protes atau mencela apa yang kau katakan. Kecuali jika ada komentator yang protes :D

Travelling memang sangat berguna. Dalam arti kita pergi ke tempat lain yang bukan kampung halaman dan tidak kita kenal sebelumnya. Bepergian membuka mata kita, memperkaya pengalaman, dan menyadarkan kita bahwa di belahan bumi yang lain segala sesuatunya bisa sangat berbeda.

Sangatta, adalah kota yang berkembang karena adanya tambang batubara terbesar di Kalimantan Timur. Di wilayah ini terkuak isi perut bumi yang sangat bernilai. Yang diambil hingga lebih dari 20 juta ton setiap tahunnya. Dan diperkirakan belum akan habis hingga 20 tahun mendatang. Orang-orang dari penjuru tanah airpun berdatangan untuk mencari penghidupan. 60% dari seluruh penduduk Sangatta bekerja di sektor pertambangan mulai dari staff sampai pegawai rendah. Jumlah pendatang tidak kalah banyaknya dan hampir “menyingkirkan” posisi penduduk asli yang merupakan suku Dayak dan Kutai.

Lahir dan besar di pulau Jawa yang cenderung homogen, melihat keaneka ragaman penduduk Sangatta membuatku heran. Ketika kuliah di Jogja pun, sebenarnya teman2ku sudah sangat beragam, tapi disini, semuanya terlihat dengan jelas. Tanpa bermaksud SARA, di Sangatta kutemukan penduduk non muslim sama banyaknya dengan penduduk yang beragama Islam. Ini terlihat dari banyaknya gereja-gereja yang tersebar dari kota hingga ke pelosok kampung. Selain itu, disini masyarakat membuat perkumpulan-perkumpulan yang berbasiskan etnik. Pernah kulihat base camp Ikatan keluarga Jawa, keluarga Minang, Keluarga NTB & NTT, keluarga Toraja, keluarga Batak, dan tentu saja gerakan pemuda asli Dayak, dan asli Kutai Timur.

Pernah melintas di pikiranku, bahwa ikatan-ikatan kuat semacam ini bisa menjadi masalah ketika tidak di manage dengan baik. Ketika satu sama lain memiliki perspektif negatif atau bahkan memandangnya sebagai rival. Menurutku ini sangat rentan. Pemerintah daerah setempat sangat perlu untuk membantu mengharmoniskan seluruh masyarakat ini. Khususnya tugasku sebagai penghubung perusahaan dengan masyarakat, gerakan-gerakan penduduk asli cukup pelik dan sensitif. Karena kenyataannya, mereka memakai alasan “penduduk asli” sebagai alat untuk menyalurkan berbagai kepentingannya.

Sektor perekonomian lain yang ada disini mendukung segala aktifitas masyarakat pertambangan. Sama seperti Jogja, dimana mahasiswa menjadi penggerak perekonomian, begitu pula disini. Warung makan, toko-toko, mini market, rumah sakit (kecil), apotik, bengkel, penjahit, catering, dll semuanya diperuntukkan untuk masyarakat yang notabene bekerja di pertambangan. Tak heran, disini harga-harga menjadi mahal. Harga kebutuhan pokok 1000 sampai 3000 rupiah lebih mahal daripada harga di Jawa. Ini juga berlaku untuk makanan. Aku pernah merasa rugi ketika harus membayar jus buah di warung pinggir jalan seharga Rp. 7.000,- satu gelasnya. Sementara di Jakarta, aku bisa membeli jus yang sama hanya dengan Rp. 4.000,- . Contoh lain, satu ekor ikan Nila bakar ukuran sedang (belum termasuk nasi) seharga Rp. 38.000,- . Aku bisa menyesal kalau saja waktu itu tidak ditraktir :mrgreen: Oleh karenanya, penghasilan besar menjadi tidak sebanding dengan harga2 barang yang harus dibeli. Dengan kata lain, penghasilan besar hanya kelihatannya saja, ketika dibelanjakan akan sama saja.

Ada satu lagi keanehan yang kutemukan disini. Orang-orang yang telah bertahun-tahun tinggal di Sangatta akan berbuat seperti ini; diam berarti iya, atau tidak berkomentar. Ini berbeda dengan budaya “speak up” yang selama ini aku tahu dan aku anut. Speak up your mind, so others will understand. Aku sempat merasa keki dan jengah, ketika berulang kali aku menanyakan sesuatu dan dijawab dengan sikap diam. :twisted:

Bayangkan saja ketika percakapan menjadi begini:

- Itu benar ya rumahnya D?   Jawab: diam (berarti iya, itu rumahnya D)

- Ada rantai dibawah mobil yang menggantung. Apa tidak bisa dibetulkan? Jawab: diam (berarti tidak apa2 ketika rantai dalam kondisi seperti itu).

- Kamu ingatkan waktu itu aku sudah ambil foto dump truck? Jawab: diam (iya, dia tau aku sudah pernah memotret dump truck)

- Apakah orang lain selain operator bisa naik ke kabin dump truck untuk menumpang? Jawab: diam (nggak jelas ini artinya iya boleh, atau nggak boleh).

Mungkin itu memang budaya, but sorry then, i don’t think that’s the right way to treat and response people. I’m definitely not going to adopt that culture. (correct me if i’m wrong anyway).

Hidup di pedesaan memang cenderung lebih tenteram, dan tidak perlu berjibaku dengan keganasan kota metropolitan. Tapi bagaimana ketika keadaannya seperti; koran Kompas akan datang sehari sesudah tanggal terbitnya, dengan kata lain tidak ada koran hari ini, adanya koran kemarin. Mencari barang apa saja, terbatas pada pilihan karena tak banyak toko yang jual. Belum ada toko buku yang cukup besar untuk menjual buku-buku best seller atau buku baru. Tapi bagaimanapun, menurutku Sangatta berhak menjadi sebuah kota yang maju, terutama dari segi pembangunan kualitas sumber daya manusianya. Agar sebanding dengan sumber daya alam yang Tuhan berikan untuk Sangatta.

17 Responses leave one →
  1. 2007 December 15

    dan kota dengan rakusnya menyedot keuntungan ke sana..

    dan Sangatta dan kota-kota sejenisnya akan tetap begitu saja..

    hanya kerusakan alam dan habisnya SDA yang tersisa di sana..

    ha tapi gajinya kan gede?

  2. 2007 December 16

    Zam: it’s very ironic but true :( Sebelum otonomi daerah memang kasihan sekali, semua royalti dan pajak dari pertambangan lari ke pemerintah pusat. Setelah otonomi, ada bagian2 yang memang harus diperuntukkan untuk daerah. Tapi kembali lagi, uangnya lari kemana?

    Kalau soal gaji, spt kuceritakan tadi Zam, memang sebanding dengan harga2 disana. Kalau dibandingkan harga di Jawa emang kelihatannya besar banget.

  3. 2007 December 17

    yup, ucapan “terima kasih” di sini menjadi sesuatu yang langka dan mahal :D

  4. 2007 December 17

    Biho: apa kmu bisa menjelaskan kepadaku mengapa terjadi begitu? :(

  5. 2007 December 17

    gak ngerti aku, udah adat istiadatnya kali.

  6. 2007 December 21

    Dah mendingan kamu jadi pengamat aja cocok kok, eh bagus artikelnya Evi wah apalagi pemandanganya….Siplah

  7. 2007 December 27

    Gento: makasih pujiannya. Ini baru belajar menulis kok :P

  8. 2008 January 9

    Salam kenal,
    Udah krasan tinggal di Sangatta?
    Selamat menggali banyak ilmu di sini.
    Salam

  9. 2008 January 9

    Salam kenal juga mama icel. Saya hanya sementara tinggal di sangatta. Bolak-balik saja. Betah sih, cuma kalau terlalu lama bosan juga :D

  10. 2008 March 1

    Hi…
    salam kenal yach, mau leave a comment. Waktu baca blog kamu aku jadi mengenang masa masa tinggal di Bali, memang ada banyak hal yach yang kita bisa dapatkan yang tidak kita dapatkan di tempat kita tinggal sebelumnya. Inilah pengalaman hidup….Ciao

  11. 2008 March 3

    Nate: Betul, pengalaman ini memang sangat berharga dan kita tidak bisa mengembalikan waktu untuk mengulangi waktu. Terimakasih udah mampir ya… :D

  12. 2008 March 13
    Yaji Yugo Utomo permalink

    Salam kenal selalu
    saya sebagai putra asli kalimantan timur merasa bahwa daerah saya sangat bagus disangatta sangat hebat dibandingkan dengan daerah yang lain,kultur budayanya sangat berbeda dengan yang lain, is your Biuty

  13. 2008 March 13

    Yaji: Wah, putra daerah ya. Saya setuju, Kaltim memang indah. Semoga hutannya masih tetap terjaga ya. Kalau di Sangatta saya justru kurang melihat budaya asli ya, karena disini banyak pendatang dari berbagai daerah. Termasuk saya :D

  14. 2008 October 16
    Djoko permalink

    salam kenal,
    saya dari aceh… apakah anda masih di sangata sekarang?

  15. 2008 November 27
    atin permalink

    sebuah pilihan berat lagi ne
    mungkin akan ke sangatta juga..

  16. 2009 February 19
    iman permalink

    dengan berjalannya waktu jangan membuatmu seperti mereka yang diam berarti iya. tersenyum, menyapa atau menjawab adalah lebih baik.

  17. 2009 February 19

    Iman: Saya tidak seperti itu kok, saya tetap talkative seperti sebelumnya. Iya atau tidak, saya jawab pertanyaannya. Oya, saya sudah tidak di Sangatta lagi :D terimakasih udah mampir.

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS