tentang kehidupan di site
*Matahari terbit di Sangatta
Sudah seminggu bekerja di site. Merasakan atmosfir baru, ritme baru, orang-orang baru, dan aku (apakah aku baru? entahlah). Aku ingin menggambarkan beberapa hal dan rutinitas disini.
Pagi hari adalah saat yang terberat. Untuk mulai bekerja jam enam pagi, kami harus berangkat dari camp (mess) jam setengah enam. Untuk bisa siap setengah enam, paling tidak harus mandi jam lima pagi. Untuk bisa mandi jam lima pagi, paling tidak harus bangun jam lima kurang seperempat. Karena hampir tidak mungkin begitu melek langsung mandi, apalagi mesti melawan rasa kantuk dan tubuh yang belum rela bangun. Tiga sampai empat hari pertama berat sekali untukku. Badanku masih jetlag, apalagi waktu kaltim satu jam lebih cepat dari waktu jakarta. Kalau bangun setengah lima pagi disini, itu sama saja dengan bangun setengah empat waktu jakarta. Siapa yang mau bangun jam segitu?
Aku menyetel dua alarm setiap pagi, jam 04.30 dan 05.00. Harus dua kali, kalau tidak, aku bisa terlelap lagi. Akhirnya jadi begini, setengah lima alarm pertama bunyi, lima menit kemudian bangun untuk sholat subuh. Habis sholat, lumayan masih punya 10-20 menit, aku pun meringsek lagi di bawah selimut. Gosh, badanku benar2 tak rela bangun. Akhirnya mandi jam lima (seringnya jam lima lebih
) dan dengan terburu2 menyemprotkan splash cologne, mengoleskan lotion ke kaki dan tangan (aku hampir tak bisa pergi tanpa pakai lotion dulu
), berpakaian, memakai moisturaiser dan bedak(kalau msh ada waktu) mengambil kaus kaki dari lemari, dan keluar dari kamar dengan cepat, jam setengah enam (atau lebih). Kenyataannya aku lebih sering tak sempat memakai bedak, blush on dan lip gloss sebelum berangkat, jadi aku memakainya sesampai di kantor
Di luar, penjemputku dan beberapa orang yang selalu berangkat bersama serta sang mobil ranger kesayangan sudah siap dengan manis, hanya menungguku!
Tapi tetap saja aku meminta waktu 2 menit untuk ke ruang makan untuk mengambil roti atau telur rebus untuk sarapan, dan box makan siang. Kami pun berangkat. Tapi disini tidak ada kata macet, jalannya seperti toll cuma sesekali ada mobil ranger lain atau sesekali dump truck yang ban-nya saja lebih tinggi dari tinggi badanku
Disini sebenarnya ada ratusan dump truk, puluhan escavator, puluhan mobil tangki, ratusan mobil ranger, tapi tetap saja tak ada kemacetan. Sepi, dan lengang. So, the damn Jakarta is much more crowded than hundreds of giant dump trucks
* Parade dump truck
Sepulang kerja, kembali ke camp. Biasanya langsung ke ruang makan lagi untuk makan malam. Ini lebih baik karena sekalian kotor, daripada makan setelah mandi, badan akan bau makanan lagi. Makanan cukup bervariasi, dan berganti menu setiap hari. Juga ada lalapan, cake, dan buah. Tapi dasar orang Indonesia, udah disediakan segitu banyak makanan, ada saja setiap hari yang minta dibuatkan mie rebus atau mie goreng. Makanan sangat berlimpah. Entah karena karyawan yang porsi makannya sedikit, atau emang stoknya terlalu banyak. Setiap hari makanan yang tidak habis dibungkus dan dibawa petugas kantin untuk keluarganya. Untuk yang suka MG (makan gratisan), ini adalah surga. Tapi, hati-hati dengan lemak yang terus menumpuk. Hiiiii
Kamar camp sangat bagus. Luas dengan ukuran 4×6 meter dengan kamar mandi di dalam (bisa air panas juga). Ada lemari, meja, kursi, TV 14 inch, kulkas 1 pintu dan ber AC. Project sangatta memang memiliki fasilitas camp yang paling baik diantara project lain. Di Senakin, kamar camp tidak seluas ini, dan harus berdua. Juga tidak ada TV ataupun kulkas. Makanya Senakin dijuluki Alcatraz oleh kami
Disini, bekerja dan sibuk adalah sangat lebih baik. Kalau tidak, rasa bosan akan melanda. Apalagi, tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Tetapi untuk mencari makanan, cukup mudah. Di Kota, ada banyak tempat makan. Dari bakso Solo, Coto Makassar, Gado-gado, rujak cingur, rawon, pecel, bakar-bakaran seafood, sampai makanan jawa sejenis sayur asam juga bisa dicari warungnya. Kalau perutnya kuat, tak masalah. Kalau sensitif, hati-hati terkena diare.
Di sangatta sudah ada angkot, yang oleh penduduk setempat disebut TAXI. Angkot/taxi ini hanya ada satu jenis dan tujuan. Mereka hanya mengitari sangatta dari ujung ke ujung yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Keistimewaan angkot taxi ini adalah dia akan melayani permintaan kita. Contohnya, jalan menuju camp sekitar 1oo meter dari jalan utama adalah bukan jalur utama. Tapi sang angkot bisa mengantar hingga depan camp jika kita minta. Begitu juga dan jalur-jalur bukan utama yang lain. Angkot akan mangkal di pasar sangatta lama dan town hall KPC (lain kali kubahas mengenai town hall ini). Angkot-angkot tersebut akan berderet secara paralel. Tidak seperti di jawa dimana kita akan naik angkot yang paling depan, karena angkot itulah yang akan berangkat duluan, di Sangatta tidak demikian. Kita akan diminta untuk naik angkot diurutan paling belakang, karena dia yang akan segera berangkat
Oya, ketika membayar angkot, tidak perlu terburu-buru. Kalau biasanya kita sudah menyiapkan uang dan siap diserahkan begitu turun, di Sangatta sopir angkot akan dengan sabar menunggu penumpang turun, mengeluarkan dompet, memilih-milih uang, dan memberikannya. Disini jauh- dekat bertarif Rp.3000,-
Sekian gambaran untuk kali ini. Lain kali kusambung lagi.






Evie, gw salut banget sama kamuuu… walopun Jakarta lebih crowded daripada ratusan dum truck, gw ga bisa membayangkan hidup jauh darinya…
Tapi untunglah makanannya di sana enak2, kalo nggak… mmmhhhh
Trus kalo pulang kantor biasanya ngapain aja? Kalo keluar main sama temen2 biasanya ke mana?
Jadi kelingan,
Dulu di kampungku, angkot kijang kotak warna kuning juga disebut Taxi kota!
Trayeknya Tegal-Slawi.
Salam jauh, dan sing ati-ati ya mbak Cipluk!
Sheilla: Iya, juga Sheil, kalau dipikir2, kok mau ya aku ditaro disini. benar2 menantang diri sendiri. tapi emang aku aslinya orang daerah kok, jadi ga metropolitan banget. nggak ke mall sebulan juga gpp, asal semua kebutuhan ada
kang Dwi: iya, dulu waktu masih disana aku yo hampir tiap hari naik taxi, eh angkot. Maturnuwun kang dwi…
Meski lebih sepi, kayanya di Sangatta lebih banyak yang diceritakan ya! Mungkin karena waktunya tak tersita oleh hal2 lain, seperti menyusuri macet yang bikin saiko dan menerjang banjir. Udah tau Jakarta banjir lagi kan?
Mya: iya, disini banyak hal baru yang bisa diceritakan. Kalau dipikir2, Sangatta itu mirip dg Stars Hollow loh, terutama di daerah Kompleks KPC, ada town hall yang jadi pusat niaga dan aktivitas masy. Iya, kulihat di TV tuh… banjir lagi
hua..
marai pengen..
mana skrinsutnya??
Zam: kepengen po? Skrinsutnya nanti tak upload menyusul ya. Jadi ntar lihat kesini lagi aja
Zam, kopdar di Jogja yuk. Insya Allah aku tgl 21 balik ke Jogja sampa tgl 27 atau 28 mungkin..hihi
kalo gitu kita bernasib sama dong…
tinggal di kota yang sepi : bontang
cuman klo disini lebih mendingan daripada sangatta…
di bontangkan emang lebih rame dikit dari sangatta… ada mallnya lagi…
tapi sayang nggak ada bioskop…
Laily: Tinggal di kota kecil ada enaknya juga kok, bs menikmati alam, dan hal2 yg kelihatannya remeh tp tak bisa ditemukan di kota besar. Kalau g ada bioskop, bisa beli DVDnya aja
Makasih dah mampir ya..
Wah kerja di kpc ya mbk?Jd operator escvtr ya,asik tu muter muter,lam knal ,aku di tanjung bara,
Krebo: wah, saya belum sehebat itu untuk jadi operator escavator Mas. mesti jadi perempuan perkasa dulu nih..hehehhe.
emang kelihatanya susah kamu tingal&kerja d sana.tapi lebih susah lagi aku yang belum dapet kerja.