let’s wait and see

Perubahan hidup selalu terjadi, baik menyenangkan atau tidak, kadang menyisakan perasaan terloncat. Meskipun perubahan itu sengaja kita pilih sendiri. Beberapa waktu ini aku memikirkan kembali mengenai pekerjaan dan perkembangan karirku. Datang ke project awal November lalu, aku mendapatkan tawaran untuk pindah dan permanen kesana :) Memang “hanya” sebuah tawaran secara lisan oleh sang Project Manager. Karena sudah merasa jenuh dan monoton bekerja di kantor Jakarta, kusambut saja tawaran sang PM; “serius Pak? Saya mau saja, asal boss saya di Jkt mengijinkan”. Dan sang PM memintaku untuk stay saat itu juga. Dan sayangnya, permintaan beliau harus kutolak dengan alasan aku hanya membawa perbekalan untuk empat hari, dan ada beberapa program yang hampir selesai di Jkt.  

Sampai di Jkt, kembali ku timbang-timbang. Bagaimana kalau aku jadi permanen disana, dan apa keuntungan dan kerugian yang mesti kutanggung. Salah satu alasan kuat untuk pindah ke project adalah bahwa aku butuh tantangan baru dan tanggung jawab yang lebih besar. Aku perlu mengeksplore kemampuanku, dan aku merasa masih terlalu muda untuk menjadi malas. Mungkin (maaf) untuk orang yang tipe PNS, ga ada masalah sama sekali, bekerja dengan load ringan seperti itu. Tapi untuk saat ini, tidak denganku.

Read the rest of this entry »

Posted in Work. 5 Comments »

disiplin adalah kunci dari kesuksesan

Judulnya memang serius sekali, tapi memang benar kan kalau disiplin adalah kunci dari kesuksesan? Karena ketidak disiplinan bisa “ruin your life”. Itu yang kualami kemarin :( Ketinggalan pesawat dua kali nyaris membuat jadwal dan pekerjaanku berantakan. Takkan kuulangi lagiiii!! :twisted:

Dengan penerbangan ke Balikpapan jam 4 sore, aku dengan pedenya baru minta diantar sopir jam 2 siang. Dua jam sebelumya? Memang. Tapi ini Jakarta! Ditambah, aku masih meninggalkan koperku di kost yang memang tak jauh dari kantor dan searah jalan ke airport. Tapi mampir kost dan mengambil koper sampai menuju jalan raya lagi bisa memakan waktu 15 menit, dan untuk insane traffic di kota ini, 15 menit berarti banyak! Mungkin semua orang akan ke airport sehingga jalan menuju blok M saja tersendat, dan oh my God, lambaaat sekali. Lewat Blok M, Sudirman, sampai masuk toll, sama lambatnya, oh, i’m gonna miss my flight :( Sampai di toll kapuk keadaan tidak berubah dan waktu sudah menunjukkan jam tiga seperempat. Mungkin sekarang masih bisa check in, tapi aku masih jauuuuh dari airport hiks. Akhirnya kutelpon bagian travel kantorku dan minta diarrange untuk flight berikutnya (kalau ada) karena tidak mungkin aku ikut yang jam empat. Hihi, dengan sedikit mengomel, akhirnya si Mbak mengecek ke Garuda supaya aku bisa ikut last flight ke Balikpapan. Selepas toll tomang dan tanjung priok ternyata banyak kendaraan keluar toll, sehingga akhirnya sang sopir pengantarku bisa mengebut dan aku “berhasil” sampai ke airport jam 15.40. Counter check ini untuk jam 4 sudah tidak ada, dan ganti dengan penerbangan 17.30. Yah, untungnya aku masih bisa ikut flight berikutnya tanpa charge tambahan. :wink: Read the rest of this entry »

pemikiran acak

Aku adalah orang kampung. Itu sudah pasti. Sampai saat ini di KTP daerahku masih tertera Alamat: Desa XXXX, Kec. XXXX, pokoknya desa, dan bukan kelurahan. Aku hanya orang kampung yang berada didalam sebuah gedung pencakar langit (eh, ga juga sih, cuma 15 lantai :P ), jadi terbiasa dengan gadget, tinggal tekan nomor untuk menghubungi siapa saja yang kumau tanpa perlu memikirkan siapa yang bayar tagihannya. Aku baru   jadi terbiasa dengan minum kopi dari coffee maker yang konon kabarnya, si mesin ini harganya 150 juta! seharga sebuah mobil :twisted: Kalau dulu di kampung, yang kutahu hanya kopi tubruk merek Kapal A**, setelah kuliah, lumayan mulai mencicipi kopi instan coffeemix serta berbagai macam jenis campuran kopi. Tapi bukan, aku bukan orang kota kok. Read the rest of this entry »