Salah Potong
Seumur hidupku, aku punya “masalah” yang sepertinya tidak/ belum kutemukan solusinya. Yaitu, tidak pernah beres kalau memotong rambut. Sepanjang hidupku pasti sudah puluhan kali aku memotong rambut. Kalau dihitung setahun potong rambut 2x saja berarti aku telah memotong rambutku sebanyak 40 kali lebih. Dan semuanya, tidak pernah ada yang memuaskan dan membuatku tersenyum lebar keluar dari Salon
sucks sekali.
Minggu kemarin, bingung mau ngapain, akhirnya aku memutuskan untuk merapikan rambutku. Rambutku memang susah diatur, tipis, dan ikal ketika panjang
Setelah melihat sebuah model rambut pendek di majalan Oprah, aku bertanya ke seorang teman kostku salon mana yang biasanya dia datangi yang harganya tidak terlalu mahal. Dia merekomendasikan sebuah salon di daerah Pasar Minggu. Karena potong rambut di salon di Mall pun tidak menjadi jaminan kesuksesan, aku ikuti juga rekomendasi temanku itu, dan pergilah kami ke Pasar Minggu.
Sampai disana, salon dalam keadaan ramai pengunjung, dan aku mesti mengantri selama setengah jam menunggu sang hairdresser mencukur dua anak kecil laki-laki… hah? Perasaanku sudah tidak enak mengingat, sang penata rambut mencukur anak kecil laki2 dan setelah itu mau memotong rambutku? Apa tidak salah? Apa dia tidak akan “terbawa suasana” setelah memotong rambutku dan masih membayangkan aku seorang anak laki2?
Tapi temanku bilang sang penata rambut ini bagus, dan dia yang biasanya memotong rambutnya. Selain itu sang stylist ini juga agak2 banci. Terus terang saja, sampai saat kemarin itu aku berpikir bahwa stylist “banci” biasanya pintar memotong.
Menjelang anak kedua selesai dicukur, si stylist (mas-nya) menyuruhku untuk mencuci rambut dulu. Tempat cuci rambut ada di pojok kiri dan aku pun menuju kesana. Sampai disana tidak kutemukan seorang pun yang sedang siap untuk mencuci rambut pelanggan. Setelah selama beberapa detik bengong, seorang stylist perempuan yang sedang meng-creambath pelanggan bertanya padaku; “mau apa Mbak?” kujawab; “mau keramas” dia balas; “gak ada yang ngeramasin”. Hah? Maksudnya? Maksudnya apa? Benar2 bingung. Emang ada ya salon yang customernya keramas sendiri sebelum dipotong rambutnya. Dia harusnya dia bilang begini; “yang ngeramasin belum ada Mbak, tunggu sebentar ya”. Nah itu kalimat yang seharusnya.
Setelah adegan aneh itu, si mas stylist selesai memotong rambut anak kecil terakhir, dan akhirnya dia yang mencuci rambutku. Fuih. Ceritanya belum selesai. Sampai di tempat duduk, aku bilang sama dia bahwa aku hanya ingin merapikan rambutku, memotongnya sedikit namun dengan diberi model juga. Kutunjukkan foto yang di majalah yang kubawa, dan dengan ekspresi kurang berminat, dia bilang, ya itu model pendek biasa, model bob. Kujawab; bukan model bob saja, tapi ini ada aksen layer di samping di poninya. Dan dengan cuek dia bilang; iya..iya. Dan mulailah dia memotong rambutku. Kejadiannya begitu cepat, mungkin dia memotong rambutku hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dan jelas, dia tidak memotong rambutku seperti yang aku inginkan. Hanya memotong lurus dibawah rambutku dan membuat poni lurus. Hasilnya, aku jadi memotong rambutku dengan model DORA the Explorer. What?!
Entah kenapa, aku seperti tidak ingin memancing keributan pada waktu itu. Benar2 hari terburuk dalam hidupku setelah hari raya kemarin. Setelah selesai memotong kemudian dia mulai memblow rambutku, dan semakin jelaslah model rambutku yang seperti DORA. Oya, dia hanya memblow separuh kanan rambutku, dan separuh kirinya yang masih setengah basah dia serahkan pada seorang stylist wanita dan dia pun beranjak pergi ke neraka entah kemana. Dia benar2 memperlakukanku seperti sampah.
Dan aku membayar Rp. 20.000,- untuk semua kegagalan itu.
Kesimpulan; not recommended dan sebaiknya hindari, dan tunda memotong rambut anda jika hanya salon tersebut yang sedang buka.
Kalau yang mau tau nama salonnya, hubungi aku japri aja.




Dora dora dora the explorer =P Ups, sebenernya pengen ketawa baca posting ini, tapi takut dijitak!
Eh, mbak Evi…
Gimana kalo ketemuan Sabtunya dipindah ke pesta blogger di Blitz aja? Aku udah coba register, tapi belum tau apakah tempartnya masih tersedia. Coba masuk ke http://www.pestablogger.com deh mbak….
Mya: Hihihi, kalau kamu bilangnya pas aku baru potong kemarin, pasti tak jitak beneran. Klo sekarang sih, udah ku ketawain aja. Lagian ternyata setelah dikeramasin lagi di rumah rambutku kembali kempes dan tdk buruk2 amat
Hmm, Blitz ya? Emang terbatas ya? coba kucek dulu
hahaha..
aktipitas yang paling gw takuti itu potong rambut!
dan sampe sekarang cuma nyokap yang paling tahu tentang gimana rambut gw sebaiknya.
Selama hidup ini, gw cuma potong rambut di salon 3 kali doang.
di jakarta sekali, di bali sekali, dan di kuwait sekali… huahaha…
mba, kenapa nama salonnya gag di kasih tau aja? bukan masalah ga enak. blog kan juga bisa menampung kekecewaan konsumen..
Didats: sepertinya kegagalan potong rambut dialami banyak orang ya
Oya, nama salonnya Anthony di Jl. Raya Pasar Minggu, sebelum ramayana. Hahahha… jelas bukan?
ke mana kah kau akan memotong rambut?
tanyalah peta!!
aku peta, aku peta, aku peta, aku peta..
Zam: mau kemana kita? salon…salon…
Puass Zam?
hwakakakakaakakakak..
*ngakak guling-guling*
bersyukurlah masalah yang terus menghantuimu tak lebih dari “hanya” soal potong rambut. yang laen masih dihantui besok makan apa.
selamat ya….
pejalanjauh: Yup, betul sekali. Kalau dilihat dari aspek kehidupan yang lebih luas dan kompleks kesalahan potong rambut sama sekali bukan masalah besar dibanding masalah penghidupan, ideologi, dll.
Thanks udah mampir ya