let me

Finally, the fate has destined it to be. Left my hope and fantasy.

It comes much sooner than i expected to be and let me here again, by myself.

It’s gone and i dont know whether it will coming back in my life or not. I have no more tears to cry, too tired to think about it, exhausted of hoping, though there are anger and denial fill my heart.

I want to stop my life but i know i can’t. I have to move on even i don’t want to.

I do understand the end of something also means the beginning of something new. Whatever it is. It’s must be something.

I’m supposed to feel relieve and free.  And now, let me feel the pain until it fades away.

Let me.

the beautiful Patrick Dempsey

Seandainya perasaan manusia itu bisa disetting seperti mesin. Seperti orang sering menulis; *tenang mode on*, atau *sabar mode on*, atau *cuekin aja mode on*. Kenyataanya memang tidak bisa seperti itu. Perasaan seringkali aneh, tidak bisa dijelaskan, tidak sedih, tidak juga gembira, hanya perasaan “overwhelming” dan hati yang terasa “meloncat/ tersentak” ketika menghadapi atau pasca menghadapi sesuatu. Akhir liburan hari raya yang cukup lama (aku mengambil cuti 7 hari ditambah hari raya 2 hari menjadi 9 hari) meninggalkanku dengan setumpuk perasaan. Sisa-sisa pulang kampung meninggalkan banyak pemikiran, opini, dan pertanyaan dalam benak. Senang bertemu orang2 yang lama tidak ditemui. Ingin beropini mengenai sebuah keadaan (seandainya orang2 itu mau mendengar opiniku). Banyak sekali pertanyaan (seandainya ada yang bisa menjawab pertanyaan itu). Dan keinginan untuk melihat sesuatu berubah namun kenyataannya kita tidak memiliki kunci dari perubahan itu, karena kuncinya ada pada orang lain). Itulah yang tertinggal dan kubawa hingga akhir liburan dan memulai kembali rutinitas aktivitas dan kewajibanku sebagai seorang yang seharusnya sudah dewasa. Earn living, responsibility, and pay rent.

Lalu apa hubungannya dengan si tampan Patrick Dempsey? Read the rest of this entry »

Salah Potong

Seumur hidupku, aku punya “masalah” yang sepertinya tidak/ belum kutemukan solusinya. Yaitu, tidak pernah beres kalau memotong rambut. Sepanjang hidupku pasti sudah puluhan kali aku memotong rambut. Kalau dihitung setahun potong rambut 2x saja berarti aku telah memotong rambutku sebanyak 40 kali lebih. Dan semuanya, tidak pernah ada yang memuaskan dan membuatku tersenyum lebar keluar dari Salon :( sucks sekali.

Minggu kemarin, bingung mau ngapain, akhirnya aku memutuskan untuk merapikan rambutku. Rambutku memang susah diatur, tipis, dan ikal ketika panjang :( Setelah melihat sebuah model rambut pendek di majalan Oprah, aku bertanya ke seorang teman kostku salon mana yang biasanya dia datangi yang harganya tidak terlalu mahal. Dia merekomendasikan sebuah salon di daerah Pasar Minggu. Karena potong rambut di salon di Mall pun tidak menjadi jaminan kesuksesan, aku ikuti juga rekomendasi temanku itu, dan pergilah kami ke Pasar Minggu. Read the rest of this entry »

responsibility, it really does suck

Sekarang ini aku sedang menonton serial Grey’s Anatomy, drama komedi (sekaligus romantis ;) ) tentang beberapa dokter bedah yang masih intern (baru lulus) beserta konflik dan masalahnya. Sebenarnya serial ini tidak jauh berbeda dengan ER (Emergency Room) cuma menurutku Grey’s Anatomy lebih berani dengan menunjukkan lebih detail ketika para dokter itu membedah pasien2nya. Yikes, pertamanya sih jijik, tapi setelah menontonnya satu episode, lama2 aku jadi “terbiasa” melihat darah, dan organ2 tubuh yang di otak-atik, di potong dan dijahit :evil: Sebenarnya bukan itu inti dari postinganku kali ini. Ada sebuah inti cerita yang sangat menarik dan bisa sangat kumengerti pada episode ke-lima season pertama. Ketika sang tokoh utama Meredith Grey harus menandatangani/ menerima asset warisan milik ibunya yang terkena Alzheimer.

Read the rest of this entry »