catatan-catatan kecil
Berikut ini catatan-catatan lain dari perjalanan dan pengalamanku mengunjungi lokasi proyek. Aku cuma mau membuat sebuah ringkasan mengenai hal-hal yang menarik di proyek tambang di tengah hutan Kalimantan
1. Jam kerja 6 to 6
Sebagai kontraktor yang dikejar target produksi, maka jam kerja karyawan pun dimaksimalkan. Di proyek tambang ini, jam kerja mulai jam enam pagi sampai enam sore. Untuk bisa mulai bekerja jam 6 pagi (mulai menjalankan mesin atau “ngejegrok” di depan komputer), maka para karyawan akan bangun jam setengah lima pagi, lalu mandi, dan sarapan di Recreation Hall. Buatku, selain bangun bagi yang menyusahkan
, sarapan jam lima pagi juga terasa aneh. Masih jam tidur kok harus makan. Jam setengah enam, dari Rec Hall karyawan dijemput oleh bus untuk menuju kantor. Perjalanan dari camp ke kantor sekitar 20 menit. Sehingga tepat jam 06.00 pagi, semua karyawan sudah mulai bekerja. Sampai kata seorang temanku alumni ITB mengatakan “ayam aja kalah sama kami” hehe, bener juga kali ya
2. Bus jemputan
Selain para supervisor, superintendent, manager dan project manager yang memperoleh hak istimewa membawa Ford Ranger, karyawan “biasa” akan diantar jemput menggunakan bus jemputan. Bus ber AC ini disewa dari penduduk setempat yang memiliki usaha transportasi. Waktu mengunjungi Senakin kemarin itu, baru sekali aku naik bus dari kantor ke camp selesai jam kerja. Begitu bus mulai jalan, yup, pak sopir menyetel musik dangdutnya dengan keras. Buatku ini lucu sekali
dangdutan di tengah hutan. Anehnya, meskipun musik dangdut mengalun, para karyawan ini tidak peduli, hanya bicara dengan teman sebelahnya, atau malah terdiam (mungkin karena lelah bekerja 12 jam). Waktu aku tanya seorang operator yang duduk disebelahku “mas, emang kalau di bus selalu pasang musik dangdut sekeras ini ya? Sambil tertawa dia menjawab “ya beginilah sudah”. Hehe… aneh musik sekeras itu tidak mengundang para pekerja untuk bergoyang sama sekali.
3. Makanan mewah dan makan siang versi kuli
Nah, kalau kerja di proyek seperti ini, dijamin yang tadinya suka makan di warteg, angkringan, dan warung makan pinggir jalan, akan segera naik pangkat dari semua itu. Katering yang disewa perusahaan tempatku kerja menyajikan menu hotel setiap harinya, dengan standar kebersihan yang terjaga pula. Sarapan? Bisa pilih mau makan cereal (corn flakes berbagai rasa dan susu segar tentunya), atau mau pancakes dengan syrup mapplenya? Ada. Atau mau selera lokal, ada bubur ayam, telur rebus, nasi goreng dan nasi kuning. Bisa juga special order omelet langsung ke koki.
Nah untuk makan siang, kami gak akan makan ke Rec Hal karena itu akan membuang-buang waktu istirahat yang cuma 1 jam. Makanan akan dibungkus dalam box. Untuk expat, biasanya berisi 3 buah variasi sandwich ukuran besar, minuman kotak, dan buah. Untuk karyawan nasional, ini dia!! Akan berisi sejumlah besar nasi (aku perkirakan mungkin seperempat kilo
, dua plastik sayur, satu buah ikan (disayur atau dibalado atau di masak kuning), satu potong besar ayam (digoreng, bakar atau balado), satu potong besar daging sapi (rendang), satu plastik lalapan, satu plastik sambal, satu kerupuk udang, dan sepotong buah (melon/semangka/pisang/pepaya/jeruk).
Yup, itulah menu makan siang versi kuli!! hahaha. Makanya, kalau tidak bisa menahan nafsu, bakal gemuk nggak ketulungan
Apalagi seperti aku, anak kost yang cuma beberapa hari ke proyek, bisa kalap.
Makan malam, menunya variasi lagi. Sayur, ikan, ayam, daging, telur, roti gantum, selai, dll. Pertama kalinya aku makan turkey (daging kalkun) juga di tambang. Maklum, anak kost bow, mesti habis berapa duit untuk makan turkey…hehe. Oya, lupa minuman? Ada teh, kopi, milo, nutrisati, jus jambu, jus jeruk, susu segar, dan air putih. Dessert? Kadang puding, buah segar, cake, brownies, rujak buah, dll.
Oya, semua karyawan mendapatkan semua itu dengan gratis. Jadi seharusnya gaji mereka bisa utuh, dan ketika field break kaya-lah semua orang itu
Enak ya?
4. Camp
Tempat tinggal karyawan selama di proyek disebut mess atau camp. Tapi ditempatku lebih dikenal dengan sebutan camp. Camp ini berbentuk rumah panggung dari kayu, meskipun demikian tetap dibuat “semaksimal mungkin” dengan kamar mandi dalam dengan air panas dan AC. Khusus untuk kamar para petinggi, disediakan TV, kulkas, dan akses internet. Jadi untuk karyawan biasa, dipersilahkan beli TV sendiri kalau tidak ingin mati kebosanan karena tak ada hiburan lain di tengah hutan. Oya, rasanya memiliki TV disana lebih baik drpd aku di Jkt. Karena secara otomatis mereka akan tersambung ke TV kabel jadi bisa menikmati siaran internasional.
5. Satu buah baut lebih penting daripada seorang Superintendent
Itulah yang dikatakan HR Supervisor di Senakin kepadaku. Jika sebuah mesin bautnya rusak, dan perlu segera dibeli penggantinya, maka perangkatlah staff ke kota untuk membeli. Jika saat kembali mobilnya terjebak banjir atau lumpur, sementara di tempat lain seorang Superintendent (satu level dibawah manager) mengalami hal yang sama, manakah yang akan dijemput? Pasti, bautnya dulu…hehehe. The superintendent can wait for a while in the jungle, itu prinsipnya
Hal ini bukan lain karena mengejar profit. Jika satu mesin tidak bisa berfungsi selama satu jam saja, melayanglah ribuan dollar. Tapi hal ini tentunya tidak akan berlaku bagi manager dan project manager
6. Perempuan
Perempuan adalah makhluk langka di lokasi pertambangan. Memang ada satu atau dua orang perempuan engineer, tp biasanya perempuan bekerja di kantor, tidak di pit (lokasi penambangan). Dan katanya, perempuan disini jika memakai helm proyek dan sepatu safety, maka para laki-laki itu tidak akan ada yang berani mengganggu. Dan sepertinya hal itu benar…hehe.
7. 6-2
Enam dua ini adalah sistem periode waktu bagi pekerja tambang bekerja di lokasi. Maksudnya enam minggu kerja dan dua minggu libur. Selama enam minggu kerja itu berarti semua hari di kalender hitam alias tak ada satu haripun libur. Bahkan sabtu minggu, hari besar nasional atau internasional apapun. Kecuali hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, akan diatur siapa yang merayakan akan cuti hari2 itu, dan yang beragama lain akan tetap tinggal sesuai jadwal cutinya.
Dengan sistem kerja seperti ini, tentu saja membuat karyawan harus jauh dari anak dan istrinya. Kalau yang single ya jauh dari pacarnya
HR Supervisor yang menjadi tuan rumahku selama disana bercerita bahwa dia sudah 18 tahun bekerja di tambang. Sejak belum menikah sampai sekarang anaknya yang sulung berusia 14 tahun. Memang, dari hasil kerja kerasnya itu perekonomian keluarga menjadi sangat terjamin, dan si Bapak yang kebetulan orang Jogja asli mengatakan bahwa dia telah menabung dengan membeli tanah di daerah prambanan sana sebagai investasi di masa tua. Tetapi si Bapak ini juga memiliki rasa penyesalan karena jarang sekali berkumpul dengan anak dan istrinya dan tidak melihat anaknya tumbuh. Yah, semua itu ada harganya bukan?
8. Kafe remang dan prostitusi
Kafe remang dan prostitusi tumbuh di sekitar lokasi proyek tambang adalah hal yang sudah sering kita dengar. Aku bingung untuk menjelaskan sebab akibat tumbuhnya kafe remang dan prostitusi ini. Masyarakat lokal (yang notabene miskin) berusaha mengais rezeki dengan membuka warung di pinggiran proyek yang menyediakan minuman, makanan, dan minuman keras, dan akhirnya ditambahlah pula dengan para PSK. Rupanya muncul2nya warung-warung ini juga “mendapat sambutan” dari para pekerja proyek laki-laki (ya, karena disana nggak ada gigolo) setelah stress dan jenuh dengan pekerjaan. Ditambah lagi dengan sebagian besar (maaf) expat yang punya kebiasaan minum-minum sepulang kerja. Memang, harus diakui selain expat karyawan Indonesia juga banyak yang kesana. Jadi siapa yang menyebabkan siapa?
Kalau menurutku, seandainya warung remang ini diberantas, maka para engineer hidung belang ini pun tidak akan punya pilihan kok. Toh, di Recreation Hall dan di kamar Expat mereka biasa menyimpan beer di kulkas. Kenapa harus ke warung itu? Mau ke Kota ? Kemana? Jauh, dan menghabiskan tenaga sementara harus bangun pagi keesokan harinya. Bukannya kejahatan itu juga muncul karena ada kesempatan?
Aku pernah kesal ketika anaknya pemilik kost yang dulu dengan lantang mengatakan “sorry ya, tapi di tambang itu kan banyak prostitusi, apa kamu nggak takut berada disana? Itu kan lingkungan yang rawan, Sorry to say” Sambil menenangkan diri, aku berpikir, ya dia kan tdk pernah kesana. Ya, prostitusi itu memang ada. Di Jakarta jg banyak. Tapi itu pilihan kan? Kita akan menceburkan diri kesana atau tidak. Adalah sebuah pilihan orang2 tertentu untuk naik mobil ranger dan keluar dari proyek untuk mengunjungi kafe itu. Sementara pilihan yang lain, bisa fitness dengan fasilitas lengkap yang disediakan, bisa menonton TV, bisa mengobrol dg yg lain, atau tidur. Dan aku kesana untuk bekerja, bukan mengunjungi kafe itu.
Banyak juga kok Bapak-bapak yang baik, yang setia pada keluarganya, yang dengan bangga menceritakan anaknya. Bagaimanapun, dunia kafe remang dan prostitusi itu telah menjadi bagian dan efek samping keberadaan proyek tambang. Memang, berpikiran sempit dan generalisasi itu tidak baik. Aku telah belajar banyak mengenai hal ini.




Mbak Evi, minta nomer HPnya dong…dijapri aja ya. Selamat liburan!
hmm…selamat bekerja.
Mya; ya ntar ya Japri aja.
Radi: terimakasih udah mampir yah…
duh.. masih enak ada fasilitas gitu..
la saya? JONGOS TULEN! BABU! ROMUSHA!!
hik hik hik..
Halo Zam, wah jangan hiperbola begitu donk. Yah memang begitulah fasilitas yang diberikan, wong kerjanya di tengah hutan je, jauh dari mana2, malah katanya masih ada harimaunya disana
aku itu lagi nyeritain sisi positifnya kok, yang namanya karyawan kroco kayak aku ini ya sering juga merasa jadi jongos… hehe
thanks udah mampir ya…