menjadi orang baik itu susah ya?
Jumat malam yang lalu, aku memberanikan diri untuk bicara dengan tetangga kamarku di kost. Aku sudah capek dan eneg hanya berani ngomong dibelakang, meskipun sudah meminta langsung pada ibu kost supaya beliau yang menegur dia, bahwa kami berempat (anak2 kost yang lain) merasa sangat terganggu dengan kebiasaannya menyetel TV, music dan bicara keras, bahkan waktu tengah malam. Ternyata ibu kost sendiri tidak bisa membantu, dan malah menyuruh pembantunya yang berusia belasan tahun untuk bicara sama si Mbak yang berisik itu. Semua itu, nggak mengubah keadaan.
Malam itu, ketika kami semua sibuk didapur dan meja makan, ada yang membuat mie, memasak air, dan makan, si Mbak yang berada didalam kamarnya memasang dengan keras volume TVnya, sehingga kami pun bisa mendengar dengan jelas setiap detail suara. Itu berarti, teguran yang diberikan pembantu kost (yang dimandati oleh ibu kost) tidak digubris sama sekali. Hebat ya? Dua jempol buat dia untuk kekebalannya terhadap kritik!
Sebenarnya masalah ini sudah kami pendam selama hampir sebulan, tepatnya setelah si Mbak baru saja punya pacar baru. Kami tahu bukan karena mengobrol dengannya (kami, terutama aku, hampir tidak pernah bicara dengannya), tapi karena suaranya yang “menggelegar” hingga kelima anak kost di kamarnya masing2 bisa mendengar.
Aku pun mengetuk pintunya (hampir nggak kedengaran ketukan pintuku, karena volume TVnya memekakan telinga) dua jempol lagi untuk kekuatan kupingnya! Dengan pelan dan menjaga emosi aku bilang “Mbak Mel, kita ngomong aja yuk biar enak”, responnya “Ya udah ngomong aja!!!” dengan tetap berbaring di kasurnya itu. ”Kita ke meja makan aja, yang lainnya ada disana”, dia: “Yang butuh ngomong siapa?!!!”. Aku berusaha menahan kesabaran, “Oke, kita yang kesini”. Lalu aku panggil dua temanku untuk datang dan masuk ke sarang singa, eh ke kamarnya maksudku.
Dan ketika aku selesai menjelaskan keberatanku, langsung menyemburlah kata-kata defensif dengan nada tinggi. Terlalu panjang kalau dituliskan, yang jelas ditengah2 perkataannya, aku sempat bilang “tunggu-tunggu, kita nggak akan bicara dengan cara seperti ini, kita ini udah dewasa!”.
Berikut beberapa petikan kata-katanya yang melekat diingatanku:
“Kamu liat nggak, diatas kamar kita itu ada ventilasi dan itu bolong, itu juga triplek!!!”
“Anak-anak kost yang dulu juga nggak pernah complain aku nyetel seperti ini!!” (dia lupa kalau manusia di dunia ini berbeda-beda)
“Kamar ini memang begini, kalau dari luar kedengaran” (oya, dengan suara seperti tadi, kupingku ketukan pintu aja nggak kedengeran, jadi yang salah kamarnya?”)
“Aku kan bayar, dan kamarku paling mahal disini” (Oh, begitu ya, kalau anak kost yang lain gratis ya? Bagooos? Padahal kostku sebelumnya malah lebih mahal dari kamarnya
sok kaya ya Mbak?)
“Evi, disini beda dengan Jogja atau Bandung, disini individualistis! Nggak perlu ngurusin orang lain!” (aku juga nggak punya waktu ngurusin kamu kok, kalau kamu nggak ganggu juga nggak bakal aku ngabisin bbrp menit di kamarmu ini)
“Oya, aku nggak suka kalian bilang-bilangin aku malas2an karena nggak kerja!!” (meskipun kenyataannya demikian, males2an atau nggak itu nggak penting untukku, yang penting kecilkan suaramu dan jangan ganggu orang lain)
Keputusan yang diambil pun, dia bersedia untuk mengecilkan volume TV dan tapenya, kalau suara, susah katanya, karena dia ngaku suaranya besar (tumben ngaku!)
Kenapa sih, tidak hidup yang biasa aja? Kita kan pernah diajarin hidup bertoleransi jaman SD dulu? Hidup biasa aja, nikmati hidup tanpa harus merugikan orang lain kan bisa, dan berteman itu lebih menyenangkan daripada nggak ada yang mengajak bicara sama sekali. Meskipun jujur setelah pembicaraan malam itu, aku nggak berminat untuk berteman dengannya. Apakah begitu sulit untuk menjadi orang yang baik??




Kayaknya menjadi orang yang baik itu nggak sulit. Yang sulit adalah menemukan orang baik, mbak… Anyway, mbak Evi berniat ke Jogja tanggal 16 Agustus ntar?
Iya kali ya Mia, mungkin selama tinggal di Jkt aku baru sedikit menemukan orang baik. Atau memang karena jarang jadi spt nyari jarum diantara tumpukkan jerami.
Aku mau ke Jogja Mia, aku cuti dr tgl 15, balik Jkt tgl 19, naik kereta. Kamu pulang jg nggak? Aku jg lg dicariin penginapan murah disana….
Hallo bu…kalo langgananku selama ini sih Wisma Talenta di Blimbingsari (belakangapotik UGM yang di seberang SEKIP). Kelas melati, Murah meriah tapi nyaman bangett…
Kalo aku, udah ta timpuk tuh mbaknya
Halo Mbak Thea….. wah jangan ditimpuk lah, kasihan..hehe.
Makasih udah mampir ya
weh..
kalo ketmu orang kek gitu, sekalian aja tak bales..
lempar dinamit ke kamarnya sekalian!!
“loh, itu kan dinamit, dinamit ku.. mo aku buang ke kamarmu kek, ke kamar ibu kos kek, itu kan dinamit ku.. aku kan udah beli mahal-mahal..”
Hahaha, Zam, lucu banget guyonanmu. Pas lagi berdebat sama dia, aku juga sebenarnya udah mendidih….tapi tak tahan….sabar sabar, nggak usah terpancing sama orang yang otaknya ditaro di kaki…
ya..memang iniilah hidup.. selalu ada masalah..kalau gitukitaaja yang sabar..karena sabar itu..lah yang jadi orang baik..salam kenal ya
eh..url blog ku salah yang diatas yang bawah aja ya..trim’s
iya, klo lah dia sdh mkn asam garam kehidupan, mempunyai ini itu, sdh ini dan itu, gak ada gunanya, gak bikin bahagia. Hidup itu yang terpenting jadi orang baik. Orang akan ingat seumur hidupnya, dan itulah berkah. Siapa tau justru temen kost kita dulu yg bantuin kita dapetin kerjaan, walopun hasil dari kebaikan itu bukanlah itu yg kita harapkan. Baik ya baik aja.
Zhazha: Iya bener. Hidup ini intinya adalah menjadi orang yang baik dan berguna untuk kehidupan, bukannya malah menjadikan kesusahan pada orang lain. Tetapi kadang orang memang punya perspektif sendiri, jadi akhirnya tidak bisa diterima oleh lingkungannya