Three nights in three different places part 2
Jam setengah enam di Banjarmasin, sama gelapnya dengan jam setengah lima pagi di Jkt. Padahal Banjarmasin sudah lebih cepat 1 jam dari waktu Indonesia barat. Bukannya harusnya lebih lambat ya? Kalau patokan waktunya WIB
Oya, hari ini kami mesti melanjutkan perjalanan ke lokasi proyek tambang di Kabupaten Senakin, Kalsel. Dari Banjarmasin, kami harus naik pesawat ke pulau kecil di selatan pulau Kalimantan, Pulau Laut namanya. Sampai ke airport, yah
kami mendapat pemberitahuan bahwa pesawat Riau Air yang akan kami tumpangi harus delay karena faktor cuaca. Kabarnya lima hari berturut-turut sebelum kedatanganku ke Banjarmasin, kawasan itu dan kawasan Pulau Laut diguyur hujan, serta kabut tebal. Keberangkatan pesawat ditunda sampai maksimal pukul 1 siang. Duh, 1 siang? lama sekali
kalau tahu begini aku bisa tidur lagi, atau bisa ke pasar apung yang buka mulai jam 5 sampai jam 7 pagi. Menunggu deh….. Akhirnya aku minum kopi di salah satu kafe di airport itu. Tunggu dulu, jangan bayangkan cafenya elit ya. Ini bandara kecil, lebih kecil daripada airport di Jogja. Jadi, fasilitasnya pun “seadanya”.. (maaf ya untuk orang Banjarmasin). Meskipun demikian, aku sama sekali bermasalah dengan hal itu. Yang terpenting, airportnya aman.
Sambil menunggu, aku berjalan kesana kemari melihat toko2 yang sudah buka, melihat2 baju, makanan (amplang; krupuk ikan), dan toko buku, tapi tidak membeli apapun. Oya, waktu sedang melihat baju-baju motif batik khas Kalimantan, seorang ibu menanyakan apakah ada baju yang lengan panjang. Hiks, rupanya dia mengira aku penjaga toko itu…. huaa. Emang pantes ya?
BTW bukan sekali ini aja aku dikira pelayan/ penjaga toko. Mungkin karena tampangku yang nggak elit sama sekali alis katro
Akhirnya, pukul setengah sepuluh pagi pesawat diberangkatkan juga. Riau Air, pesawat kecil dengan sekitar 20an penumpang, yang justru aku naiki bukan di Riau…hehe. Setelah 35 menit, mendaratlah kami dengan selamat di Bandara Stagen, Kotabaru di Pulau Laut. Bandara Stagen ini juga seperti stasiun kecil pemberhentian kereta api di kota-kota kecil dan bukan kota utama. Tetapi untuk ukuran sebuah pulau terpencil seperti Pulau Laut, sudah bagus sekali sudah memiliki bandara dengan rute- rute lumayan penting, seperti Banjarmasin-Kotabaru, dan sebaliknya, serta Balikpapan-Kotabaru dan sebaliknya.
Oh, aku mengerti kenapa Pulau ini menjadi penting, tidak lain karena ini adalah akses tercepat untuk menuju lokasi penambangan di Kalsel. Sebab, kalau menempuh jalan darat, dari Banjarmasin ke Kabupaten Senakin tempat tambang batubara Arutmin berada, bisa memakan waktu 10 jam! Dan 10 jam itu bukan meluncur di jalan mulus beraspal lho, tapi setengah off road. Terimakasih kepada Arutmin yang membuat penerbangan ke Kotabaru terwujud
Oya, di Pulau Laut itu, hanya ada satu kota kecil yaitu Kotabaru. Sisanya, semak dan hutan. Kalau dilihat di Peta, pulau ini kecil sekali, apalagi mesti berdampingan dengan pulau sebesar Kalimantan
(lihat peta) Dinamai Kotabaru, karena benar2 baru. Pada tahun 1970an, para explorasionist melakukan penelitian di Kalimantan dan Pulau Laut, dan ditemukanlah kandungan batubara yang sangat besar di Kalsel dan Pulau Laut tersebut. Jadi pada tahun2 itu, sudah ada mobil-mobil Ford ranger lalu lalang di pulau yang waktu itu hanya sedikit penduduknya, dan sebagian besar adalah nelayan. Karena kawasan Kalsel yang diputuskan terlebih dulu ditambang, jadilah Pulau Laut menjadi tempat transit, dan jadilah sebuah kota yang ramai. Saat ini, Pulau Laut tidak mungkin ditambang, karena sudah banyak penduduknya dan menjadi sebuah kabupaten.
Dari Kotabaru, kami dijemput mobil untuk menuju port (dermaga) untuk naik speedboat. Ya, perjalanan dilanjutkan diatas air. Jadi kalau mau ke Senakin ini kita menaiki semua sarana transportasi, darat, udara dan laut.
Malam itu, aku bermalam di Dugan Camp, Senakin Project. Di kamar superintendent yang sedang field break (cuti), jadi aku mendapat kamar yang besar, lengkap dengan TV dan kulkasnya.




Yah, gitu deh.. Sejak tahun 2004 saya pindah kerja ke Kotabaru dari Banjarmasin. Trus merit deh, sama orang pendatang yang sekarang kerja di Senakin.
Wah, gpp Mbak Alea kan untuk pemerataan penduduk Indonesia. Lha, kalau semua orang di Jawa semua, siapa yang membangun luar jawa to?
Munyak aku mambacanya biasa aja. akupang urang sana, jadi kada aneh lagi nah
SAYA TIDAK SETUJU DI KAMPUNG SAYA ADA TAMBANG BATUBARA. SEBAB TERLALU BANYAK MERUSAK LINGKUNGAN. LEBIH BAIK DIHENTIKAN SAJA. KARENA TIDAK ADA MANFAATNYA BAGI PENDUDUK DI SANA BILA DIBANDINGKAN DAMPAK PENGRUSAKAN LINGKUNGAN. KASIHAN ANAK CUCU KITA MEWARISI LINGKUNGAN YANG RUSAK, AKIBATNYA NANTI BENCANA ALAM YANG AKAN MEREKA TERIMA.
A. Gazali: Memang dunia tambang itu selalu dualisme. Disisi lain “membantu” bangsa dalam menciptakan lapangan kerja, menambah pendapatan daerah maupun pusat dan pajak. Harus diakui kalau penambangan selalu merusak lingkungan meskipun sang company memiliki dept. dan kebijakan environment. Tp itu masih lebih baik loh Pak, drpd para penambang liar yang setelah ditambang ditinggalkan begitu saja. Itu yang terjadi di Senakin.
Makasih dah mampir ya..
Halo … Mbak Alea !
Saya orang Surabaya, mau ada panggilan kerja ke Banjarmasin…. kira-kira biaya hidup disana berapa besar gaji ? Posisi yang saya lamar adalah Logistic Manager
Kebetulan di pertambangan Batubara juga.
Bagaimana cara adaptasi dengan orang Kalimantan, apa yang boleh & harus dihindari ?
Thanks infonya
Salam,
Bambang Winarto