rumah baru

Kehidupan nomaden ternyata tidak hanya monopoli masyarakat jaman purba atau jaman berburu dan meramu saja. Bahkan seorang aku-pun bisa juga hidup nomaden :D . Orang-orang yang ada di dekatku pasti tahu bagaimana malang (?) melintang di dunia per kos-kosan. Bukan sebagai pemilik (ini sih enak :P) tapi sebagai penyewa. Empat kali dalam setahun 2 bulan bo! Rekor kan?

Menariknya, setiap kali aku pindah ke tempat baru aku tidak merasa menyesal atau kehilangan apapun di kost sebelumnya. Artinya, aku selalu mendapatkan yang lebih baik setiap kali pindah. Bagus bukan? Kita kan selalu ingin mendapatkan yang lebih baik ketika mengambil suatu langkah atau meninggalkan sesuatu yang lama.

Nah, aku mau menceritakan sedikit mengenai tempat tinggalku yang baru ini. Letaknya di Kompleks Keuangan, masih di Jl Fatmawati Jaksel. Kompleks perumahan yang bagus, diawali sebuah masjid besar di pintu masuk perumahan. Pada waktu-waktu sholat, terutama sholat maghrib banyak orang yang mampir untuk sholat. Dan ini membuat jalan menuju kompleks menjadi sesak karena banyak mobil diparkir, dan mobil keluar masuk. Kostku masuk kedalam kompleks itu. Rumahnya tua, dan untuk sebagian orang katanya “mencekam” hihihi. Aku sendiri sempat berpikiran begitu ketika pertama kali melihatnya.

Rumah itu terlihat tua karena rumah kanan-kirinya dan rumah-rumah lain di kompleks itu sudah direnovasi dan menjadi rumah bergaya modern. Sementara  kostku, sejak Ibu kost menempatinya tahun 1970an.. (ya benar, 70an, sebelum aku lahir), rumahnya ya itu saja. Hanya diperbaiki kalau ada yang rusak, bocor, di cat ulang, dll. Tapi rumah itu, ya masih tetap bergaya jadul. Setelah menempatinya sih, aku tidak merasa mencekam sama sekali. Justru merasa tenang…hehehe.

Salah satu hal yang membedakan rumah kost ini dengan rumah-rumah tetangga adalah banyaknya tanaman dan pohon2 yang tdk dimiliki rumah lain. Di depan rumah berdiri sebuah pohon mangga yang cukup besar. Cabang-cabang, ranting dan daunnya cukup membuat rumah menjadi adem meskipun siang sangat terik. Kamar-kamar kost yang berjumlah lima buah berada dibelakang rumah induk. Di sebelah kiri, tiga kamar berderet yang salah satunya adalah kamarku. Di seberang, di sebelah kanan, ada kamar kost, kamar pembantu, dapur(wastafel, kompor gas, meja makan, dan kulkas), tiga kamar mandi, dan diujung sana, kamar kost lagi.

Dan apa yang ada di tengah-tengan kedua sisi ini? Adalah sebuah “kebun” kecil yang berisi, pohon jambu air, jambu biji, pepaya, pohon jeruk, pohon salam, pohon belimbing besar, dan banyak tanaman anggrek dan bunga lain yang tertata rapi dalam pot. Benar-benar serasa di kampung :) . Saat ini, pohon belimbingnya sedang berbuah banyaaakk sekali, sampai berjatuhan. Kami, anak-anak kost sudah tidak mampu lagi kalau harus ngerujak lagi karena buahnya begitu banyak. Kalau hujan, pinggiran lantai di depan kamarku jg ikut basah. Yah begitulah. Belum tahu sampai kapan aku berada di rumah ini. Mudah2an betah terus sampai waktunya untuk memilih jalan hidup yang lain. Yang lebih baik tentunya. Seperti aku tidak pernah menyesal meninggalkan ketiga kostku yang sebelumnya. Here I am, with the life that i got.

mengaku Jawa

Postingan ini tidak bermaksud menyinggung SARA. Daripada nggak ada yang di posting kan? Akhir-akhir ini aku agak kesal dengan sebuah statemen orang-orang di ibu kota ini yang jika ditanya “asalnya darimana?” Dari Jawa. Perlu diketahui bahwa Jawa disini adalah Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur. Jawaban spt itu kemudian menghasilkan asumsi di kepalaku bahwa dia lahir, besar dan sekolah di Jawa. Asumsi ini membuatku senang, karena bisa kubayangkan orang tersebut memiliki latar belakang sama denganku.

Aku bisa membayangkan bisa “berteman” dengan orang-orang dengan latar belakang yang sama. Karena aku tahu, orang Jawa akan ramah, mau menolong, peduli dan (sorry) manusiawi. Eit, tapi ternyata salah. Dia/ mereka itu bukan orang Jawa. Orang tua mereka yang memang lahir di Jawa, kemudian merantai di Jkt, menikah dan membesarkan anak di Jkt. Apakah anak-anak tersebut bisa disebut sebagai orang Jawa? Menurutku Tidak Sama Sekali. Tidak.

Seseorang memiliki budaya, karakter, dan kepribadian dimana dia tumbuh. Bukan karena keturunan. Dan orang-orang tadi, jelas-jelas menunjukkan karakter dan kepribadiannya sebagai orang Jakarta. Cuek, nggak peduli kalau tidak ada kepentingan, penuh curiga, bisa dengan mudah diajak bersenang-senang atau makan-makan, namun memiliki berjuta alasan jika harus membantu untuk hal yang susah-susah. Dan jelas, itu semua bukan karakter orang Jawa. Sangat berbeda.

So, nggak usah ngaku jadi orang “Jawa” deh, kalau hanya karena orang tua berasal dari sana. Sementara yang bersangkutan lahir dan besar di damn city ini. OK?

bolehkah aku berbalik arah?

Sebenarnya, aku sama sekali bukan tipe orang yang monoton, takut dengan perubahan, dan takut keluar dari daerah aman. Bukan sama sekali. Dan tanpa disadari ternyata jalan hidupku mengharuskan aku untuk selalu mengalami perubahan. Entahlah, aku jadi pemberani dengan sendirinya atau justru karena memiliki hidup yang berliku-liku (alah :) ) sehingga jadi suka dan terbiasa dengan tantangan.

Aku baru saja mengalami sesuatu yang baru lagi. Tempat tinggal baru lagi, dengan orang-orang baru lagi. Meskipun sudah terbiasa dengan hal seperti ini, tetap saja ada rasa aneh ketika melaluinya. Dan mengenai pindah ini, terus terang saja aku tidak merasa berat sama sekali. Aku tidak kehilangan apapun meninggalkan kostku yang dulu. That’s true :)

Dan ternyata, semuanya tidak akan pernah sama lagi sepertinya. Iya, hidupku memang berubah. Aku memang sudah lulus kuliah, sudah bekerja, bergerak maju, meneruskan hidupku. Sebagian besar orang mungkin melihatku sudah “maju”, beberapa langkah ke depan dibandingan beberapa orang seusiaku. Tapi apakah “maju” itu harus berarti menerima kehidupan yang berbeda sama sekali. Apakah itu berarti harus kehilangan semua yang dulu aku miliki, yang dulu sangat aku sukai. Memang aku mendapat kompensasi atas semua kehilanganku itu. Bagaimana kalau aku merasa bahwa kompensasinya itu tidaklah cukup menggantikan? Bagaimana kalau hal-hal yang dulu aku miliki itu priceless?

Benarkah aku menjadi seorang pengecut ketika ternyata setelah maju ternyata sesuatu di depanku sama sekali bukan yang aku inginkan? Aku sendiri sering menjumpai orang-orang yang aku anggap pengecut karena tidak berani keluar dari daerah amannya, tidak mau repot-repot berjuang dan memiliki kehidupan begitu-begitu saja.

Apakah aku akan menjadi sama seperti mereka? Apakah aku tidak boleh merasa tidak nyaman? Bolehkah aku berbalik arah jika arah ini ternyata tidak kuinginkan? Bolehkah?