Mata kedutan, Insomnia dan mimpi buruk

Sudah dua minggu mata kiri-ku kedutan terus. Bukan berdenyut terus sih, tapi kedutan yang berkelanjutan. Berkedut, berhenti selama beberapa saat, lalu berkedut lagi, dan begitulah seterusnya. Aku tidak berminat untuk mencari-cari informasi tahayul mengenai arti mata kedutan itu. Aku sudah googling mencari artikel atau konsultasi kesehatan mengenai “mata kedutan”. Hasil yang aku dapat adalah penjelasan dokter bahwa ada arus yang tidak sempurna ketika terjadi proses pengiriman reaksi/ respon dari panca indra ke otak. Bahan-bahan kimia yang mengikuti “proses pengiriman” tersebut tidak terpecah secara sempurna sehingga timbullah kedutan. Kenapa tidak sempurna? Karena panca indra tersebut mengalami kelelahan. Ya, mungkin mataku kelelahan, karena sepanjang siang di depan komputer, dan pulang ke kost aku membaca buku/ koran sampai tertidur. Tapi kenapa tidak berhenti-berhenti ya? Sampai sekarang masih…. :(

Lalu insomnia. Entah ada hubungannya atau tidak, bersamaan dengan munculnya kedutan itu, aku jadi tidak mudah terlelap meskipun sudah jam 12 atau 1 pagi. Padahal biasanya jam 9 atau 10 pun aku sudah tidur. Dan semalam, aku bermimpi yang kurang menyenangkan. Aku sedang sangat terburu-buru, tetapi orang yang sedang aku hadapi bersikap sangat santai sehingga membuat aku harus menunggu lagi, dan lagi. Mimpi yang menyebalkan.

Mudah-mudahan posting berikutnya aku akan memberikan cerita yang menyenangkan ya…. semoga…

Berusaha bisa sendiri

Tadi malam, kita menyambung pembicaraan siang hari yang terputus karena aku merasa tidak nyaman mengobrol dengan telpon kantor. Bukan mengenai pulsa telponnya, karena berada di Dept External Affairs, aku memiliki fasilitas telpon keluar yang tidak terbatas. Tapi karena pembicaraan di kantor bisa terdengar oleh orang lain mengingat rendahnya batas kubikel  dan betapa terbukanya area tempat duduk sehingga setiap orang bisa melihat dengan leluasa pada rekan kerja lainnya.

Kamu bertanya dengan siapa saja aku bergaul di Jkt. Aku menjawab, tidak banyak, hanya teman kuliahku Lyla yang kerja di Greenpeace dan kost di Setiabudi, lalu ada Indar masih teman kuliahku juga yang aslinya memang orang Depok, kamis lalu aku baru bertemu denganya di Margo City, lalu geng Aan, Vinanto dan Saikhu teman organisasi pers kampus dulu yang di Jkt kost bareng di Kalimalang Jkt Timur. Dengan ketiga orang ini dan bbrp teman lainlah aku 2x makan di angkringan Pondok Bambu.  Lalu ada Rina, teman SMUku yang dua minggu lalu pergi ke Ragunan denganku.

Kemudian kamu berkata, oh begitu, tidak ada teman baru ya? semuanya teman lama? Dan kujawab, ya begitulah, teman mainku disini ya teman-teman lama semua. Perkataanmu mengenai “tidak ada teman baru” membuatku ingin menjelaskan bahwa kondisi disini berbeda dengan di Jogja. Orang Jkt tidak seramah orang Jogja. Aku bilang, aku ceritakan sesuatu nanti malam, karena tidak bebas bicara disini. 

Malamnya aku ceritakan pengalaman seorang rekan yang baru masuk kantor ini beberapa bulan. Dia diundang pada sebuah acara peringatan keagamaan yang diselenggarakan karyawan. Hasilnya, meskipun itu sebuah kegiatan kerohanian, meskipun dia sudah maju ke depan untuk memperkenalkan diri dan menceritakan sekelumit pengalaman hidupnya, tetap tidak ada orang yang peduli padanya seturunnya dia dari podium. Dia sudah menyapa kanan kiri, dan dibalas seperlunya. Akhirnya, dia pun berakhir sendirian di acara itu hingga selesai. 

Maksud dari ceritaku tadi adalah bahwa bukan salahku ketika aku sepertinya tidak punya teman baru sejak meninggalkan Jogja. Aku bermaksud menjelaskan bahwa masalahnya bukan (hanya) padaku, tapi iklim disini berbeda dengan di Jogja. Kalau teman baru yang sekedar say hello sih banyak. Kan ada hampir 400 orang di kantor Jkt ini. Paling tidak 100 orang diantaranya pernah aku sapa atau mengobrol. Tapi itu hanya sekedar basa-basi. Belum sampai pada tahap “curhat”, jalan bareng, atau bahkan meminta tolong. Masih jauuhhh….

Aku tidak sadar, atau  sebenarnya sadar tapi pura-pura tidak mengerti bahwa ternyata hal-hal seperti ceritaku diatas sudah ribuan kali aku ceritakan padamu. Sudah ribuan kali aku mengeluh padamu. Kamu sudah memberikan saran, support yang intinya menyuruhku untuk bertahan dan menjalani sampai selesai masa ikatan dinasku dengan perusahaan ini. Karena itu adalah konsekuensi dari apa yang aku putuskan pada masa lalu.  Setelah ikatan dinasku selesai, aku akan memiliki pilihan untuk resign, dan mencari kerja di tempat lain. Di luar Jkt seperti keinginanku. Ribuan kali kamu mengatakan ini setiap kali aku mengeluh.

Aku tahu kamu jenuh mendengarkanku mengeluhkan hal yang sama. Sudah setahun sejak aku datang ke Jkt, dan keluhanku masih sama. Dan tadi malam, adalah puncak kekesalanmu. Aku tidak bisa mengatasi masalahku sendiri sejak setahun yang lalu. Aku tidak bisa memutuskan untuk berkompromi, menerima, berusaha untuk bahagia, dan berhenti mengeluh. Kamu jenuh mendengarku menceritakan masalah demi masalah setiap hari. Kamu mengatakan bahwa kita tidak perlu bertelpon setiap hari karena percakapan itu hanya akan berisi masalah-masalahku disini. Masalahku akan tetap sama, dengan Jkt dan dengan kantor yang tak kunjung dapat proyek baru hingga membuatku tidak punya pekerjaan. Dan membuatku punya begitu banyak waktu untuk menulis blog sepanjang ini.

Aku tahu aku bersalah dan semua yang kamu katakan benar. Aku juga mengerti kejenuhanmu. Aku mengerti kamu juga punya banyak masalah dan aku tidak perlu menambahinya dengan menceritakan masalahku setiap hari, setiap kali aku menelpon. Oleh karenanya maafkan aku. :(

Aku hanya merasa butuh untuk menelponmu setiap pulang kerja karena di rumah (kost) tidak ada seorangpun yang bisa aku ajak bicara. Aku tidak punya teman yang bisa diajak mengobrol atau mendengar hal-hal lucu yang bisa membuatku tertawa melupakan apa yang terjadi di kantor sepanjang hari ini. Atau teman makan nasi bungkus bareng seperti waktu di Jogja dulu. Aku tidak punya. Dan kamu, adalah orang yang selalu ingin aku ajak bicara, mengenai apapun. Aku memerlukanmu.

Semalam, di tengah kekesalanmu, kamu meminta aku menyepakati bahwa kita tidak perlu bertelpon setiap hari. Dan aku menyetujuinya. Aku tidak mau mengganggumu lagi. Aku paling tidak bisa, kalau keberadaanku ternyata menambah masalah bagi orang lain. Apalagi, karena aku menyayangimu.

Setelah ini, kita hanya akan bicara 4 hari sekali, atau seminggu sekali. Dan aku, akan berusaha menjadi dewasa. Aku sangat kekanakan dengan mengeluhkan hal yang sama setiap hari selama setahun lebih ini. Mungkin aku hanya akan mengabarimu ketika aku sudah pindah ke kost yang baru minggu depan. Lalu menceritakan hal-hal menarik apa yang aku temui selama seminggu terakhir. Ya, hal-hal menarik. Karena hal-hal yang tidak menyenangkan akan aku simpan dalam box simpanan, sampai aku bisa melupakan box itu dan segala isinya.

Maafkan aku ya. Aku akan belajar menjadi dewasa. Aku bisa sendiri…..

Pelajaran Berharga

Intro: Posting ini merupakan catatan saya dan saya tujukan pada diri saya sendiri. Jadi jika anda membacanya, jangan merasa seperti digurui ya? :)

Ternyata benar, dalam sesuatu serumit apapun, berada diantara orang (orang) seperti apapun, selalu ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Mungkin pelajaran tersebut sudah kita tahu, namun rasanya akan berbeda jika kita mengalaminya dan menyadarinya secara nyata pula. Ini dia, beberapa hal yang berhasil aku dapat (dan sadari):

1. Berpikir positif adalah segalanya.

Pikiran positif menunjukkan isi hati kita, isi kepala kita, apa yang kita pikirkan, dan seberapa bijak dan dewasa kita dalam menjalani hidup ini. Berpikirlah positif dalam segala sesuatu, semua situasi, semua orang dengan atribut dan profesi yang mereka miliki. Berpikir negatif terhadap segala sesuatu hanya membuat seseorang justru terlihat “rendah”, dan pesimis menghadapi hidup ini. Berpikir negatif juga bukti bahwa seseorang tidak puas dengan hidupnya sendiri. Berpikir negatif membuktikan bahwa seseorang merasa “terancam” dengan posisi orang lain, karena dia kemungkinan besar tidak mampu mencapai posisi tersebut.

2. Menjelek-jelekan orang lain untuk membuat orang lain terlihat lebih rendah dan membuat diri kita terlihat lebih baik? Oh, riddiculus.

Ayolah, mencari-cari keburukan orang lain? Dari segala sisi? Lha, kalau orangnya baik-baik saja, mau dicari kesalahannya dimana? Pertanyaan “Dulu kalau nggak diterima UMPTN mau ngapain? Kerja? Pasti sekarang masih di kampung ya?” Aduh, maaf udah telanjur lulus UMPTN tuh, udah lulus kuliah pula.

3. Berpikir bahwa kesuksesan seseorang adalah keberuntungan semata? Oh, siapa yang masih bilang begitu hari gini?

Pernah baca biografinya orang-orang sukses dan terkenal? Adakah diantara mereka yang sukses “hanya” karena keberuntungan? Mereka bekerja lebih keras dari banyak orang di dunia ini.

4. Berjuanglah, karena hidup ini perjuangan.

Orang tua tidak akan selamanya ada untuk memberi makan kita. Pacar bisa pergi jauh dan meninggalkan kita. Saudara? Punya urusan sendiri. Suami? Dia bisa saja suatu saat berhenti dari pekerjaannya, sakit atau cedera dan tidak mampu bekerja lagi, atau bahkan meninggal. Memang berjuang bukan semata untuk uang. Tapi salah satu indikator penting berhasilnya perjuangan seseorang dalam hidup ini adalah ketika seseorang mampu menghidupi dirinya sendiri.

Berhentilah berharap orang lain akan selalu memberi kita. Berusahalah sendiri. Belajarlah menggantikan kata “meminta” dengan “memberi”. Tuhan memberikan kita kehidupan bukan untuk duduk bersantai-santai, menyia-nyiakan waktu, dan berharap seseorang akan datang membawa harta kekayaan. Tidak.

4. Klasik sih: Jangan jadi katak dalam tempurung, keluarlah dari dekapan hangat ibumu!

Di luar sana, dunia ini jauh lebih menarik. Betapa banyak tantangan di luar sana yang akan membuat membuat hidup kita berwarna. Beranggapan bahwa tempat tinggal selama 30 tahun terakhir adalah tempat paling baik di dunia? Salah. Beranggapan bahwa orang-orang kasihan karena harus meninggalkan kampung halamannya disana untuk mencari nafkah, harus mengontrak tempat tinggal sempit, jauh dari keluarga? Ayolah, apakah hidup bersama orang tua, dengan makanan yang selalu tersedia di meja jauh lebih baik? Iya, kalau usiamu belasan tahun.

5. Menyebut kesalahan-kesalahan orang lain untuk membenarkan kesalahan diri sendiri?

Ya, memang tidak ada orang yang bersih dari dosa di dunia ini. Tapi, jangan-jangan kesalahan orang lain tidak sebesar kesalahan kita.

6. Jujurlah dengan keadaan diri sendiri.

Tidak perlu berbicara setinggi langit, kalau kenyataannya kita tidak mampu (tidak mau repot2) untuk kesana.

7. Membenci seseorang karena seseorang memiliki sesuatu (hasil perjuangannya) yang tidak kita punya? It’s only make you like two.

Kata sebuah buku, itu sama dengan membenci Leonardo Da Vinci karena kita tidak bisa melukis.

8. Jangan bentengi dan tutup telingamu dari kritik dan saran.

Membentengi diri dan menutup telinga seperti ini, sama dengan beranggapan bahwa kesalahan yang kita miliki adalah benar. Dan kita akan membelanya dengan berbagai argumen. Dalam hati, sebenarnya kita tahu bahwa itu salah.

9. Jangan serahkan kendali atas hidupmu pada orang lain

Sebagai individu yang merdeka, satu-satunya hal yang pasti kita miliki adalah hidup kita. Jadi, peganglah kendalinya. Tentukan apa yang harus dan akan kita lakukan dalam sebuah target. Sebaliknya, jangan berikan kendali hidup kita pada orang lain. Jangan berpikir tidak perlu mengusahakan apapun karena (mungkin) tahun depan pacar kita yang kaya akan menikahi kita. Jangan merasa tidak perlu melakukan sesuatu yang “lebih” karena kita pikir apa yang kita jalani saat ini sudah “cukup” Jangan menyamakan melakukan sesuatu yang “lebih” itu sebagai sikap ambisius dan ngotot. Jangan menunggu seseorang melakukan sesuatu untuk mengubah hidup kita. Don’t wait forever! That’s stupid!.

10. Cobalah untuk menempatkan diri tidak hanya pada satu posisi.

Jika kita tidak suka tidur di kasur yang keras, jangan berpikir bahwa hal itu tidak masalah bagi orang lain. Jika kita butuh TV, mendengarkan musik, sebuah kehidupan yang layak, begitu juga orang lain. Berikanlah orang lain menurut haknya, tidak perlu menghalang2i demi kepuasan pribadi.

11. Rendah hatilah

Di dunia ini, pasti selalu ada hal-hal yang kita tidak tahu. Jadi, bersikaplah rendah hati. Tidak perlu sombong. Akan memalukan jika apa yang kita bicarakan tidak sesuai dengan kemampuan kita.

12. Milikilah prinsip dalam hidup ini

Milikilah prinsip, dan lakukanlah, terapkanlah dalam hidup kita. Kita tidak bisa mengakui memiliki prinsip itu, jika kenyataannya kita memiliki begitu banyak toleransi yang bertentangan dengan prinsip itu.

Untuk seseorang yang menjadi tuan rumah saya selama sembilan bulan ini, bagaimanapun kesalnya saya, dan anehnya pertanyaan-pertanyaan Anda, saya berterimakasih karena tanpa Anda sadari, Anda telah memberikan pelajaran kepada saya. Dan Anda juga membuat saya menulis blog ini. Hidup Anda juga memberikan pelajaran berharga pada saya. Selamat menjalani hidup ini.  

Tidak Ada

Setelah setahun lebih dua bulan, aku berpikir, apa ya yang aku sukai dari Jakarta? Setelah lama kupikir dan kucari-cari, oh ternyata jawabannya TIDAK ADA. :(

Optimis

Tulisan ini aku dapat dari seorang teman kantor. Mengingatkanku untuk selalu optimis dalam menjalani hidup ini. Dan jangan biarkan lingkungan bernuansa pesimis dan pemikiran negatif membuat kita ikut serta dalam arus itu. Bersemangattt!!!

Ada 2 macam tipe manusia dalam menyikapi hidup ini; satu sikap orang yang pesimis dan ke-dua adalah orang yang bersikap optimis.   Tipe pertama orang pesimis, bagi orang pesimis kehidupannya lebih banyak dikuasai oleh pikiran yang negatif, hidup penuh kebimbangan dan keraguan, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, mudah putus asa kalau menemui kesulitan atau kegagalan, selalu mencari alasan. Orang pesimis lebih percaya bahwa sukses hanyalah karena kebetulan, keberuntungan atau nasib semata.  

Tipe ke 2 adalah orang optimis, bagi orang yang memiliki sikap optimis, kehidupannya didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko.   Orang optimis bukanlah karena melihat jalan mulus di hadapannya, tetapi orang yang mempunyai keyakinan 100% dalam melaksanakan apa yang harus diperjuangkan.   orang optimis tahu dan sadar bahwa dalam setiap proses perjuangannya pasti akan menghadapi krikiil -krikil kecil ataupun bebatuan besar yang selalu menghadang! Orang optimis siap dan berani untuk mengatasi masalah atau kesulitan yang merintanginya, Bahkan disaat mengalami kegagalan sekalipun tidak akan membuat dia patah semangat, karena dia tahu ada proses pembelajaran disetiap kegagalan yang dia alami.   Tentu orang yang punya sikap mental optimis demikian adalah orang yang memiliki kekayaan mental, dan hanya orang yang mempunyai kekayaan mental, yang mampu mengubah nasib jelek menjadi lebih baik….