Bersabar

Kali ini sepertinya aku benar-benar harus bersabar. Karena keadaan tidak dengan serta merta akan berubah seperti apa yang kita inginkan. Setelah dua minggu lebih mencari kost2an melalui iklan baris, internet, aku telpon satu persatu, tanya sana-sini (yang sebagian besar ternyata tidak membantu), dan akhirnya berhasil meminta tolong teman baikku, teman kuliah dulu, untuk keliling2 daerah Cilandak seharian penuh. Sampai saat ini aku belum memutuskan akan pindah ke tempat yang mana.

Padahal aku sudah berusaha menurunkan standar kenyamananku. Ada sebuah tempat kost yang cukup lumayan di Fatmawati, tapi harganya, dua kali lipat dari harga kostku sekarang, fasilitas dicucikan baju ternyata dibatasi dua stel baju sehari, harus menambah listrik lagi utk setiap item barang elektronik yang aku punya, selain itu jauh dari kantor dan aku harus dua kali naik bus untuk ke kantor. Itu berarti pengeluaran untuk transport akan membengkak 2x lipat. So, the last answer is NO.

Ada satu tempat kost yang hampir saja aku pilih. Tempatnya agak jauh memang, sekitar 5km dari kantor, terletak di perumahan AL, dekat kampus UPN sehingga penghuni lainnya adalah mahasiswa, rumahnya cukup bagus, khusus cewek dan tidak benar2 bercampur dengan pemilik kost. Tapi, harus jalan sekitar 200m utk menuju jalan besar untuk naik kendaraan umum, dan yang paling parah adalah melewati pasar. Waktu itu hari Minggu jadi keadaan tidak macet. Setelah bercerita ke beberapa teman kantor, aku malah diberitahu kalau itu daerah biang macett. Bisa-bisa dalam setengah jam aku belum sampai perempatan Fatmawati dan belum ganti angkot yang kedua. Begitu pula dengan arus pulangnya. Bisa gawat dan stress di jalan. :(

Akhirnya seorang teman kantor dan teman sekampung menawarkan kamar di tempat kostnya. Setelah kulihat “hampir sempurna”. Kamar luas, bersih, murah, ada dapur, dicucikan baju, tidak jauh dari kantor. Tapi, kostnya campur, alias ada cowoknya disitu. Dan kami harus berbagi dua buah kamar mandi yang tidak ditentukan mana untuk cewek dan mana untuk cowok. Aku tidak pernah kost campur sebelumnya, dan tidak bisa membayangkan ada cowok ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi :(

Ditambah dengan ketidak setujuan beberapa orang yang sangat penting dalam hidupku. Juga teman2 baikku, teman kuliah dulu. Semua keberatan aku harus tinggal serumah dengan cowok. Meskipun aku tahu bahwa aku berhak untuk menentukan pilihan sendiri, karena ini adalah hidupku. Aku tidak bisa mengabaikan pendapat mereka. Terutama soal tinggal bersama cowok. Untuk hal yang lain, mungkin aku akan nekat.

Jadilah, aku masih bertahan di kostku yang sekarang. Hanya, sekarang aku berusaha mengurangi kontak dengan mereka. Karena semakin sering mengobrol, semakin besar kemungkinan terjadi “clash” karena emang pada dasarnya nggak nyambung. Aku tidak mengerti dan tidak setuju dengan jalan pikiran mereka. Disisi lain, mereka menganggap aku terlalu idealis, materialistis (tentu saja klo tidak kerja aku nggak akan bisa makan), dan sok suci (karena berpikiran ”terlalu lurus” dalam berbagai hal).

Karena merasa buntu, tidak tahu mesti kemana lagi (menyedihkan sekali, ini pertama kalinya aku merasa begini), aku sempat berpikir untuk tetap saja tinggal disitu. Berencana membeli televisi supaya ada hiburan di kamar, tidak usah banyak mengobrol, dan bersedia membayar uang listrik untuk TV yang akan aku beli, dan laptop yang aku bawa setiap sabtu-minggu. Supaya aku tidak perlu merasa tidak enak. Begitulah. Kalau memang begini hal terbaik yang bisa aku dapatkan di Jkt, harus diterima kan?

Oya, kemarin ada seorang rekan kerja di kantor yang menginformasikan akan ada kamar kosong di kostnya karena penghuni yang sekarang akan pindah. Aku meminta tolong padanya untuk menanyakan lagi apa dia akan benar2 pindah, dan kapan pindahnya. Maksudku supaya aku bisa datang, bertemu pemilik kost dan kalau cocok aku bisa pindah akhir bulan ini. Dan sekarang, dia belum sempat bertanya. Sabar ya…. katanya. Sabar ya? Kalau sampai akhir bulan ini belum menemukan tempat, itu berarti harus tetap di tempat lama. Aku sudah sebulan lebih aku mencari tempat kost. Tinggal diperpanjang lagi kesabarannya.    

Penuh

Tulisan yang ini terlebih dulu aku posting di brittania.multiply.com. Isinya sama persis kok :D

Masih berisi keluhan tempat tinggal. Nggak apa2 to? Wong ini blogku kok, aku bebas menulis apa saja. Aku akan tuliskan juga kalau sudah pindah kost baru. Ok?  

Postingan kali ini nggak mutu banget. Tidak mood untuk menulis (i am a dead lazy  ;) ) tapi ada yang ingin dikatakan. Sebagai seorang perantau, saat ini aku “hanya” mampu menyewa sebuah kamar seluas 3x 4 meter di rumah seseorang di daerah Jakarta Selatan. Ok, aku tau harus beryukur atas semua yang berhasil aku dapatkan dan aku miliki pada saat ini. God bless me.

Hanya saja, aku merasa kamarku begitu penuh. Karena banyaknya barang yang aku punya atau karena kamarnya yang sempit? Pemilik rumah pernah mengatakan bahwa kalau jadi anak kost sih tidak enak kalau punya banyak barang. (perlu diketahui, aku memiliki “cerita” atau bisa dikatakan “masalah” dengan sang empunya rumah ini, mungkin akan aku tuliskan nanti).

Tapi bagaimana? I have life, or try to have a life. Hidup itu berkembang, dan pada suatu situasi bisa dilihat dari banyaknya barang yang seseorang punyai. Sangat aneh, kalau hidup terus berjalan tetapi tidak ada perubahan atau pertambahan dari apa yang kita miliki, baik secara fisik maupun non fisik (achievements, etc).

Kali ini aku membicarakan perubahan secara fisik. Sekali lagi aku patut bersyukur, karena bekerja di perusahaan yang bisa dibilang “generous” kepada karyawannya. Meskipun tidak dalam segala hal generous-nya. Dalam setahun sering sekali aku mendapat hadiah dari kantor, entah itu penghargaan atas LTI Free (Lost Time Injury Free/ perusahaan pertambangan selalu punya target ini) atau bonus produksi. Beberapa bulan lalu, aku mendapat hadiah; bukan satu tapi dua koper/ travel bag ukuran besar dan ukuran sedang. Sedangkan aku sudah memiliki satu koper yg aku beli sendiri. Jadi, ada tiga koper.

Dalam enam bulan, bisa dipastikan minimal satu kali aku mengikuti training yang dibiayai kantor, dan pulangnya selalu membawa seminar kit, dan souvenir dari penyelenggara. Tidak semua bisa dibawa ke kantor, so sisa2 barang aku bawa ke rumah. Bertumpuklah tas-tas dan beberapa block note itu. Ada banyak hadiah lain yang aku dapat; lentera kemping, jam meja, jam tangan, banyak T Shirt (yang memenuhi lemari kecilku), topi, beberapa boneka dan magnet oleh2 teman dari luar negeri, dll. Sementara itu kamar tentu saja harus dipenuhi dengan tempat tidur, lemari baju (kecil banget!), rak kosmetik dan makanan, meja TV (TV-nya tidak pernah aku tonton lagi karena rusak), meja kecil menaruh gelas minum, sementara itu diatas lemari baju bertumpuk dokumen-dokumen, koran Kompas, majalah-majalah, buku-buku, CD-CD, beberapa album foto. Aku bahkan tidak bisa membayangkan untuk membeli rak buku karena mau ditaro dimana? digantung. Aku juga harus membuka laptopku diatas kasur karena tidak ada meja.

Ooooooh, so Fuuuuuullllllllllllllll. I need Spaaaaaaaaaaaaaace.  T_T.

Ingin rasanya mencari tempat lain yang lebih baik. Tapi ini Jakarta, dan aku tidak tahu harus memulai mencari darimana. Begitu banyak pertimbangan; jangan terlalu jauh dari kantor, jangan daerah macet, jangan daerah banjir, cari yang lingkungannya aman, cari yang penghuni lainnya “nice”, cari yang lebih luas, cari yang induk semangnya nggak cerewet, cari yang tidak panas, dll.

Terlalu perfeksionis? Mungkin.

Harus mencari dimanaaaaaaaaaa????????????? :(