Tuna Wisma
Sulit rasanya membayangkan diriku menjadi tuna wisma. Tinggal jauh dari kampung, tidak punya rumah atau sekedar tempat tinggal, harus “menggelandang” di pinggir-pinggir jalan, dan berjalan kesana kemari tanpa arah.
Tapi keadaanku bisa dikategorikan sebagai tuna wisma (homeless) dalam skala yang berbeda. Ya, aku tidak punya rumah di Jakarta. Jakarta seharusnya menjadi “rumah” untukku saat ini. Setidaknya pada tahap ini dalam hidupku. Disinilah aku memiliki penghidupan. Dulu sekali rumahku adalah Tegal, dimana aku dilahirkan dan tinggal bersama keluargaku. Sampai lulus SMU, Tegal adalah rumahku.
Setelah itu, rumahku adalah Jogja. Selama empat setengah tahun kuliah di UGM, Jogja menjadi rumahku karena aku harus belajar disana. Saat itu sudah mulai agak aneh mengatakan bahwa Tegal adalah rumahku karena aku hanya pulang ke Tegal tiap liburan semester, dan saat hari raya. Itupun paling lama aku berada disana selama seminggu. Sisanya, Jogja adalah rumahku.
Sekarang, masa Jogja sudah selesai. Aku mendapat “panggilan” atau bisa dikatakan sebagai takdir, bahwa aku harus ke Jakarta. Karena perusahaan tempatku bekerja berlokasi di Jakarta. Ya, seharusnya Jakarta adalah rumahku saat ini. Aku menghabiskan berbulan-bulan di kota ini, dan hanya pulang ketika long weekend atau cuti yang paling lama hanya seminggu.
Ternyata tidak semudah itu. Seperti posting ku sebelumnya mengenai kost yang buruk, aku belum menemukan “rumah” yang nyaman untuk aku tinggali. Padahal kost itu adalah kost ketiga yang aku tempati sejak aku datang ke Jakarta setahun yang lalu. Aku ingin mencari tempat tinggal, mencari rumah untuk tempatku hidup. Tapi susah. Ekspektasiku terlalu tinggi karena dulu aku memiliki “rumah” yang sangat nyaman. Sehingga secara tidak sadar aku memasang target sangat tinggi atas apa yang aku sebut “tempat tinggal yang nyaman”. Kenyataanya, tidak ada tempat seperti itu di Jakarta. Karena ini Jakarta, bukan Tegal maupun Jogja. Ini Jakarta. Aku harus menurunkan standar kenyamananku. Kalau tidak, gawat, aku tidak akan bisa bertahan.
Aku akan tersandung oleh masalah-masalah kecil seperti kost2an dan orang-orang yang mungkin bukan bagian dari rencana besar dari hidup.
Aku sedang mencari “rumah” disini. Tetapi bingung mau mencari kemana. Semua pilihan ada resikonya. Terlalu jauh, terlalu mahal, harus berangkat lebih pagi, tidak nyaman, dll. Aku tidak mau jadi tuna wisma.



![UT 3, 4 & The Milky Way [video] UT 3, 4 & The Milky Way [video]](http://static.flickr.com/2633/4135738280_d16c9dd389_t.jpg)
selamat mencicipi kerasnya Jakarta Om … bunderan UGM, maen sepakbola di depan balairung, nonton sepep di kos2 an …tinggal kenangan.
wah, kayaknya bener2 belum bisa ‘berdamai’ ama jakarta neh…hehehehe..kapan2 randezvous lah, ama kita2, biar sedikit merasa punya ‘rumah’
Bayuleo: Bukan tinggal kenangan lho. Setahun ini aku udah empat kali kok ke Jogja..hehehhe. Aku akan kembali kesana lagi
Okky: Iya nih Ky, nggak tahu kapan bisa berdamai. Sebenarnya aku udah mau mulai “menikmati” hidup disini, tapi malah datang lagi masalah kost2an….
“Sampai lulus SMU, Tegal adalah rumahku.”
Wah kalau soal merantau dan eksis di Jakarta, cah tegal jagonya lah. Buktinya tuh warteg ada dimana-mana..ya kan? Salam kenal aja dari cah Jogja..
Anang: Cah Tegal emang jago, tapi nggak bisa dilihat dari banyaknya warteg. Karena yang buka warteg bukan cuma orang Tegal. Spt orang jawa banyak yang buka warung Padang. Benar?? Salam kenal dari cah perantau..