Kost yang buruk
Aku membuat blog baru di wordpress ini dengan maksud agar bisa menulis kapanpun aku ingin meluapkan perasaanku. Seharian di kantor aku tersambung dengan internet, tetapi aku tidak bisa mengakses dua blog-ku yang di Friendster maupun Multiply. Aku harus ke warnet untuk menulis, dan tentu saja membayar dari kocek sendiri. Tidak sesuai dengan usaha berhemat karena penghasilan terbatas sementara biaya hidup sangat tinggi di Jakarta.
Beberapa waktu ini aku kesal sekali, dengan berbagai hal baik di kost maupun masalah seminggu terakhir di kantor. Masalahnya, sepertinya masalah2 itu tidak mau reda. Tidak seperti sebelum2nya dimana ketika keesokan pagi datang situasi akan membaik tanpa harus melakukan apapun. Biasanya orang-orang akan kembali ke mood yang baik semua akan kembali normal. Kenyataannya, tidak terjadi saat ini.
Pemilik kost yang sudah tua dengan serta merta menyindirku dengan berbagai hal. Seperti berusaha membuatku tidak betah dan segera keluar dari situ. Pernah suatu ketika aku sedang memasak, aku menyalakan kompor dan menaruh wajan diatasnya, merasa belum panas aku setengah berlari keluar dari dapur ke ruangan sebelah untuk mengambil sesuatu di kulkas. Saat kembali memasuki dapur, aku melihat Ibu Kost mematikan kompornya. Dan tanpa bilang sepatah katapun, aku pun menyalakannya lagi untuk memasak.
Suatu ketika yang lain, dua kali sebenarnya, pulang kantor dan membuka pagar (aku termasuk tipe orang yang ketika membuka pintu atau pagar berusaha agar suara yang keluar sekecil mungkin), dan si Ibu “menyambut” dengan setengah tertawa dan mengatakan “oh, saya kira tikus..hehehhee”. Secara waras pun nggak mungkin orang mengatakan hal itu. Mana mungkin ada tikus membuka pintu pagar sebesar itu. Mungkin si Ibu emang “bermasalah”.
Aku tidak sesering seorang teman kostku yang lain yang hampir setiap hari memasak, kadang pagi dan sore. Ketika aku memasak, si Ibu “menyapa” dengan mengatakan “Wah masak besar nih” padahal aku hanya menggoreng tahu saja. Apanya yang salah ya?
Okelah aku juga memiliki sifat buruk. Aku sering “tidak sempat” segera membuang sampah di depan kamarku, karena aku menunggu kantung plastiknya penuh. Aku sering kelupaan mempunyai sayuran di Kulkas-nya pemilik kost, sampai kadang2 busuk. Kadang aku membuangnya sendiri, kadang “terpaksa” si Ibu yang membuangnya. Dan aku sangat menyesal akan hal itu. Aku juga bukan orang yg sangat rapi dan bersih, meskipun demikian aku bersih2 juga seminggu sekali dengan mengepel dan mengelap kamarku. Lagian yang rapi atau tidak kan di dalam kamar. Yang aku sewa, dan seharusnya menjadi hakku untuk bagaimana mengaturnya asal tidak merugikan si pemilik secara keamanan maupun finansial.
Aku berpengalaman menjadi anak kost selama bertahun-tahun. Selama kuliah di Jogja, aku tidak pernah pindah kost selama 4,5 tahun. Aku betah dengan sifat yang sedikit sama dengan “kesalahan2″ yang aku lakukan sekarang. Lalu, kenapa sekarang semuanya menjadi masalah besar? Kenapa?
Apa masalah keirian? Ibu kost dan anak perempuannya yang tidak bekerja sering sekali “menanyakan” besarnya gajiku, tepatnya membuat statement: Kerja di Thiess pasti gajinya guede buanget, nggak perlu tambahan allowance apapun juga cukup. Padahal aku tidak pernah merasa sombong di hadapan mereka. Mereka juga melihat aku lebih sering makan dengan lauk tahu, tempe atau telur dibanding daging atau apa. Dan berbagai pernyataan dalam banyak percakapan yang aku lakukan dengan mereka (ibu kost dan anak perempuannya). Sebuah bentuk keirian yang aneh dan tidak cerdas. Lagian memang ada rasa iri yang cerdas?
Mereka seolah tidak mengerti bahwa aku mendapatkannya karena aku memang pantas. Aku sudah berjuang untuk kuliah jauh dari orang tuaku sejak lima tahun yang lalu. Aku diterima di Universitas negeri dengan jurusan yang bagus. Aku berjuang sepanjang kuliahku dengan berorganisasi, kerja part time, dan mencari beasiswa. Kalau sekarang aku dikatakan berhasil karena kerja di perusahaan besar dengan gaji yang cukup besar untuk fresh gaduate, aku pikir itu sebagai hasil jerih payahku selama ini. Dan aku pantas mendapatkannya. Yah, aku tau nggak mungkin mereka berpikir sampai sejauh itu. Terlalu jauh.
Aku merasa tidak membuat kesalahan atau menyakiti siapapun ketika aku membeli sepatu Kickers yang harganya lumayan mahal, atau membeli beberapa produk perawatan Body Shop, atau baju2 yang sedikit mahal (tp tidak sampai selangit harganya). Terlebih, aku tidak pernah memamerkan apapun selesai berbelanja. Aku tidak membuka tas belanjaanku di depan mereka. Mereka hanya melihat di rak sepatu ketika melihat sepatuku. Atau melihat kantung body shop ketika aku pakai untuk membawa barang lain. Aku tidak merasa menyakiti siapapun ketika kantor akhirnya meminjamkan Laptop Toshiba padaku. Laptop yang akhirnya aku bawa pulang setiap weekend.
Aku berusaha untuk tidak sombong dengan melakukan itu semua. Aku tidak serta merta bilang “aku baru beli sepatu Kickers tadi” ketika pulang dan menenteng belanjaan. Aku hanya tidak mengerti kenapa mereka bersikap begitu. Aku bukan orang bodoh yang tidak merasa ketika diperlakukan “sindiran” seperti itu. Aku tidak bodoh.



