dikejar-kejar waktu

2009 February 14
by evicipluk

Semalam aku mendapatkan ajakan yang aneh dari seorang teman melalui YM. Dia mengajakku untuk sama-sama berburu cowok/ pacar. Ternyata, alasannya adalah bahwa teman baikku ini sudah mulai khawatir dikejar-kejar umur (emang bisa ngejar gitu?) karena sampai sekarang belum punya calon pendamping hidup. Padahal dia setahun lebih muda dari aku. Dia merasa dikejar-kejar karena teman-teman mulai menikah satu persatu, dan sudah pasti temanku ini (dan aku juga mungkin) sering ditanya mengenai kapan menikah. Sebenarnya ini adalah isu klasik dan membosankan untuk dibahas. Itulah mengapa, seingatku ketika bertemu dengan teman lama maupun baru, tidak pernah kutanyakan “kapan menikah?”. Toh kalau orang sudah mau menikah, atau sudah menikah mereka akan bilang sendiri.

Kukatakan padanya, bahwa ini adalah hidup kita. Kita yang paling tahu hidup kita seperti apa dan mau dibawa kemana. Kita tidak perlu pusing memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu dan membuat seolah-olah waktu kita akan segera habis. Kita memutuskan menikah karena sudah menemukan orang yang kita yakini akan tepat mendampingi kita seumur hidup. Bukan karena supaya tidak ditanya-tanya lagi atau kelihatan sudah “laku”. Anehnya, kenapa sepertinya hanya perempuan saja yang mengalami hal ini ya? Laki-laki lebih dimaklumi jika sampai akhir 20an atau awal 30an baru menikah. Aku pernah membicarakan hal ini dengan beberapa orang asing di kantorku dulu. Beberapa rekan kerja perempuan berusia 26-27 tahun sempat sharing bahwa mereka khawatir karena sampai usia segitu belum punya calon pendamping yang pasti (kalau pacar atau gebetan sih mungkin ada). Waktu itu kukatakan, kekhawatiran itu karena tuntutan budaya Indonesia. Bahwa pada usia itu, sebaiknya perempuan itu sudah menikah, biar tidak terlalu tua saat memiliki anak. Sesuatu yang bagi kultur barat adalah sangat konyol dan tidak sesuai dengan nilai liberal yang mereka anut.

Aku memiliki pandangan berbeda dengan temanku ini, meskipun kami sama-sama perempuan. Menurutku, daripada pusing merasa dikejar-kejar waktu, lebih baik kita berfokus pada hal-hal yang membuat kita maju. Tekuni pekerjaan yang kita punya, lakukan terbaik disana, dan sebagai implikasinya tentu penghasilan yang semakin besar dan posisi yang semakin naik. Dan tentu saja, tetap tak lupa untuk tetap mencari pendamping hidup yang tepat. Satu lagi, karena aku berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki harusnya memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai bidang, sangat tidak bijak bagi perempuan begitu selesai kuliah, langsung dipusingkan dengan mencari jodoh. Tidak adil untuk kemampuan dan otak yang (mungkin) cukup lumayan jika tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kalau lebih vulgar lagi, bisa dianalogikan begini, apakah setelah sekolah sekian lama dan selesai S1 lalu kita hanya duduk terpaku menanti pria yang akan melamar. Tidak kan?

Kalau soal laki-laki yang merasa “terancam” dengan perempuan yang memiliki prospek karir yang cemerlang, itu adalah permasalahan para pria itu sendiri. Sorry to say, menurut saya, tipe laki-laki seperti ini adalah mereka yang tidak mau berdampingan dengan perempuan hebat atau bahkan lebih hebat dari dirinya. Itu lebih kepada ego laki-laki, tidak ingin berada dibawah perempuan. Banyak tipe laki-laki seperti ini yang pernah aku temui di sekitarku. Pernah suatu kali, aku mengobrol via YM (lagi) dengan seorang teman lama (cowok) yang sudah tidak pernah bertemu denganku mungkin selama hampir 4 tahun lamanya. Obrolan yang awalnya saling bertanya kabar itu, lama-lama menyerempet ke masalah “perjodohan, pernikahan, dan segala tetek bengeknya”. Dari pembicaraan kami, dengan jelas kutangkap bahwa dia tidak akan menyukai/ memilih perempuan seperti aku. Itu karena aku bekerja, menyukai pekerjaanku (di perusahaan tambang dan di bidang comdev), dan terlihat bahwa aku memiliki ekspektasi dan optimisme untuk meningkatkan posisiku di masa yang akan datang. Dalam hati sempat kukatakan, well what do you expect? kalau begitu cari saja perempuan yang nganggur dan nunggu dilamar sana! Sebenarnya ini ungkapanku ini lebih kepada laki-laki secara umum yang memiliki perspektif seperti itu.

Menganggap perempuan bekerja dan sukses dalam pekerjaannya adalah ancaman dan bukan pilihan, adalah kesalahan pandangan laki-laki (sori, terus terang banget). Satu rahasia untuk para pria, sebagian besar wanita karir sangat mengerti kodratnya dan kewajibannya sebagai perempuan, istri dan ibu. Jadi, semua tergantung bagaimana para pria ini meyakinkan pasangannya bahwa keluarga adalah prioritas yang utama dan meyakinkan bahwa keadaan (finansial) akan tetap stabil meskipun sang perempuan tidak bekerja. Kalau sejak awal saja sudah tidak bisa memilih perempuan yang bekerja, itu berarti dia bukan orang yang tepat. Mungkin lebih tepat kalau dia ke laut saja :D

Mungkin ini sudah saatnya bagi kita untuk memulai perubahan, mulailah dari diri sendiri, untuk tidak menanyakan “kapan menikah?”. Biarkan orang2 memberitahu kita mengenai tanggal pernikahannya. Ini untuk menghindari kekhawatiran para perempuan, seperti temanku tadi. Terimakasih kalau Anda sudah setuju dengan ku. :)

Just a Random Day

2009 February 5
by evicipluk

This is just a random day,

A girl walking down the street, through the raining,
holding a blue umbrella.

The temperature is too cold recently,
as she has to wake up earlier to go to a place
that hopefully will be one of the ways to bring her to one of her dreams.

The road still a long way to go,
to wake up in the heavy raining and cold morning,
to catch a taxi to reach a bus station.
It is cold, very cold.

The girl is keep walking,
her eyes tell too many stories,
to many things happened,
most of them are unpredictable and unexpected,
but she’s too tired to complain.

Everything just keep happening,
nobody can stop it. Left her in the middle of nowhere.
This is the first time in her life, where she doesn’t really know where direction to go,
which door will be opened for her.

She just lost her soul mate,
and there is she, by herself with those complicated things happened at the same time.

Oh, no,
She’s not alone, she should be complete by her own.
Because this is the essential of being a human being.
Loosing a soul mate doesn’t necessarily mean that her soul is only a half.
No. She will learn and proceed to be the whole package of self.

By being the whole package, she will pursue her dreams,
she will go wherever her heart tells her to go.
She will be there for the people whom she loves and loves her back.
She will not be absent for those whom worth keeping.
By being complete on her own, she will be ready to love someone with all of her heart.
By being complete on her own, she will be ready for someone who will never tired of loving her, and never give up on her.
By being complete, she will get the whole package of life.

*Tadinya mau latihan writing untuk latihan IELST besok, tapi jadinya begini :D Pasti ga boleh nulis di IELTS begini*

The Sanctuary and Happy New Year

2008 December 31
by evicipluk

Saat ini hari Rabu, 31 Desember 2008. Aku masih di lantai 9 gedung ini, hanya bersama dua orang office boy yang asyik menonton TV di front desk. Sengaja kuminta mereka untuk tidak meninggalkanku. “Jangan tinggalkan aku” dan mereka mengiyakan sambil tertawa. Dua orang rekan kerja terakhir, Mas Izhar dan Pak Slamet sudah pulang lima menit yang lalu. Mereka sempat menakut-nakuti-ku karena aku satu-satunya employee yang tersisa dilantai ini. Pak Slamet bahkan menawariku untuk ikut pulang ke rumahnya, mendengar bahwa aku tidak punya rencana apa-apa untuk malam tahun baru ini. Apalagi setelah mendengar rencanaku untuk memasak ikan sarden kalengan sebagai makan malamku :D Nampaknya beliau sangat terharu :D

Setelah tiga tahun bekerja, sepertinya kantor menjadi tempat yang paling menyenangkan untuk menyepi. Di kantor bisa ngadem jika cuaca sedang panas-panasnya. Saat sedang bertengkar hebat dengan pacar, atau sedang putus, daripada berdiam diri di kamar dan menangis-nangis sebagai korban, aku lebih suka masuk kantor. Di kantor aku bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan, atau memanfaatkan fasilitas internet tanpa batas secara gratis.

Kantor memiliki fasilitas penunjang yang sempurna untuk mengobati hati yang patah dengan caranya sendiri. Ruangan yang dingin, akses internet, minuman kopi atau teh yang tersedia, sempurna sekali. Kadang keasyikanku ini juga dirasakan oleh orang-orang lain di kantor. Di ujung sana, biasanya seseorang juga sedang serius berkutat dengan layar monitornya, menikmati fokusnya sendiri, dan aku pun tak ingin mengganggu.

Baru saja, seorang teman menelponku dan mengajak bertemu di PIM malam ini. Kami mungkin akan bertemu dengan beberapa temanku yang lain. Kubilang belum tahu, apakah akan kesana atau tidak. Aku masih di Sudirman, dan perlu lebih dari satu jam untuk mencapai Cilandak. Let see, Kataku.

Jadi, Selamat Tahun Baru untuk Semuanya. Sebentar lagi aku akan pulang, mungkin bertemu teman-teman sebentar, dan malam ini, aku tidak ingin kehilangan waktu tidurku.

Selamat Tahun Baru ya…. :D

The Haunted Office

2008 December 30
by evicipluk

Ini hari pertama aku masuk kantor setelah mengambil libur (bukan cuti resmi) selama satu minggu. Mengisi kembali tenaga jiwa yang sudah hampir habis di Jogja dan Tegal, sekembalinya ke Jakarta aku merasa penuh. Tapi di kantor, semuanya nyaris kosong. Hiruk pikuk kesibukan, semangat, hasrat untuk membangun proyek miliaran dollar yang dua bulan lalu masih terasa, saat ini tidak ada lagi. Betapa Tuhan Maha Kuasa, Dia bisa membalikan segala keadaan menjadi berbeda 180 derajat dengan mudah, semudah membalik telapak tangan. Rasanya tak pantas manusia itu menyombongkan diri di dunia ini. Sungguh tak pantas.

Tanggal 12 November 2008, project director proyek ini mengumpulkan kami untuk menyampaikan kabar yang sama sekali tidak terduga dan tidak bagus bagi siapapun yang bekerja di proyek ini. Bagi siapapun. Perusahan tempatku bekerja mengundurkan diri dari konsorsium proyek tambang Nikel yang tadinya akan menjadi salah satu proyek terbesar di Indonesia, yang sedang dalam masa studi dan eksplorasi. Setelah masa studi dan eksplorasi selama delapan tahun, perusahaan ini menyerah. Kalau ditanya apakah perusahaannya bangkrut? Jawabannya tidak sama sekali. Ini adalah perusahaan kelas dunia dengan nilai kapital yang sangat besar. Menutup proyek ini adalah sama seperti menutup salah satu cabang kecil yang setelah dipelajari tidak akan memberikan keuntungan. Dana yang selama ini dialirkan untuk memulai proyek ini, lebih baik digunakan untuk mendanai proyek lain yang lebih menjanjikan.

Kalau mau dianalisa alasannya, banyak sekali argumen yang berseliweran diantara kami sendiri. Mulai dari krisis finansial global yang membuat harga nikel dunia anjlog pada titik terendah sampai alasan politis. Nikel diperlukan sebagai salah satu material untuk stainless steell yang diperlukan pada kendaraan, alat-alat elektronik, dan konstruksi bangunan. Krisis ini membuat perusahaan otomotif Amerika kolaps, permintaan akan barang elektronik menurun, apalagi pembangunan konstruksi di segala penjuru dunia berhenti. Secara otomatis membuat permintaan dunia akan logam nikel sangat rendah, dan membuatnya menjadi sangat murah. Sementara itu, segala sumberdaya dan teknologi yang diperlukan untuk mengambil bijih nikel, sama sekali tidak menurun. Bahkan cenderung membengkak saat krisis ini. Ini adalah alasan paling teknis dan logis mengapa akhirnya kami mundur.

Alasan yang paling tidak menyenangkan adalah alasan politis. Kami sempat beropini bahwa perusahaan asing ini sudah “lelah” dan “menyerah” dengan pemerintah Indonesia. Ijin penambangan yang tak kunjung turun, kontrak karya yang tidak kunjung didapat, meskipun sudah mengirimkan surat permohonan resmi dan menghadap langsung dengan RI 1 agar proyek ini diijinkan untuk berjalan. Tahukah, bahwa Indonesia baru saja kehilangan kesempatan investasi senilai lebih dari 200 miliar dollar? Dan puluhan ribu kesempatan kerja di segala level, dari manager sampai tukang sapu? Mungkin tidak ada yang tahu. Sebagai informasi saja, jika presiden sempat mengkampanyekan agar para investor datang ke Indonesia, bahkan sampai ada pameran investasi, proses turun kebawah (birokrasi) sama sekali tidak semudah itu.

Isu lain adalah lingkungan. Ini memang sensitif sekali. Mungkin jika statusku masih sebagai mahasiswa Fisipol UGM yang idealis itu :D aku akan sama-sama teriak mengkritik perusahaan-perusahaan tambang yang tidak bertanggung jawab pada lingkungan itu. Mungkin idealismeku sudah jauh berkurang pada saat ini, tapi disini, aku melihat bahwa analisis mengenai dampak lingkungan benar-benar dilaksanakan dengan tanpa manipulasi. Kami menggunakan konsultan yang berisi para insinyur lingkungan, sosiologist, anthropoligist dan arkeolog dari ITB dan UI. Sebuah langkah yang mungkin hanya diambil oleh perusahaan-perusahaan skala besar yang menyadari pembangunan berkelanjutan. Aku belum tahu, apakah perusahaan Indonesia ada yang melakukan studi serupa sebelum memulai proyeknya. Mungkin saja ada satu atau dua :D

Proyek tutup berarti semuanya selesai. Karyawan tidak diperlukan lagi. Jadilah kami, teman-teman yang baru saja kukenal dan kuakrabi selama hampir tiga bulan, di PHK secara massal dalam beberapa periode. Kantor semakin sepi secara bertahap. Bagiku, ini seperti baru jadian selama tiga bulan, sedang cinta-cintanya, di puncak asmara, lalu diputuskan sepihak tanpa perasaan. Segala harapan akan bersama selamanya, akan tumbuh bersamamu, akan mencapai langit denganmu, semuanya kandas disini. (Jadi kali lain punya kekasih, hati-hati jikan akan mengatakannya). Kehilangan harapan itu jauh lebih menyakitkan dibanding ancaman kehilangan pekerjaan itu sendiri. Rasanya sama dengan patah hati.

Aku masih disini, karena perusahaan mengambil keputusan tetap meneruskan beberapa program pengembangan masyarakat yang sedang berjalan dan sudah dijanjikan pada masyarakat. Meski tidak sempat mengambil keuntungan dari proyek itu, ini adalah wujud tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Untukku, ini seperti roller coaster. Banyak yang bertanya, apakah aku menyesal meninggalkan kantor lamaku dan pindah kesini. Di kantor lama aku adalah karyawan permanen, sedangkan disini aku karyawan kontrak. Proyeknya tidak jadi pula. Untungnya aku tidak menyesal sama sekali. Mungkin ini yang aku butuhkan. Selama dua setengah tahun, hidupku sudah terlalu rata, dan datar. Itu membuatku jenuh dan hidupku monoton. Kejadian ini mungkin adalah warna yang kubutuhkan.

kelas bisnis

2008 December 18
by evicipluk

Mungkin tulisan ini tidak penting sama sekali, tapi mungkin ini bagus sebagai “appetizer” untuk bersemangat menulis lagi. Padahal banyak sekali kejadian yang sebenarnya ingin kutuliskan :D Biasalah, malas.

Seumur-umur, baru satu kali aku naik pesawat dengan kelas bisnis. Dari sejak pertama kali naik pesawat, yaitu pada semester enam kuliah, dari Jogja ke Jakarta dengan Batavia. Itu pun gratis, karena dibayarin perusahaan tempat aku mau magang. Setelah kerja, memang setiap traveling selalu pakai maskapai Garuda. Kecuali untuk rute-rute tertentu yang Garuda tidak punya penerbangan kesana. Maklum lah, namanya juga ke lokasi tambang. Kadang kita mesti pergi ke daerah antah-berantah. Dan di setiap penerbangan itu, aku selalu duduk di kelas ekonomi. Bahkan ketika sekali-kalinya dulu naik Korean Airlines, kursiku benar-benar mentok di belakang, di ekor pesawat. Hahahha :D

Nah, dua minggu yang lalu itulah, pertama kalinya seumur-umur duduk di kelas bisnis Garuda. Penerbangan dari Jakarta ke Manado, yang akan connect ke Sorong, Papua. Di tempat kerja baru-ku ini memang ada kebijakan, untuk penerbangan lebih dari dua jam, wajib menggunakan kelas bisnis. Ini untuk mencegah kelelahan, karena harus bekerja begitu tiba di lokasi. Jadilah aku bak orang kaya waktu itu :D Saking bersyukurnya, tak hentinya aku “wondering” dan bertanya pada Tuhan, Oh my God, benarkah ini? Kelihatan norak sekali bukan :mrgreen:

Tak usah heran, kenapa orang-orang kaya itu kadang sombong sekali. Aku yang memegang tiket kelas bisnis-pun tiba-tiba memiliki aura yang berbeda :twisted: Meskipun sadar, sok itu tidak baik, dan akan membuat Tuhan marah, dan mencabut semua nikmat yang telah diberikannya untuk kita. Hmm, ga mau kan ya?

Sejak check in, petugas terlihat lebih ramah daripada biasanya (atau perasaanku aja ya?), dan tagging untuk bagasiku jadi banyak sekali, selain nomor ada beberapa tagging lagi yang bertuliskan “executive class”, “priority”, dan “doorside”. Dan penumpang kelas bisnis Garuda, punya hak untuk menikmati executive lounge tanpa harus memiliki kartu kredit. Maklum, sampai sekarang aku belum punya kartu kredit. Ndesit kah? Biarin. Kalau biasanya aku duduk-duduk di luar, sambil baca atau memandangi orang-orang yang berlarian mau masuk gate. Pagi itu, aku bisa sarapan teh hangat dan lontong sayur! Selera ndeso-nya belum hilang, meskipun disana ada pancake, sereal, atau roti :mrgreen:

Ada perasaan tak enak begitu duduk di barisan kursi depan, ya kelas bisnis itu. Ga enak, karena rasanya orang-orang yang akan menuju kursi di belakang (kelas ekonomi) melihat ke arah kami. Hahaha, mungkin itu yang aku lakukan juga ketika melewati kelas bisnis :D

Selama perjalanan 2,5 jam, aku merasa bak raja. Pertama duduk ditawari minum jus, disodorkan koran dan majalah (dan boleh ambil lebih dari satu). Aku menghabiskan satu edisi Femina terbaru di penerbangan itu. Baguslah, tak perlu beli. Dan sang pramugari menyapa kita dengan menyebut nama; mbak Evi mau minum apa? Hahahahha. Tapi sebenarnya makanan diatas pesawat itu sama saja, plain. Cuma di kelas bisnis penyajiannya saja yang berbeda, menggunakan piring keramik, gelas keramik, dan wadah garam dan lada keramik pula. Bukan kertas atau sterofoam seperti biasanya.

Pengalaman yang menyenangkan, karena itu pertama kali pula aku ke Manado. Ternyata kata orang-orang itu benar. Penduduk Manado memiliki ras yang bagus (dalam arti kulit putih, mata cenderung sipit, dan wajah yang cantik/ tampan), karena nenek moyang mereka masih keturunan Portugis dan Belanda. Uniknya lagi, orang Manado sangat menyadari kelebihan fisik mereka ini. Sehingga mereka (khususnya perempuan) tidak segan untuk memamerkan kulitnya dengan mengenakan rok mini, dan baju you can see. Dan ini berlaku untuk hampir semua perempuan Manado. Mereka juga terlihat sangat percaya diri, tak kalah pede dengan orang-orang Jakarta kurasa.

Oya, meskipun Manado itu kota yang “cantik”, tetaplah berhati-hati layaknya bepergian kemanapun. Jangan makan di rumah makan sembarangan. Setidaknya lihatlah tempatnya, bersih atau tidak, ramai atau tidak. Kalau perlu mintalah rekomendari dari orang-orang setempat. Kalau tidak, akan mengalami hal yang sama denganku, yaitu terkena diare parah hingga dehidrasi karena makan di rumah makan di pinggir jalan…ugh… :twisted: